‘Socratic corner’ yang hilang

Mungkin entri ini terlalu ‘lebay’ untuk sebagian sahabat. Mungkin juga membuat alergi beberapa sahabat yang ‘mengharamkan’ filsafat.

‘Socratic corner’ adalah ruang kerja saya di sini, yang saya bagi dengan officemate, kolega, saya. Kita berdua sepakat, meski agak sembrono, menyebutnya dengan julukan itu. Saya berganti officemate sejak Januari lalu, karena seorang research fellow baru menempati kantor saya yang lama.

Tiga bulan saya habiskan dengan kolega saya tersebut, sebelum dia harus terbang ke Korea menjadi associate professor di salah satu universitas terbaik di sana. Terus apa hubungannya dengan ‘Socratic corner’?

Istilah ini muncul karena kebiasaan kami berdua yang setiap hari menghabiskan waktu berjam-jam mendiskusikan banyak hal yang terkait dengan filsafat. Paling tidak menurut kami berdua. Kadang bahkan menyangkut agama. Agama dia ‘cenderung’ ke HIndu, meski dia mengakunya agnostik. Julukan tersebut diilhami oleh karya tulis dari abad ke-4 di Yunani, tentang dialog Socrates dan Plato, yang bertajuk ‘Socratic dialogue’.

Apa yang kami dialogkan? Banyak dan beragam. Kami bisa setengah hari mendiskusikan landasan filosofi sebuah metode penelitian. Bisa setangah hari pula kita mendiskusikan tentang agama-agama dunia. Kok ada waktunya? Dia sudah selesai dengan disertasinya dan tinggal menunggu pendadaran, dan saya bisa meneruskan pekerjaan dan tulisan saya di apartemen.🙂 Tidak hanya di ruang kantor, saat makan siang pun diskusi masih berlanjut. Beberapa kolega lain kadang nimbrung. Dalam perjalanan pulang jalan kaki sekitar 1,5 km, obrolan serupa juga terus berlanjut.

Deretan topik ini pernah kita obrolkan. Fenomenologi, subyektivitas dalam ilmu pengetahuan, subjectivity corroboration, hermeneutika, dekonstruksi, kebenaran, fakta, positivist, interpretivist, constructivist, ontologi, epistemologi, circle of understanding, immanence, transendence, persepsi, breakdown, Tiga Dunia, ruang publik, dan masih banyak lagi. Tema-tema itu sering kontekstualisasikan untuk memahami masalah sosial sekarang: seperti korupsi, kebohongan, hegemoni, dan lain-lain. Nama-nama yang muncul dalam diskusi juga sangat beragam: Gadamer, Heidegger, Derrida, Socrates, Plato, Foucault, Sidharta, Habermas, Dzulkifli, Isa/Yesus, Popper, Kant, Hume, dan masih banyak lagi.

Jangan dikira kami berdua serius. Kami selalu mengemasnya dengan santai. Meski kami berdua ya sebetulnya sok tahu saja🙂, namun tidak jarang kami langsung ke pinjam buku ke perpustakaan atau meminta bantuan Mas Google untuk meluruskan obrolan. Apapun itu, tiga bulan tersebut sangat menarik, dan saat ini pojok Socrates itu telah hilang. Mudah-mudahan untuk sementara, karena saya gojek dengan kawan saya itu: research fellow baru yang akan bergabung bulan September 2012 dan berbagi ruang dengan saya harus senang dengan filsafat. Atau, pojok itu hilang selamanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: