Sang Pelukis

Dia tidak seperti gadis desa sebayanya. Bukan hanya karena dia sangat tomboy. Dia juga mempunyai cita-cita yang sangat aneh menurut ukuran orang desa tempat dia menghabiskan masa kecilnya. Cita-citanya adalah menjadi pelukis. Iya, Kartika, nama gadis yang sangat periang itu ingin menjadi pelukis terkenal.

Sejak SD, bahkan TK, tiada hari terlewatkan tanpa coretan tangan halusnya yang lincah di beragam media. Kanvas kalau ada. Jika tidak ada, lembaran kertas bukunya pun jadi. Bahkan kertas yang tererak di kelasnya kadang dijadikan media. Jangan heran, ketika membuka buku pelajarannya. Bak cerita bergambar. Keceriaan muncul dari deretan rumus buku matematikanya. Warna-warni muncul di buku sejarahnya. Kartika memang spesial.

Orangtua Kartika mengetahui persis bakat anaknya ini.

“Bunda, aku mau jadi pelukis terkenal jika sudah besar,” jawab Kartika ketika Sang Bunda menanyakan cita-citanya.

Ketika duduk di kelas 3 SD, Sang Bunda memasukkan Kartika ke sanggar lukis di kota kabupaten. Sang Bunda dengan senang hati, setiap Sabtu memboncengkan anak kesayangannya dengan sepeda motor. Butuh sekitar 30 menit untuk menjangkau sanggar lukis yang berada di dekan stadion sepak bola itu. Maklum di desa Kartika, tidak ada kursus melukis.

Kartika pun menikmati bertemu dengan kawan-kawan barunya. Kartika pun menikmati arahan dari guru lukisnya. Sampai suatu saat …

“Kartika, langit tuh tidak ada yang berwarna merah. Tuh lihat di luar, semuanya biru kan?” komentar guru lukis ketika Kartika memberi warna merah untuk langit dalam lukisannya.

Padahal selama ini tidak ada yang melarang Kartika dalam menentukan warna. Dan, merah adalah warna kesukaan Kartika.

“Kenapa cemberut Nduk?” tanya Sang Bunda ketika menjemput Kartika.

“Masak Kartika dilarang mewarnai langit dengan warna merah. Sebel aku.”

“Memang harusnya warna apa, kata Pak Guru?”

“Biru. Tapi kan mbosenin Bunda. Masak selalu biru.”

“Iya, ya,” jawab Sang Bunda supaya Kartika tenang.

Hari berganti. Sabtu pagi Sang Bunda melihat gelagat yang tidak biasa. Kartika tidak sesumringah biasanya. Sang Bunda memperhatikan dan menahan diri untuk tidak berkomentar. Jam dinding menunjukkan pukul 14 siang. Biasanya Kartika sudah bersiap-siap untuk berangkat kursus melukis. Tapi tidak untuk kali ini. Dia masih asyik dengan lukisan taman bermain yang sudah dimulainya sejak pagi. Sang Bunda memperhatikan. Betul. Langitnya diberi warna merah.

“Nduk, jadi berangkat kursus ndak?” tanya Sang Bunda.

“Ndak tahu.”

Jawaban yang tidak biasa. Sang Bunda pun sudah memahami maksudnya. Diambilnya telpon untuk menghubungi guru lukis.

“Kartika hari ini pamit,” kata Sang Bunda di telpon.

Pekan depannya, cerita berulang. Sang Bunda akhirnya memutuskan untuk tidak meneruskan kursus Kartika.

Namun Kartika tetaplah gadis desa yang spesial. Ketika kursus berhenti, dia pun tetap produktif. Tembok rumah sudah tidak menyisakan tempat untuk menempel lukisannya. Semua tamu yang datang ke rumahnya memuji lukisannya.

***

Tak terasa waktu serasa terbang. Kartika sudah menginjak kelas 5 SD. Cita-cita menjadi pelukis hebat tidak pernah dia lupakan sehari pun.

“Nduk, kamu mau kursus melukis lagi?”

“Mau Bun, tapi jangan di yang dulu ya. Kartika tidak suka.”

“Ya, ndak lah. Ada tempat kursus baru. Kata teman Bunda bagus.”

Seperti sebelumnya, Kartika pun sangat bersemangat mengikuti kursus melukis.

“Kartika, kalau mewarnai tuh dari yang paling jauh dulu,” kata Bu Guru lukis, ketika melihat Kartika sangat menikmati membuat detil batang pohon yang berada di ‘depan’ luisannya.

Kartika pun merasa tidak senang, ketika keasyikannya terusik. Padahal selama ini dengan teknik yang dia kembangkan sendiri, puluhan lukisan sudah diselesaikannya. Cerita sedih kembali terulang. Kartika keluar dari sanggar keduanya. Tapi jangan bayangkan Kartika berhenti melukis. Karyanya semakin matang di usianya yang masih belia.

***

Saat ini usia Kartika sudah 22 tahun. Sudah duduk di bangku kuliah tahun terakhir. Sudah puluhan pameran lukisan yang diikutinya. Lukisannya sudah dikoleksi oleh para penggemar lukisan, baik dari mancanegara maupun dalam negeri. Di usianya yang masih belia, namanya bahkan sudah disejajarkan dengan pelukis terkenal di Indonesia, seperti Raden Saleh, Affandi, Basoeki Abdullah, dan Barli.

Jalan terjal telah dilalui Kartika. Hanya semangat dan kegigihan Kartika yang mengantarkannya pada cita-cita yang diimpikannya sejak kelas 3 SD. Sejak keluar dari sanggar lukisnya yang kedua ketika duduk di kelas 5 SD, Kartika telah keluar masuk sanggar sebanyak tiga kali. Di sanggar kelima yang terakhir inilah, Kartika merasa cocok. Kreativitasnya dihargai. Tidak ada larangan dalam proses berkesenian. Semuanya terasa begitu mengasyikkan bagi kartika. Kartika belajar di sanggar ini ketika kelas 3 SMA.

Kini Kartika sudah membuka sanggarnya sendiri. Filosofi melukisnya diterapkan di sanggarnya ini. Dia tidak ingin pengalaman pahit di empat sanggar yang pernah dimasukinya menimpa anak didiknya. Dalam berkesenian sudah seharusnya seseorang melepaskan diri dari batas-batas imajiner yang sengaja ciptakan. Tembus batas-batas itu.

***

“Ladies and gentlemen, please welcome Kartika!” kata MC ketika mempersilakannya untuk memberikan sambutan.

Ya, Kartika sedang mengadakan pameran lukisan tunggalnya di Paris. Di dekat Museum Lovre yang sangat terkenal itu.

Senyum pun mengawalinya dalam memberikan sambutan. Dia akan gunakan bahasa setempat, bahasa Perancis. Ya, dia adalah sarjana bahasa Perancis.

“Mesdames et messieurs, bonjour!”

Kristiansand, 9 Maret 2012

*Cerita ini fiktif belaka. Cerpen lainnya dapat dilirik di sini: https://fathulwahid.wordpress.com/category/cerpen/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: