Legitimasi akademik

Apa yang membuat seseorang mempunyai legitimasi akademik, dianggap merasa berhak berbicara tentang sesuatu hal dari kacamata akademik? Jenjang pendidikan, kepakaran dalam bidang tertentu karena penelitian yang dilakukan, kedekatan dengan birokrasi, pengalamannya, lembaga tempat afiliasinya, atau kepandaiannya dalam membangun citra? Anda bisa menambahkan alternatif jawaban.

Pertanyaan lanjutannya? Apakah ada rumus atau norma umum yang berlaku di semua negara, di semua disiplin, ataukah sangat spesifik dan kontekstual? 

Pertanyaan-pertanyaan menggelitik di atas seringkali muncul ketika saya berdiskusi atau tepatnya ngobrol dengan banyak kolega dari Indonesia dari beragam latar belakang disiplin. Banyak komentar yang muncul dalam obrolan tersebut.

“Eh, masak Pak Itu kok berbicara tentang A di seminar. Padahal dia tidak pernah penelitian di bidang itu?” Atau, “Masak dia muncul si beragam seminar, sebagai pembicara kunci. Padahal yang dia sampaikan hanya kumpulan ide orang lain dan tidak ada yang merupakan pengalaman atau hasil penelitiannya sendiri.” Atau, “Masak sih, dia bisa berbicara dalam semua topik. Kayak politisi.” Seorang kolega yang merupakan redaktur sebuah surat kabar mengatakan, “Tulisan Pak A ya tidak saya muat. Dia kan latar belakangnya bukan dalam bidang itu [topik tulisan yang dikirim ke surat kabar tersebut].” Masih banyak komentar lain yang pernah saya dengar. Komentar ini semuanya terkait dengan legitimasi akademik.

Diakui atau tidak, jika kita amati, ada perbedaan yang cukup mencolok dalam praktik ini di banyak negara dan di Indonesia. Di Indonesia, nampaknya legitimasi akademik tidak melulu terkait dengan latar belakang akademik, ada faktor lain yang perlukan, atau bahkan dibudayakan. Dan, sangat mungkin, tradisi di satu komunitas disiplin juga berbeda dengan komunitas lainnya.

Ini tentu tidak serta merta berkaitan dengan tradisi yang benar atau salah. Legitimasi menurut teori bisa berasal dari otorisasi (authorization) dari orang atau organisasi yang lebih atas atau dukungan (endorsement) dari sejawat. Tanpa kedua hal ini, nampaknya legitimasi sulit didapatkan. Bagaimana kedua hal ini berpengaruh dalam membentuk legitimasi akademik seseorang di Indonesia?

Bagaimana pendapat Anda? Bagaimana menjelaskan fenomena ini? Ataukah praktik ini sesuatu yang taken for granted alias “ya sudah, kita terima apa adanya” ataukan bisa kita kritisi?

Kristiansand, 18 Maret 2012

*Terinspirasi oleh pidato pengukuhan Guru Besar Prof. Heru Nugroho dari Fisipol UGM beberapa waktu lalu yang bertajuk “Negara, Universitas dan Banalitas Intelektual: Sebuah Refleksi Kritis dari Dalam”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: