Obrolan Imajiner dengan Profesor Tanpanami

Firman menunggu penerbangannya dari Jakarta menuju Yogyakarta. Masih sekitar dua jam sebelum boarding. Setelah membayar ‘biaya mampir’ dengan potong poin kartu kredit, Firman masuk ke ruang tunggu. Sore itu ruang tunggu Garuda Indonesia di Bandara Soekarta Hatta, tidak seperti biasanya, cukup lengang. Ruang tunggu menyediakan suasana yang lumayan nyaman untuk mengistirahatkan badan sambil menikmati kudapan yang disediakan.

Di salah satu pojok, Firman melihat seorang ibu yang merasa dikenalnya. Si Ibu sedang membaca sebuah buku. Judulnya ‘Outlier’, karangan Malcolm Gladwell.

“Assalamu’alaikum Bu”, sapa Firman.

“Wa’alaikumussalam Mas. Silakan bergabung di sini”, jawab Ibu tersebut sambil mempersilakan Firman.

Firman sebetulnya lupa nama ibu tersebut, dan lupa pernah melihatnya di mana. Setelah mengingat-ingat, ternyata Firman melihat foto wajah ibu tersebut di sebuah koran yang baru saja dibacanya di taksi ketika menuju bandara. Iya, dia adalah Profesor Tanpanami. Baru beberapa hari yang lalu dikukuhkan menjadi profesor, dan beritanya cukup hangat di media massa. Kritik yang disampaikan pada pidota pengukuhannya yang menjadikan berita.

“Apa kabar Prof?,” tanya Firman membuka pembicaraan.

“Mas, panggil saja Bu, saya agak mules kalau dipanggil prof”, pintanya sambil tertawa kecil.

“Supaya tidak ada jarak antara kita,” lanjutnya.

Berita lain terkait pengukuhannya yang menjadi perhatian media adalah tiadanya karangan bunga.

“Selamat lho Bu untuk professorshipnya. Mudah-mudahan berkah.”

“Makasih Mas. Jadi profesor itu efek samping, tidak usah dikejar. Takutnya kalau dikejar, ketemu, njuk kelehahan dan akhirnya tidak melakukan apa-apa setelahnya.”

“Bu, kata media massa kok tidak ada karangan bunga waktu Ibu dikukuhkan?”, tanya Firman memberanikan diri meneruskan obrolan.

Prof. Nami, begitu beliau biasa dipanggil tersenyum. Beliau sendiri lebih suka dipanggil Bu Nami.

“Lha untuk apa tho Mas. Kan mending uangnya untuk yang membutuhkan daripada untuk bunga. Kalau menerima bunga, saya malu dengan guru-guru saya yang tidak mau menerima bunga. Saya memang tidak pernah mengambil kelas beliau-beliau, tapi bagi saya mereka adalah guru saya. Njenengan mungkin masih ingat Prof. Notosusanto dan Prof. Mubyarto. Mereka adalah profesor yang sangat bersahaja, padahal mereka orang-orang hebat. Saya malu pada mereka. Pengukuhan mereka tidak dihiasi karangan bunga, dan mereka yang meminta.”

“Kok banyak profesor lain tidak seperti Ibu?”, tanya Firman.

“Ya, biarin saja to Mas. Orang kan beda-beda, tidak usah dibandingkan. Mereka nyaman dengan seperti itu, saya juga nyaman. Enak to?” jawab Bu Nami sambil tersenyum.

Sambil ngobrol, Firman iseng-iseng mengetikkan ‘Tanpanami’ di mesin pencari Google [Scholar], untuk melihat publikasinya. Eng ing eng! Ratusan publikasi ilmiah sudah ditulisnya. Yang dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi tidak sedikit.

“Ibu kok produktif sekali ya dalam publikasi”, tanya Firman.

“Hehehe. Enggak lah Mas. Dibandingkan dengan pengabdian saya di dunia akademik, masih sangat ngirit itu”, jawabnya ringan.

“Gini Mas”, lanjutnya. “Lha kalau bukan kami ini yang mengembangkan ilmu pengetahuan siapa lagi”, jawab Ibu Nami retoris.

“Kita tuh bangsa besar, tapi kita masih kalah dengan negara-negara yang seumuran dengan kita, dan bahkan lebih kecil. Njenengan masih ingat surat edaran Dirjen Dikti beberapa bulan lalu yang bikin heboh itu kan? Kita sama negara tetangga saja kalah. Cuma solusinya itu yang perlu didiskusikan.”

“Contohnya seperti apa, Bu?”, sahut Firman.

“Njenengan tahu jumlah profesor dan doktor di Indonesia? Beberapa sumber menyebut jumlah doktor sekitar 23.000 orang dan profesor sekitar 4.000 orang. Jumlah yang sangat sedikit kalau dilihat dari persentase terhadap jumlah penduduk, tapi cukup besar dari jumlah nominal.”

“Lebih besar dibandingkan dengan Malaysia, ya Bu?”, tanya Firman penasaran.

“Nampaknya dari jumlah nominal, iya. Nanti njenengan cek saja. Nah, kalau memang penelitian dan publikasi internasional mau digenjot, dorongkan mereka-mereka ini. Kalau seorang profesor bisa melakukan satu publikasi internasional setiap dua tahun, maka setiap tahun akan ada 2.000 publikasi internasional dari Indonesia. Angka ini sepadan denan jumlah publikasi setahun saat ini. Luar biasa kan? Ini baru yang melibatkan profesor, belum melibatkan yang doktor. Nah kalau seorang doktor setiap tiga tahun misalnya, dapat membuat satu publikasi internasional, maka akan ada tambahan lebih dari 7.500 publikasi per tahun. Luar biasa kan? Cuma ya, sampai saat ini belum terjadi”, jawab Bu Nami dengan bersemangat.

“Luar biasa, ya Bu”, timpal Firman bingung mau berkomentar apa.

“Tapi bentar Mas. Itu hanya kecil. Kalau setahun hanya 9.500 publikasi, kita masih kalah jauh dibandingkan dengan Singapura. Publikasi Singapura setahun sekitar 14.000, dan Malaysia di atas itu. Padahal penduduk mereka jauh lebih sedikit. Ya satu publikasi per dua atau tiga tahun itu sangat konservatif. Coba kita tingkatkan per tahun satu publikasi. Maka akan ada sekitar 27.000 publikasi. Ini lumayan meski masih kalah dengan Taiwan atau India. Ilmuwan Taiwan bisa menghasilkan publikasi di atas 35.000 per tahun dan India bahkan di atas 70.000”, jelas Bu Nami panjang lebar, masih dengan penuh semangat.

“Lha, solusinya bagaimana Bu?”

“Ya bertahap Mas, tapi juga harus serius. Jumlah doktor dan profesor di Indonesia masih sangat sedikit, terutama kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk. Produktivitas penelitian dan publikasi juga perlu ditingkatkan. Sulit memang, tapi bukan tidak mungkin kan?”, tanya Bu Nami retoris.

“Bu, ada yang berpendapat, di Indonesia yang dibutuhkan solusi untuk masalah riil dan bukan publikasi?”, tanya Firman.

“Tidak salah, Mas. Tetapi apakah penelitian dianggap tidak relevan untuk memberikan solusi? Tentu ini bisa didiskusikan. Menurut saya, harusnya dua-duanya bisa digabungkan, dan seharusnya memang seperti itu. Ya kalau selama ini dianggap belum relevan, ya kita tingkatkan bareng-bareng. Bukan dijadikan alasan ngeles untuk tidak publikasi. Publikasi itu bukan untuk gaya-gayaan lho. Publikasi itu untuk meningkatkan kemanfaatan penelitian kita. Publikasi bukan katarsis atau sekedar menggugurkan kewajiban. Kalau ini yang dijadikan pedoman, ya saya tidak tahu. Minimal saya berusaha untuk tidak terjebak dalam pemikiran sempit seperti itu. Bisa jadi saya juga masih terjebak. Hehehe”, terang Bu Nami.

“Nggaklah Bu. Lha, kalau Ibu saja terjebak, yang lain gimana Bu?”, timpal Firman dengan kekaguman.

“Mudah-mudahan ya Mas. Tugas kita kan hanya berusaha, tidak lebih”.

***

Obrolan pun berlanjut. Banyak hal diobrolkan, dan seperti biasa, Firman tidak menyia-nyiakan kesempatan seperti ini. Meminjam istilahnya Firman, “mengetap” pengetahuan dan pengalaman, persis seperti “mengetap” oli dari mobil.

***

“Perhatian-perhatian, penumpang GA 204 tujuan Yogyakarta dipersilakan melakukan boarding”, terdengar pengumuman dari pengeras suara.

“Itu Mas, kita sudah dipanggil. Njenengan nomor berapa?”

“Nomor 10C, Bu”

“Saya nomor 5A. Saya mendarat duluan ya”, canda Bu Nami yang sangat bersahaja ini, namun tetap terlihat sangat cantik dan bersemangat, di usianya yang sudah tidak muda lagi.

“Mari Bu!”

“Terima kasih Bu eh Prof. Nami untuk pelajarannya hari ini”, kata Firman dalam hati.

Kristiansand, 22 April 2012
*Cerita ini fiktif belaka.

2 comments
  1. Nice Sekali Obrolannya. Kapan Selesai S3 Pak….
    Salam kenal dan sukses selalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: