Connecting the dots

Pada tahun 1968, von Bertalanffy memperkenalkan sebuah ide besar, sebuah teori yang dikenal dengan nama General System Theory (GST). GST merupakan hasil pemikirannya setelah membandingkan banyak ‘hukum’ atau ‘konsep’ dalam beragam disiplin ilmu. von Bertalanffy mengungkapkan apa yang disebutnya dengan isomorphic law, hukum yang mirip dalam beragam disiplin. Dalam bukunya, diperkenalkan juga pendekatan organik sebagai antitesis dari pendekatan mekanik dalam memandang sebuah sistem. Konsep GST saat ini telah diterapkan dalam banyak disiplin, mulai dari humaniora sampai dengan rekayasa alias teknik.

Saya tidak akan mendiskusikan GST dalam entri blog ini, tetapi proses menghubungkan antartitik (connecting the dots) yang digunakan oleh von Bertalanffy, yang menurut saya menarik. Pola pikir ini bisa kita gunakan untuk menajamkan analisis atau memperluas perspektif dalam memandang sesuatu.

Tadi siang, saya terlibat diskusi yang cukup menarik dengan beberapa kolega. Temanya untuk sebagian sahabat mungkin tidak menarik: hermeneutika (hermeneutcs). Secara singkat, hermeneutika adalah sebuah proses memahami sebuah ‘teks’ secara keseluruhan (whole) dengan melihat bagian-bagiannya (parts), dan ini tidak mungkin dilakukan dengan baik tanpa proses iteratif.ย  Inilah yang kemudian dikenal dengan hermeneutic circle atau circle of understanding. Bagian-bagian ‘teks’ harus diinterpretasikan dengan melihatnya dalam konteks keseluruhan, dan sebaliknya. Ada interpretasi yang terus menerus. Banyak tokoh penting dalam diskursus ini. Sebut misalnya, Martin Heidegger dan Gadamer. Ada perbedaan mendasar antara kedua orang ini dalam melihat hermenetika. Heidegger mengasumsikan bahwa proses pemahaman didahului dengan dugaan a priori, sedangkan tidak demikian halnya dengan Gadamer, yang mengedepankan proses iteratif.

Bingung? Anda tidak sendiri. Salah satu kolega saya juga nampaknya bingung. Kemudian, akhirnya, jurus von Bertalanffy saya coba gunakan. Saya katakan ke dia yang berasal dari Mesir, “Dalam Alquran ada surat yang dapat menjelaskan proses hermeneutika”. Oh ya? Saya katakan, lima ayat pertama yang turun kepada Nabi. Setelah saya jelaskan dengan pemahaman saya yang masih dangkal ini, dia pun ‘manggut-manggut’.๐Ÿ™‚

Dalam ayat tersebut, ada perintah ‘i’roq‘ sebanyak dua kali: dalam ayat pertama dan ketiga Surat Al-Alaq. Apa artinya? Saya teringat tafsir ayat ini yang dipaparkan oleh Prof. Quraish Shihab dalam salah satu bukunya (Membumikan Alquran?). Membaca sebuah ‘teks’ (bisa diterjemahkan menjadi sebuah fenomena) harus dilakukan berulang. Bacaan yang kedua dan seterusnya bisa jadi memberikan pemahaman yang berbeda dengan bacaan pertama. Ada pemahaman baru, ada perluasan perspektif, ada penangkapan makna yang tadinya tidak tertangkap radar otak kita, dan seterusnya.

Moral apa yang ingin saya tarik di sini adalah dengan menghubungkan berbagai konsep (connecting the dots) yang kita pelajari, bahkan yang dulunya kita anggap tidak berguna, kita bisa mendapatkan pemahaman baru, atau cara baru dalam memahami sesuatu.

Saya teringat pidato Steve Jobs dalam pembukaan kuliah perdana di Stanford pada tahun 2005 (saya tidak di sana lho ya :-)). Dalam pidatonya, Jobs mengemukakan:

โ€œYou canโ€™t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something โ€“ your gut, destiny, life, karma, whatever. Because believing that the dots will connect down the road will give you the confidence to follow your heart even when it leads you off the well worn path; and that will make all the difference.โ€

Jadi, kalau sekarang kita mempelajari sesuatu yang kita anggap tidak berguna, jangan terburu-buru membuat penilaian. Kita tidak tahu kapan ‘titik’ tersebut akan terhubung dengan ‘titik’ yang lain, karena kita hanya bisa menghubungkan ‘titik’ dengan ‘titik-titik’ yang kita lewati pada masa lalu, dan tidak sebaliknya. Persis ketika seperti saya membaca tafsir Surat Al-Alaq, saya tidak pernah membayangkan mendiskusikan hermeneutika dengan beberapa kolega saya tersebut. Dan, ternyata pemahaman yang saya temukan belasa tahun lalu terhubung dengan diskusi yang saya lakukan hari ini.

Ah, mungkin saya hanya mengada-ada. Anda yang menentukan jawabannya!๐Ÿ™‚

Kristiansand, 19 Oktober 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: