Manajemen ‘pemadaman api’

Catatan ini terinspirasi status tembok Facebook seorang sahabat berikut (setelah saya samarkan konteksnya):

“Walah, masalah A belum beres, masalah B masih rumit, malah para ‘pegawai’ menuntut gaji yang layak. Piye nih? Cari inspirasi dulu ah, lagunya apa ya? Hiikkksss”

Api masalah berada di mana-mana. Api tersebut bisa muncul karena banyak hal, termasuk manajemen yang tidak efektif, perencanaan yang lemah, kegagalan mencari sumber api.

Manajemen model ‘pemadaman api’ (firefighting) ini sangat menyita waktu yang tidak jarang mengalihkan dari masalah pokok. Beragam ilustrasi bisa diberikan di sini. Yang selama ini muncul di media massa, sebagai rumor, isu pengalih perhatian, dan sebagainya adalah salah satunya. Kebakaran di satu tempat, dialihkan ke kebakaran di tempat lain. Jika waktu sudah habis untuk memadamkan api-api yang bertebaran di mana-mana tersebut, maka tidak ada cukup waktu lagi ‘membangun rumah’, ‘menumbuhkan keluarga’, dan ‘membahagiakan orang lain’. ‘Rumah’ menjadi berantakan, ‘anggota keluarga’ gontok-gontokan, dan banyak ‘orang lain’ yang semakin tidak menentu nasibnya.

Menariknya, orang-orang yang tidak senang dengan pemimpin/bos/majikan, karena alasan apapun, bisa dengan mudah mengalihkan perhatiannya dengan menciptakan api baru. Ini mirip dengan permainan petak umpet, ‘hide and seek’. Setiap sudah ketahuan, ngumpet lagi, dicari lagi, ketahuan lagi, dan seterusnya. Kapan selesainya? Ya, kalau sudah capek semuanya.🙂 Saya menbayangkan, orang-orang yang menciptakan api, sembunyi sambil tertawa cekikikan, karena telah berhasil ‘mengerjai’. Gotcha!

Perencanaan yang lemah juga bisa berakibat sama. Akhirnya apa yang terjadi, kebijakan cenderung bersifat reaktif, dan kadang terkesan impulsif. Sisi baiknya, semua ide bisa diakomodasi. Sisi buruknya, dampak aktivitas atau resultante bisa sangat minimal. Yakinlah, api akan selalu muncul, dengan pengalaman melawan api ini, seorang pemadam kebakaran menjadi pengalaman. Tapi pemadam kebakaran kan tugasnya memang itu. Itu loyalitas hidupnya. Tanpa secuil pun niat merendahkan sahabat dengan profesi mulianya sebagai pemadam kebakaran; pemimpin tugasnya berbeda. Kemunculan api harus diminimalkan dengan baik, dan tegas mana api yang menjadi tanggungjawabnya, dan mana yang tidak. Pemimpin harus memutuskan, “Iya, ada api di sana. Kita padamkan. Tetapi, masalah intinya bukan itu.” Atau, “Iya ada api di sana. Itu tanggung jawab tetangga. Kita dukung saja. Waktu dan energi kita yang terbatas lebih baik untuk yang ini.”

Masalah lain adalah kegagalan dalam mencari sumber api. Jika api muncul karena korek api yang dimainkan anak di rumah, solusinya ya simpan korek api dengan baik. Atau, jika anak sudah besar, beritahu dengan baik. Jika sumber api adalah hubungan arus pendek listrik, perbaiki instalasinya. Jangan hanya padamkan apinya tetapi tanpa mencari akar masalah. Jika korek api masih bertebaran dan instalasi kabel listrik belum diperbaiki, api akan muncul lagi. Dijamin!

Lalu, akar masalah terkait status sahabat di atas apa ya? Jangan-jangan …

Kelihatan masuk akal ya? Entahlah.🙂

Kristiansand, 8 April 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: