Social intelligence

Anda pernah mendengar istilah emotional intelligence? Saya yakin, banyak yang sudah mendengar dan bahkan sering menggunakan istilah tersebut. Pernahkan Anda membaca buku awal yang membahasnya? Mungkin semakin sedikit yang pernah. Masih ingatkan siapa nama penulisnya? Saya yakin semakin sedikit lagi.

Untuk penyegaran saja, penulis buku pertama yang membahas dan memperkenalkan istilah emotional intelligence adalah Daniel Goleman, seorang penulis, jurnalis ilmiah, dan psikolog lulusan Harvard University. Buku yang ditulis pada tahun 1996 tersebut telah mengubah pola pikir banyak orang dalam memandang kecerdasan.

Selang 11 tahun sejak buku tersebut terbit (banyak buku yang ditulis Goleman di antara waktu ini), pada tahun 2007, alias lima tahun lalu, Goleman menerbitkan buku dengan judul ‘Social Intelligence: The New Science of Human Relationship“. Istilah ini nampaknya tidak semoncer dan semasyhur emotional intelligence, pendahulunya. Ada banyak fakta menarik yang dikupas dalam buku ini. Seperti halnya buku Goleman yang lain, banyak ilustrasi ilmiah yang diberikan untuk memperkaya jawaban dan memperkuat argumen.

Banyak konsep dalam buku ini yang menurut saya relevan untuk memperkaya pemahaman kita terkait dengan social-skill. Saya tidak ingin mengulas panjang lebar isi buku ini. Coba baca sekilas beberapa topik menarik yang dikupas dalam buku ini (yang saya ambil acak dari daftar isi): the emotional economy, the recipe of rapports, neural WiFi, the set point of happiness, the social brain, from them to us. Terlihat menarik bukan?🙂

Kalau penasaran, berikut ini saya ambilkan intisari dari buku yang sudah cukup lama saya beli di sebuah bandara. Pada intinya social intelligence terdiri dari dua aspek: social awareness dan social facility.

Social awareness terkait dengan kemampuan untuk secara instan ‘mengindera’ orang lain, memahami perasaan dan pemikiran, dan ‘terlibat’ dalam hubungan sosial yang rumit. Kemampuan ini terkait dengan primal empathy (merasakan dengan orang lain, mengindera sinyal emosional non-verbal), attunement (mendengarkan dengan penuh perhatian, peduli dengan orang lain), empathy accuracy (memahami pemikiran orang lain, perasaan, dan intensi), social cognition (mengetahui bagaiman dunia sosial bekerja).

Social awareness tidaklah cukup. Diperlukan social facility yang memungkinkan kita untuk menggunakan social awareness untuk membangun interaksi yang mulus dan efektif. Hal ini melibatkan sinchrony (berinteraksi dengan mulus pada tingkat non-verbal), self-presentation (mempresentasikan diri kita dengan efektif), influence (membentuk dampak dari interaksi sosial), dan concern (peduli dengan kebutuhan orang lain dan bertindak tepat).

Dalam praktik, tidak mudah membangun social awareness, apalagi menterjemahkannya ke dalam social facility. Sebagai contoh, banyak orang yang tidak mempan dengan disindir. Kata teman saya, untuk orang yang seperti ini, kalau perlu dicubit. Masih tidak mempan? Mungkin perlu dijewer, atau bahkan ditendang (maaf). Kesulitan ini bahkan juga dialami oleh orang yang misalkan mengkhotbahkan pentingnya soft-skill dan sejenisnya. Social intelligence bagi saya adalah bagian penting dari soft-skill. Banyak dari kita yang sudah tumpul sensitivitasnya. Tidak cukup sulit memberikan contoh dalam konteks perpolitikan di Indonesia. Bahkan kadang, tidak hanya ‘urat sensitif’ yang sudah tumpul, ‘urat malu’ pun sudah putus.

Kalau sensitivitas menangkap makna tersirat dari komunikasi non-verbal (bagi saya termasuk verbal tetapi dalam format metafora atau sindiran yang harus dibaca ‘antar baris’-nya) sudah tumpul, nampaknya sulit berharap akan munculnya social facility yang merupakan aksi nyata turunannya.

Kok tambah rumit ya? Jan-jane saya nulis apa to ini?🙂

29 November 2012

– Ditulis ketika melihat kawan yang merasa komunikasi ‘non-verbalnya’ hilang bersama angin, karena minimnya social awareness (apalagi social facility) dari ‘resipien’.🙂

1 comment
  1. afan said:

    kalau tembok2 pagar rumah yang tinggi, tak kenal dengan tetangga sebelah, seperti yg selama ini menjadi bagian dari warga diperkotaan . apakah bisa di golongkan dalam lack of social intelligence pak?
    *nyengir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: