Sehari di Oslo yang Istimewa

Ini bukan cerpen fiktif, tetapi cerpen realitas. Tidak biasanya saya menuliskan cerita realitas dalam entri blog. Tetapi menunggu kereta api selama 3 jam di Olso terasa menjemukan tanpa aktivitas. Kebetulan, ada koneksi Internet nirkabel yang dibagi oleh sebuah restoran yang murah hati. Meski lambat, tapi lumayan. Masak gratisan mau cepat!

Perjalanan ke Oslo, seperti perjalanan saya sebelumnya bukan sesuatu yang luar biasa. Namun kali ini banyak cerita yang membuatnya luar biasa, terasa istimewa.

Saya belum membeli tiket kereta api sampai tengah malam, karena belum memutuskan untuk berangkat. Keinginan sudah ada sejak sore hari hari Selasa ketika surat undangan dari Brunel University masuk ke kotak surel saya. Surat undangan menghadiri konferensi ini sudah saya tunggu seminggu sebagai salah satu syarat mengurus visa. “Kamis atau Jum’at saya akan ke Oslo,” kata saya dalam hati, karena tidak ingin terburu-buru.

Ndilalah, setelah mengecek jadwal layanan biometric di Oslo, kok mereka hanya buka tiga hari selama sepekan, dan Rabu ini akan hari terakhir pekan ini. Itu pun hanya sampai jam 12. Pilihannya menjadi sangat ekstrim: berangkat ke Oslo hari Rabu dengan segala konsekuensinya atau hari Senin dengan risiko waktu untuk pemrosesan aplikasi tidak mencukupi. Kolega saya mendapatkan visa setelah enam pekan, karena proses pengambilan keputusan dilakukan di Stockholm, Swedia. Akibatnya, kolega saya tidak dapat menghandiri jadwal wawancara untuk posisi asistant professor. Untungnya, sekarang dia sudah mendapatkan gantinya dengan posisi yang sama di sebuah universitas di Korea Selatan!

Berangkat Rabu adalah pilihan saya. Dokumen yang belum rampung pun harus disiapkan. Jam 10 malam saya pun harus kembali ke kampus untuk mencetak beberapa dokumen, setelah menyelesaikan regitrasi online, membut janji online (yang kebetulan masih ada slot waktu kosong, jam 11.45, alias pengunjung terakhir yang dilayani), dan membayar semua biaya pengurusan yang ternyata tidak murah. Tiket kereta api pun saya pesan secara online dini hari. Lumayan olahraga malam jalan kaki sekitar 3 km. Dini hari saya sudah kembali ke rumah. Tidur pun harus ‘mikir’ karena takut bablas, karena saya harus berjalan kaki ke stasiun sekitar 4 km, karena bis pertama beroperasi jam 05.45 dan kereta api berangkat jam 05.25.

Inilah mengapa sehari di Oslo terasa istimewa.

Belum selesai.

Sesampai di stasiun, alhamdulillah masih ada waktu sekitar 15 menit. Saya gunakan untuk sholat sambil duduk di ruang tunggu. Ketika menuju kereta, dalam remang-remang saya lihat sesosok orang dengan profil dan gaya jalan yang nampaknya saya kenal. Kebetulan saya memasuki gerbong yang sama dengan dia.

Saya sapa dia dalam bahasa Norwegian, “Er du Odd Magne?”. Apakah kamu Odd Magne?

Dia jawab, “Ja”.

“Husker du meg?” Kamu ingat saya?

Sambil berpikir sejenak. Dia mengatakan, “Er du Fathul?” Kamu Fathul? Dia tersenyum.

Ya, Odd Magne adalah kawan sejelas saya 12 tahun lalu ketika mengambil master. Dia mahasiswa tertua di kelas, karena saat ini tidak harus “memilih mengundurkan diri dengan pesangon” ketika perusahaan migas tempat dia bekerja melakukan perampingan. Dia pun mengambil program master. Dia sekarang bekerja di PT KA-nya Norwegia.

Kami pun mengobrol mengulang memori masa lalu. Termasuk mengupdate kabar kawan-kawan sekelas. Banyak yang sudah membuka perusahaan konsultansi teknologi informasi di Norwegia. Namun ada kisah sedih. Salah seorang kawan harus menjadi sopir bis karena tidak bisa mendapatkan pekerjaan sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

Ini yang menjadikan perjalanan ke Oslo menjadi berbeda.

Belum selesai.

Kereta yang saya tumpangi sampai di stasiun National Theater Oslo pukul 10 pagi. Janji saya pukul 11.45. Masih lumayan lama. Jalan kaki adalah pilihan yang bagus untuk pagi hari yang cukup sejuk (sekitar 5 derajat) dan matahari belum menampakkan wajahnya. Saya ambil brosur peta Oslo di stasiun. Jalanan masih terasa sepi. Pelayan kafe di sekitar Aker Brygge masih sibuk menyiapkan meja-kursi dan menata aksesoris kafe, termasuk alas duduk hangat atau ‘selimut’ ketika angin kencang bertiup dari laut. Pusat pertokoan baru saja membuka pintunya.

Kantor untuk merekam data biometric saya sudah ketemu setelah berjalan sekitar 1 km. Saya pun menunggu setelah dipersilakan duduk oleh resepsionis. Jam masih menunjukkan pukul 10.45. Masih terlalu awal untuk janji pada 11.45. Lumayan menunggu satu jam. Tiba-tiba seorang petugas menghampiri saya. Saya dipersilahkan memasuki ruang pengambilan data biometric. Hanya kurang dari 15 menit semuanya kelar. Tinggal mengirimkan dokumen ke Swedia lewat pos tercatat.

Sambil berjalan menikmati udara pagi, saya mencari-cari kantor pos terdekat. Saya tanya beberapa orang, tidak satu pun yang tahu. Karena waktu masih longgor saya mampir ke pameran di Pusat Perdamaian di dekat Bygdoy, di dekat Aker Brygge. Tema pameran pekan ini adalah wanita-wanita hebat (‘sheroes’, bukan heroes) pemenang Nobel Perdamaian tahun 2011. Tiga wanita hebat ini berbagi hadiah. Mereka adalah Ellen Johnson Sirleaf (dari Liberia), Leymah Gbowee (dari Liberia), dan Tawakkol Karman (dari Yaman). Karman adalah penggerak revolusi di Yaman yang menggulingkan Presiden Yaman yang dianggapnya korup. Karman adalah wanita Arab atau muslim pertama yang mendapatkan Hadial Nobel perdamaian dan merupakan yang termuda sepanjang sejarah. Dia mendapatkannya ketika berusia 32 tahun! Sekitar 40 menit saya habiskan di pameran ini.

Ini yang menjadikan sehari di Oslo menjadi semakin istimewa.

Belum selesai.

Sambil jalan menuju pusat kota, saya kembali mencari kantor pos. Saya tanya lagi beberapa orang, tidak satupun yang mengetahuinya. Akhirnya saya lihat sebuah mobil pos berhenti. Sopirnya sedang mampir ke kios Narvesen, membeli hotdog. Nampaknya untuk sarapan paginya yang terlambat. Pasti dia tahu, karena dia akan pegawai pos. Betul. Dia tunjukkan arahnya ke kantor pos. Namun, akhirnya dia menawari saya.

“Ikut saja sama saya di mobil saya antar,” kata dia. Tawaran yang tidak pernah saya duga. Saya tidak tahu mengapa. Dia yang memang baik hati? Atau saya yang terlihat memelas? Atau orang yang baik hati bertemu dengan orang yang baik hati?🙂

Saya pun naik di sampingnya. Hanya dalam hitungan menit, saya pun sampai di kantor pos. Dokumen saya kirim dengan pos tercatat.

“Hvor lenge det vil ta?” tanya saya ke petugas pos. Berapa lama kiriman akan sampai ke Kedutaan Besar Inggris di Swedia.

“Circa tre-fire dager,” jawabnya. Kira-kira 3-4 hari.

Saya pun mengucapkan terima kasih. Misi sehari di Oslo telah tertunaikan. Ikhtiyar sudah dijalankan. Kini saatnya berdo’a dan menunggu.

Ini yang menjadikan sehari di Oslo menjadi benar-benar istimewa.

Oslo Central Station, 20 Maret 2012, jam 14.35

2 comments
  1. irahakim said:

    Sepertinya banyak berkah yang diberikan dalam satu hari yaa, Subhanallah🙂 dan semoga berkah lain menunggu dalam penantian..

  2. Cahya said:

    Ikut merasa senang😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: