Perempuan itu Bernama Eletrra

“Hi, may I join you,” sapa seorang perempuan dengan ramah kepada Firman.

“Yes, … please,” sahut Firman agak kaget.

Firman sedang menikmati liburannya di London. Sore itu dia sedang menikmati suasana musim semi di sebuah kafe di dekat Notting Hill Gate Tube Station. Suhu lumayan hangat. Termometer digital di luar kafe menunjukkan angka 10 derajat Celcius.

Matahari masih terlihat dengan sinar yang cukup lembut. Pohon-pohon kembali menghijau. Burung pun sudah mulai kembali dari migrasinya. Firman tidak tahu dari mana perempuan tersebut berasal sebelum menyapanya. Lalu-lalang pejalan kaki di dekatnya lebih menarik perhatiannya.

Pelayan menghampiri meja Firman, dan menanyakan pesanan perempuan tadi.

“Please give me the same one as he ordered,” katanya sambil menunjuk secangkir latte coffee di depan Firman. Firman tersenyum.

“Aneh ini orang,” kata Firman dalam hati.

“Where do you come from?,” tanya perempuan yang wajahnya sangat manis tersebut kepada Firman.

“Pasti Tuhan menggunakan waktu yang lebih lama untuk menciptakan dia,” kata Firman dalam hati.

“Mmm, I am from Indonesia,” jawab Firman agak grogi.

“Are you alone?” tanya Firman.

“As you can see.”

“And, you are from …,”

“Italy. From a beautiful city named Venice,” jawab perempuan tadi sambil tersenyum.

Firman diberitahu nama perempuan tersebut: Elettra.

“A beautiful name,” komentar Firman. “It means bright and shining, doesn’t it?”

“Yes. You are brilliant!” sahut Elettra sambil tertawa.

Mereka pun terlibat pembicaraan yang menarik, meskipun agak kaku di awal. Sesekali terdengar tawa kecil mereka berdua. Seakan mereka sudah kenal sangat lama. Elettra bercerita bahwa dia sudah lumayan lama tinggal di pinggiran London. Sudah lima tahun. Dia datang dari Venice ketika sudah menyelesaikan masternya di bidang pemasaran. Dia sekarang bekerja sebagai konsultan pemasaran di London. Elettra juga menceritakan pengalaman lucunya ketika bekerja dengan beragam klien. Perjuangannya selama lima tahun di London juga menjadi cerita menarik untuk didengar.

“So sad that you only have one week here,” sahut Alettra ketika mengetahui bahwa Firman hanya mempunyai waktu liburan satu minggu. Jarum jam menunjukkan pukul 6 sore. Tak terasa matahari sudah mulai redup. Angin mulai bertiap sedikit kencang namun tidak mengurangi kehangatan musim semi itu.

“This is my business card.” Elettra menyerahkan kartu namanya ke Firman.

“Just contact me if I can lend a hand in London.”

“Anyway, do you have any appointments tomorrow afternoon around 4 o’clock?” tanya Eletrra.

“We can have a cup of coffee again here if you will.”

“Sure,” jawab Firman dengat kaget. “That will be great. I will be here at 4 tomorrow evening.”

Mereka pun berpisah. Firman belum hapir pikir apa yang baru saja di alaminya. Eletrra sangat ramah. Obrolannya, orangnya jauh dari kesan murahan. Bahkan terkesan sanggat anggun, tetapi jauh dari kesan sombong.

“Mungkin dia hanya butuh teman ngobrol,” batin Firman.

***

Tepat jam 4 sore hari berikutnya mereka pun bertemu di kafe yang sama. Bahkan meja yang sama. Seperti sehari sebelumnya, pembicaraan pun mengalir begitu saja. Tanpa basa-basi. Semuanya topik bisa menjadi bahan pembicaraan mereka. Mulai dari berita aktual, teori ekonomi, sampai dengan filsafat. Ya, Eletrra ternyata mengambil bachelor di bidang filsafat. Nama-nama filsuf besar dunia pun muncul dalam pembicaraan mereka. Meski berbobot, mereka mengemaskan secara ringan. Konsep tiga dunia dari Popper, misalnya, mereka gunakan untuk mendiskusikan banyak hal. Konsep fenomenologi dan hermeneutik dari Heidegger dan Gadamer, mereka sulap menjadi sangat ringan dan menarik. Cerita-cerita filosofis Zen pun menghiasi pembicaraan mereka.

Tawa pun tidak jarang pecah ketika mereka saling mengolok satu sama lain. Mereka berdua terlihat sangat menikmati pembicaraan yang sebetulnya tidak jelas arahnya tersebut, karena saking variatifnya topik pembicaraan mereka.

Percaya atau tidak. Mereka menghabiskan empat sore bersama di kafe tersebut. Di meja yang sama!!

“I’ll go back to Indonesia tomorrow,” kata Firman menjelang perpisahan pada hari keempat.

“It’s so sad, that you should leave tomorrow. Anyway, you have no choices.” Eletrra tersenyum.

“Thank you for spending time with me and for the inspiring conversations we had.”

“Good luck in your future endeavors,” kata Firman mengakhiri pertemuan.

Firman merasa ada yang aneh dalam dirinya. Selama ini dia terlibat pertemuan dengan beragam orang, tetapi belum pernah mendapat apresiasi yang begitu tulus seperti yang didapatkannya dari Eletrra. Mereka bukan teman empat hari yang lalu. Namun, sore ini mereka seakan-akan telah berkenalan sangat lama dan saling mengenal dengan baik. Perpisahan terasa sangat berat. Aneh.

***

Di ruang tunggu bandara Heathrow, Firman masih memikirkan Eletrra. Perempuan itu terlihat sangat spesial. Firman lebih suka menggunakan kata ‘perempuan’ dibandingkan dengan gadis yang terkesan ABG. Firman tidak mengetahui apa yang membuatnya spesial. Yang jelas bukan karena hal-hal murahan yang selama ini menjadikan banyak orang dekat dalam waktu singkat, dan putus hubungan karena alasan yang tidak jelas.

Wajahnya? Mmm, mungkin, tetapi cenderung tidak. Meski cantik, banyak perempuan dengan wajah seperti yang dimiliki Eletrra, tetapi Firman tidak merasa terkesan.

Tutur katanya yang lembut? Mmm, sulit mengatakannya. Nampaknya tidak. Suaranya mengingatkan Firman kepada Rachael Ray, pembaca acara yang terkenal itu. Bahkan kadang suara tawanya terdengar sampai ‘RT’ sebelah. Tertawa lepas yang sangat ikhlas, kata teman Firman di pondok pesantren.

Cinta? Seperti dalam roman picisan? 100% tidak. Kesimpulan yang sangat murahan dan sembrono. Firman sudah cukup pengalaman untuk mengetahuinya. Cinta seperti itu bagi Firman sangat sederhana dan tidak memerlukan kecerdasan tingkat tinggi. Dialog Forrest Gump dalam film ketika meninggalkan pacarnya masih terekam jelas di otak Firman. “I know, I am not a smart man. But, I know what love is,” kata Forrest Gump yang diperankan oleh Tom Hanks saat itu.

Keanggunannya? Kecerdasannya? Keluasan pengetahuannya? Sebentar. Atau, mungkin cinta, tapi dalam terminologi Plato. Atau cinta dalam puisinya Rumi. Cinta yang tidak melibatkan hasrat. Bukan cinta dalam bahasanya Sigmund Freud. Bukan cinta recehan, tetapi cinta yang tetap memberikan kebebasan. Bukahkah kata orang Perancis, l’amour est l’enfant de la liberte, cinta adalah anak kandung kebebasan.

Entahlah.

***

“Perhatian, perhatian! Boarding penerbangan SQ 319 dari Heathrow menuju Singapura akan dilaksanakan sebentar lagi. Untuk kelancaran proses boarding, penumpang diharapkan menyiapkan paspor dan tiket.” Pengumuman boarding (tentu dalam bahasa Inggris) menyadarkan Firman dari lamunannya. Ya, Firman harus terbang ke Changi dulu sebelum melanjutkan ke Jakarta.

“Eletrra, Eletrra” gumam Firman sambil tersenyum, memasuki pintu pesawat.

Kristiansand, 12 Maret 2012

*Cerita ini fiktif. Kesamaan nama orang dan tempat hanya kebetulan belaka.

Ops! Ingin membaca cerpen yang lain? Sila lirik di sini: https://fathulwahid.wordpress.com/category/cerpen/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: