You are a good friend

Udara Yogyakarta sangat menyengat siang itu. Mendung cukup pekat menggelayut sejak pagi. Tak berbeda suasana Lekker Je…! Cafe di salah satu pojok jalan dekat kampus UGM. Alunan musik lembut Bridge Over Troubled Water dari Simon dan Garfunkel tidak sedikitpun mendinginkan suhu yang panas.

When you’re weary, feeling small
When tears are in your eyes, I will dry them all
I’m on your side, when times get rough
And friends just can’t be found
Like a bridge over troubled water
I will lay me down
Like a bridge over troubled water
I will lay me down

***

Ucok dan seorang perempuan sedang asyik mengobrol di salah satu sudut cafe. Kadang terlihat serius, tak jarang ada tawa menyelinginya. Bagi banyak orang sulit menebak hubungan antara keduanya. Pacaran? Berteman? Atau yang lain?

***

Perempuan manis berjilbab itu bernama Annie. Di usianya yang sudah mendekati 40 tahun, Annie masih terlihat 10 tahun lebih muda. Ya, Annie adalah teman SMA Ucok yang bekerja di sebuah perusahaan multinasional di Singapura. Pekan ini, Annie sedang dikirim oleh perusahaannya untuk menjajagi kerjasama dengan perusahaan lokal di Yogyakarta. Yogyakarta dan seluk beluknya tidak asing bagi Annie yang pernah menghabiskan waktu tiga tahun selama SMA.

Siang sebelum kepulangannya ke Singapura, dia sempatkan menelepon Ucok. Takdir mempertemukan mereka.

***

Lekker Je…! Cafe adalah pilihan tempat mereka untuk bertemu. Mereka tampak akrab. Padahal sudah lebih dari 15 tahun tidak bertemu. Kontak keduanya terjalin kembali lewat Facebook beberapa tahun lalu. Itu pun sangat jarang.

Ucok sudah menikah dan dikaruniai seorang anak laki-laki yang sudah mulai ABG. Istri Ucok sangat cantik. Singkatnya, Ucok mempunyai keluarga yang sempurna. Annie tidak berbeda. Sehabis menyelesaikan S1 di Nanyang Technological University, Annie menikah dengan seorang pengusaha Singaporean. Annie sudah mempunyai dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Keduanya sudah menginjak remaja. Annie juga sangat ’eman’ dengan keluarganya.

Obrolan itulah yang membuka pertemuan Annie dan Ucok. Memang mereka pernah pacaran sewaktu SMA. Cinta monyet, kata banyak orang. Takdir telah membimbing mereka menemukan jodohnya masing-masing. Dan, mereka mensyukurinya. Tidak ada yang perlu disesali dalam hidup. Mereka sepakat untuk hal ini. Masa lalu adalah bagian dari halaman sejarah yang menuntun ke masa kini.

Meski bekas pacar, tidak terlihat bahwa mereka tidak ingin bernostalgia dengan cinta monyet mereka. Ucok pun sangat berhati-hati dalam memilih kata.”Bu Annie masih terlihat muda dan cantik…”, kata Ucok hanya dalam batin. Pujian tulus, tetapi Ucok sadar betul, kalau diucapkan bisa membuat masalah.

“Pak, kamu ingat waktu kita SMA?”, tanya Annie.

“Wah, sudah lupa je, Bu. Lagian untuk apa diingat-ingat. Bisa bahaya”, jawab Ucok sambil tersenyum. Logat Ucok sudah tidak lagi mengindikasikan asalnya, meski berasal dari Batak, saat ini Ucok lebih suka batik.🙂

Annie pun meneruskan,”Pak, kamu tidak seperti kebanyakan laki-laki”. Panggilan Pak nampaknya juga mengindikasikan bagaimana mereka saling menghargai.

“Maksudnya?”

Annie pun menjelaskan. Annie menceritakan beragam kisah rekan kerjanya di kantor. Sesekali Annie membetulkan kerah baju merah-marunnya atau jilbab warna senada yang sudah dalam posisi betul. Tawa kecil pun mengiringinya. Entah mentertawakan diri sendiri atau kisah rekan kerjanya, tak ada yang tahu.

Selama mengobrol, kadang mata mereka saling menatap. Namun keduanya, seakan menghindarinya.

“Ya kalau kita mau macam-macam, terlalu mahal harga yang harus dibayar, Bu. Dan, banyak orang lupa, mereka telah berinvestasi banyak dalam membangun keluarga”, komentar Ucok.

Mereka mendiskusikan banyak rekan kerja yang tidak bisa menjaga kepercayaan keluarganya. Bagi mereka, pertemuan ini hanya untuk berbagi cerita, atau curhat, kata ABG masakini. Tidak lebih. Banyak hal lain yang mereka diskusikan, yang tidak mungkin dilakukan ketika mereka masih SMA. Kadang mereka saling menasehati atau sekedar saling mengetahui pendapat masing-masing untuk sebuah masalah. Pengalaman hidup telah mematangkan mereka.

***

“Aku balik besok sore”, kata Annie ketika mereka mau berpisah.

Mereka pun bersalaman. Mata mereka berpandangan sebentar, sambil tersenyum. Ucok menyentuh ringan jilbab yang menutupi dahi Annie dengan telapak  tanggannya. Salam mengakhiri perjumpaan mereka.

***

Ding.

Blackberry Annie berbunyi ketika berada di ruang tunggu bandara. Ada pesan pendek masuk, dan terbaca:

“Bu, you are a good friend, and I will keep it that way. You have a wonderful family. Enjoy every single moment with them. Please convey my regards to your family. Have a safe trip back to Singapore. Take care, Bu. See you sometime … somehow in the future.”

Annie tersenyum. Dibalasnya pesan pendek tersebut:

“Thanks Pak, for being my friend!😉 Send my regards to your lovely family.”

Di kejauhan terdengar lagu pengiring sinetron Keluarga Cemara yang ditayangkan sebuah stasiun TV,

Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga

Lekker Je…! Cafe, 25 November 2012

– Ditulis di ponsel sambil menikmati jus jambu dan pisang coklat ketika menunggu istri dan anak gadis yang sedang potong rambut dan creambath.😉
– Cerita ini fiktif, terinspirasi dua orang yang sedang asyik ngobrol di salah satu sudut cafe. Kesamaan nama dan tempat hanya kebetulan belaka.

– Cerpen lain bisa dilirik di: https://fathulwahid.wordpress.com/category/cerpen/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: