Kita hanya hidup di hati orang lain

Demikian kata yang diucapkan penggali kuburan ketika Liz Murray menunggu jenazah ibunya yang akan dikuburkan. Semangat hidup Liz nampaknya sejalan dengan moral dari ucapan singkat tersebut. Liz yang mengalami kehidupan pahit ketika masih anak dan remaja, berhasil mengalahkan keterbatasannya sampai dapat berkuliah di Harvard. Bayangkan saya, dia dilahirkan dari orangtua yang meski sangat menyayanginya, keduanya adalah pecandu narkotika dan pemabuk. Ibunya meninggal ketika Liz berumur 15 tahun, dan menjadikannya homeless.

Kesadarannya akan masa depan yang muncul ketika dia beranjak remaja, dan semangatnya yang yang luar biasa telah memacunya kembali bersekolah dan menyelesaikan SMA hanya dalam dua tahun. Sebelum lulus SMA, dia memenangkan beasiswa dari New York Times untuk kuliah di Harvard.

Kisah inspirasional ini difilmkan dengan judul “Homeless to Harvard: The Liz Murray Story”. Film luar biasa ini, hari ini (13 Oktober 2011) diputar di FOX Family Movie.

Nampaknya, kita yang sebagian besar lebih beruntung dari Liz, harus malu pada diri sendiri jika masih bermalas-malasan dan tidak serius mengerjakan sesuatu. Liz sangat sadar, bahwa ketika orang sudah meninggal yang diingat adalah kenangan ketika berinteraksi dengan orang lain, manfaat yang kita berikan, kebaikan yang kita tebar dan semai. Hanya itu yang akan hidup di hati orang lain, seperti kasih sayang ibunya Liz yang masih berada di hati Liz Murray.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: