Benturan Peradaban 2.0?

Hampir 20 tahun lalu, pada 1993, Samuel P. Huntington, terlepas dari kontroversi yang menyertainya, menuliskan hipotesisnya dalam bukunya yang fenomenal yang menggambarkan the clash of civilizations (benturan peradaban). Menurutnya, konflik politik dunia akan lebih didominasi masalah kultural, kelompok dengan peradaban yang berbeda. Sekali lagi, terlepas dari beragam kritik yang menyertainya, dia membagi peradaban menjadi Barat, Amerika Latin, Konfusian, Jepang, Islam, Hindu, dan Slavic-Orthodox.

Dalam beberapa hari terakhir, media massa dunia diwarnai sebuah berita besar. Munculnya film Innocence of Muslims yang merendahkan Nabi Muhammad dan protes terhadapnya dari segenap pojok dunia. Protes terhadap film ini menyeruak mulai dari Belgia, Perancis, Timur Tengah, Pakistan, Afganistan, Indonesia, sampai Australia. Puluhan jiwa dikabarkan telah melayang dan Duta Besar Amerika untuk Libya juga terbunuh ‘karena’ film ini. Pembuat film berkualitas rendah ini sendiri disinyalir adalah warna Amerika keturunan Mesir.

Yang jelas, film ini telah memberikan dampak politik yang mahal untuk Amerika. Stasiun televisi RT (rt.com), mengemas tajuknya dengan ‘from friend to foe’, dari teman menjadi musuh, untuk menggambarkan hubungan Amerika dengan Dunia Arab paska perkembangan mutakhir di Timur Tengah yang sering dijuluki dengan The Arab Spring.

Internet dan benturan peradaban 2.0

Tahukah Anda bahwa film pemicu protes besar tersebut menyebar melalui Youtube? Potongan film yang diunggah tersebut berdurasi tidak lebih dari 15 menit. Sampai saat tulisan ini dibuat, salah satu versi potongan film tersebut telah diakses oleh lebih dari 4 juta pengunjung. Dari jumlah tersebut, hampir 20 orang menyatakan ‘suka’, dan lebih dari 50 ribu menyatakan ‘tidak suka’. Apakah ini salah satu indikasi adanya benturan peradaban versi baru?

Saya sangat yakin, bahwa sebagian besar peserta protes belum pernah menonton potongan film yang berkualitas sangat rendah ini. Tetapi mengapa ribuan orang bisa bergerak untuk melakukan protes bersama-sama? Penyebaran film dan informasi tentang film ini nampaknya tidak terlepas dari peran Internet dan media massa. Dalam kasus ini, sekali lagi dialektika kehadiran Internet mendapatkan bukti baru.

Dalam konteks The Arab Spring, Internet (terutama media sosial) dianggap telah membantu revolusi. Tetapi dalam kasus ini, di sini lain, Internet bisa dengan mudah memfasilitasi penyebaran kebencian, dan di saat yang sama, respon terhadap kebencian tersebut dapat menyebar cepat. Tidak jarang respon kebencian menyebabkan eskalasi yang tak terkendali. Jika kita cermati komentar pengakses film tersebut di Youtube, aura kebencian antara ‘dua kelompok’ sangat terasa. Saya pikir, meski bisa diperdebatkan, respon verbal tersebut jauh lebih ‘santun’ dibandingkan dengan kasus esktrim, misalnya, pembunuhan Duta Besar Amerika untuk Libya. Ini adalah perang media, suka atau tidak. Edward Said telah mensinyalir peran media ini pada tahun 1978 ketika bukunya yang terkenal, Orientalism, pertama kali diterbitkan. Dalam kasus ini, Internet telah memfasilitasinya dan meningkatkan ‘kedahsyatannya’. Inikah benturan peradaban 2.0? Deskripsi benturan peradaban (1.0?) dalam bukunya Huntington terkesan dalam tataran makro dan tidak melibatkan ‘massa’ secara langsung, tetapi dalam kasus ini ‘massa’ berhadapan langsung di ‘ruang publik’ yang disebut Internet.

Resolusi?

Tidak dapat dipungkiri, suka atau tidak, benturan tersebut, akan selalu ada. Ada banyak kepentingan yang mendasari, dan sekali lagi, media, terutama Internet, saat ini adalah sarana yang murah dan mudah untuk merealisakannya.

Yang menjadi masalah di sini adalah adanya generalisasi kelompok. Ingat, sebagai contoh, yang bertanggungjawab pembuatan film tersebut hanya beberapa orang ‘idiot’ yang kebetulan beragama tertentu yang ingin menyebarkan kebencian kepada kelompok tertentu. Tentu sangat naif jika respon kebencian dialamatkan kepada semua umat agama tersebut. Di Mesir, misalnya, protes terhadap film tersebut tidak hanya dilakukan oleh sekelompok agama tertentu, tetapi lintas agama. Mereka sangat sadar, bahwa para ‘idiot’ pembuat film tersebut bukan mewakili agama, meski agama telah dijadikan alat.

Sata teringat sebuah kisah profetik, ketika Nabi Muhammad sering diludahi seseorang yang membencinya setiap melewati sebuah jalan. Nabi ternyata tidak marah, dan bahkan menanyakan ke orang sekitar ketika suatu saat, ‘si peludah’ tidak lagi melakukan rutinitasnya. Segera ketika Nabi mengetahui ‘si peludah’ sakit, Nabi pun lantas dengan tulus menjenguk dan mendoakan kesembuhannya. Tidak ada ‘benturan peradaban’ di sana. Atau jangan-jangan sebetulnya ‘benturan peradaban’ tidak ada, dan lebih merupakan sebuah skenario, seperti salah satu kritik yang mengemuka.

Terlepas dari diskusi tentang hal ini, bisakah respon Nabi menghadapi kebencian ‘si peludah’ tersebut ini menjadi rujukan saat ini? Atau sebagian orang mungkin menanyakan, masih relevankah contoh Nabi diaplikasikan dalam konteks kekinian? Jawabannya bisa simpel dan bisa juga didiskusikan. Paling tidak, komentar di Internet terkait dengan film tersebut mengindikasikan keragaman sikap ini.

Saat ini, saya membayangkan, seandainya Nabi Muhammad masih hidup dan menonton film yang merendahkan dirinya, apa yang akan beliau lakukan. Sikap beliau terhadap ‘si peludah’ nampaknya bisa menjadi rujukan. Wallahu a’lam.

*Tulisan telah dimuat dalam Kolom Analisis SKH Kedaulatan Rakyat, 18 September 2012

2 comments
  1. Dzikri-Akbar said:

    Assalammu’alaikum…
    Pak wakhid …saya suka tulisan anda

    Wassalam…

    Agung Darpito – Muhi

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mas Agung, Terima kasih sudah mampir dan komentarnya. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Sukses selalu ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: