Kalender Desa

Hujan baru saja reda. Angkringan Kang Ridwan kembali ramai dikerubuti pengunjung bak laron di depan lampu.

“Gimana kabarmu Jang?” sapa Toni kepada Ujang yang sudah hampir seminggu mereka tidak bertemu.

“Baik Bang.”

“Jang, saya dengar kemarin ada rame-rame di Balai Desa. Ada apa Jang?” tanya Toni kepada Ujang. Ujang sudah belasan tahun mengabdikan dirinya menjadi pegawai di Balai Desa.

“Sedih saya Bang.”

“Memang ada apa?”

“Masak masalah tiap tahun sama. Ngributin kalender desa yang salah ketik. Kapan majunya desa kita ini. Eh, ada yang kurang kerjaan nulis di surat pembaca koran. Apa tidak ada yang lebih penting?”

“Terus?”

“Ya, gimana desa kita mau maju. Desa lain sudah mengembangkan program one village one product. Desa sebelah sudah mengembangkan wisata desa. Jalan-jalan kampung juga sudah beraspal semuanya. Banyak turis datang. Lha desa kita?”

Ujang berhenti tidak melanjutkan. Tangannya meraih kopi jos yang barusan dipesannya dari Kang Ridwan.

“Sabar Jang!” sahut Toni.

“Desa sebelah memang kepala desa dan warganya lebih akur. Warganya mau bekerja membantu program-program desa. Tidak asal komplain. Kepala desanya juga memperhatikan aspirasi warganya. Tapi kalau kepala desa dan warga sudah sulit dialog, ya beginilah, kayak desa kita.” papar Toni panjang lebar.

“Betul Bang. Di sini banyak program yang diusulkan warga juga Bang. Ya, hanya saja, hanya usul, gak mau macul Bang. Maunya protes dan komplain saja.”

“Kalau seperti itu, akeh tunggale Jang!”

“Jang, memang yang salah ketik di kalender apa to? Kong kayak ada bulan ketiga belas.”

“Ada beberapa sih Bang. Salah satunya tanggal 17 Agustus yang lupa dimerahin. Cuma ya kan bisa langsung ke Balai Desa, kasih tahu salahnya, atau syukur-syukur, sambil bilang, tahun depan saya akan bantu koreksi. Gak usahlah ditulis di surat pembaca. Kurang kerjaan saja.”

“Memang yang nulis di surat pembaca siapa Jang?” tanya Toni penasaran sambil menyahut pisang goreng yang ketiga.

“Pakde Nok Bang!”

“Lah! Bukannya Pakde selama ini tidak pernah ikut acara tirakatan tujuhbelasan. Ronda gak pernah nongol. Kerja bakti juga selalu absen dengan banyak alasan. Pernah nongol sekali, gayanya bossy, ngebos. Wah jan, aneh!”

“Itulah Bang!”

“Ya, inilah desa kita Jang. Ya kita-kitalah yang mulai Jang. Besok kerja bakti ya Jang.”

“Wah Bang, saya ada acara je.”

“Nah, kau itu Jang, gimana mau maju desa kita, kalau semua orang banyak alasan seperti kau itu!”

“Hehehe, bercanda Bang! Siap Bang!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: