Ikan Asin

Ujang heran tiada henti atas kawannya yang dulu dikenalnya sudah berubah.

“Kok bisa ya?” tanyanya tanpa mengharap jawaban.

“Dulu, dia sangat alim, sering menginspirasi teman, sangat menjaga diri. Kok sekarang di balik jeruji karena terbukti korupsi,” lanjutnya.

“Gak usah heran Jang,” kata Firman kepada Ujang. “Yang tidak berubah hanya Tuhan,” lanjutnya sambil tangannya mengambil pisang goreng yang kelima dari Angringan Kang Ridwan.
“Padahal dulu dia sangat anti korupsi. Aktivisi demo. Wah … jan sulit dipercaya,” Ujang ngedumel setelah melihat tayangan TV yang memberitakan teman yang sangat dikaguminya itu.

“Kira-kira kenapa ya, Kang,” tanya Ujang ke Firman.

“Pernah ke WC Jang?”

“Lha apa hubungannya? Wah Kang Firman ini jorok. Saya sedang makan nih,” protes Ujang yang sedang melahapi ‘nasi kucing’ yang keduanya. Ujang sangat menikmati sambel dan ikan asin dalam bungkusan ‘nasi kucing’ itu. Firman tidak pedulikan protes Ujang.

“Kamu kalau ke WC, pasti hidungmu mengendus dan menghindari bau. Tapi ya kok bisa-bisanya betah berlama-lama?”

“Terus apa hubungannya?”

“Orang kalau masuk sistem yang brengsek, awalnya merasa tidak nyaman. Tapi lama-lama dia akan menikmati. Atau paling tidak menganggap yang brengsek menjadi baik-baik saja.”

“Betul juga ya Kang.”

“Cuma saya masih heran, apa sebabnya ya kok dia begitu mudah menyerah, terpengaruh.”

“Wah gampang saja Jang. Kentut tuh cepat menyebar. Kejahatan itu seperti kentutmu itu. Bau dan mudah menyebar,” ucap Firman sambil mengerdip ke Ujang dan terbawa. Ujang ikut tertawa.

Ujang masih terlihat gelisah dan penasarannya tidak terjawab. Ingatannya kembali kepada masa ketika dia dan kawannya menghabisnya banyak malam bersama, berdiskusi masalah rakyat dan bangsa, mendesain demonstrasi dengan elemen mahasiswa lainnya. Kawan Ujang seringkali menjadi “provokator” demonstrasi. Dia orator ulung. Logika bersih dan mudah diikuti. Perilakunya menjadi contoh.

“But why, why, why?” tanyanya setengah berteriak karena tidal rela kawannya menjadi terpidana.

“Tahun ikan asin Jang,” celetuk Firman tiba-tiba.

“Apa lagi ini Kang. Tadi WC, kentut, sekarang ikan asin.”

“Kamu tahu kan Jang. Laut itu asin. Tapi mengapa ikan di lain tidak terasa asin kalau kita makan?”

“Betul Kang!”

“Karena ikannya masih hidup. Asinnya air laut tidak bisa merasuki tubuh ikan yang masih hidup. Tetapi kalau ikan sudah mati. Maka garam akan mudah mengasinkan ikan tersebut. Kawanmu itu sudah mati. Hati nuraninya sudah mati. Asinnya praktik jahat yang mengelilinginya mudah merasukinya,” jelas Firman bak seorang filosof.

“Kalau tidak mau kerasukan asinnya praktik jahat. Ya jangan matikan itu hati nuranimu.”

“Oooo.”

“Jang, ikan asinmu digondol kucing tuh,” teriak Firman ke Ujang yang keasyikan sehingga kucing yang sudah lama menunggu di bawah bangku berhasil mencuri ikan asin Ujang.

“Kucing kurang ajar!”

Tawa pun pecah di Angkringan Kang Ridwan yang berada di ujung jalan dekat persawahan itu.

Yogyakarta, 23 September 2011

*Kisah ini fiktif belaka. Kesamaan nama dan tempat hanya kebetulan.

1 comment
  1. endromustofa said:

    Setuju dengan si Firman dan kuncinya adalah “HATI” alias QOLB ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: