Resep bahagia

“You have a happy marriage, don’t you?”, tanya seseorang yang saya hormati tiba-tiba ketika kami berjalan bersama ke kantin untuk makan siang. Tidak pernah mengira mendapatkan pertanyaan seperti itu, saya pun berpikir sejenak sebelum menjawab. Bukan karena saya tidak bahagia, tetapi mengapa pertanyaan tersebut diajukan. “Yeeess, but why do you ask me so?”, jawab dan tanya saya.

Akhirnya dia bercerita tentang rumahtangga seorang kawan dekatnya yang baru seumur jagung. Mereka sering bertengkar. “That’s normal”, timpal saya. Orang Indonesia menyebutnya ‘bumbu pernikahan’.

“I don’t think so”, sergahnya. Mereka sering bertengkar untuk masalah sepele. Justru dampak dari pertengkaran tersebut lebih besar dari masalahnya. Dia pun memberi contoh. Kebetulan saya juga kenal dengan pasangan ini. Saya pernah berkunjung ke rumahnya dua kali dan bersama menikmati ketan plus mangga khas negeri Gajah Putih di salah satu restoran di pinggiran kota Bangkok. Di Thailand selatan, mangga ini biasanya digantikan dengan durian.

Sambil menunggu pesanan di kantin, dia pun bercerita lebih detil, dan menyayangkan pertengkaran yang ada. Bak orang yang sudah berpengalaman, saya pun menimpali dan mengeluarkan dua resep yang muncul saat itu.

Kami pun mencari meja kosong di tengah keramaian mahasiswa yang asyik berdiskusi sambil makan siang. Obrolan berlanjut.

“To me, the solution is simple, but not always easy. They only need to change their mindset. They need to manage their expectation, and to adjust the level of acceptance.” Saya mencoba menteorisasikan resep kebahagiaan pernikahan.

Supaya bahagia atau menyiapkan diri untuk tidak kecewa, kita harus kelola ekspektasi kita terhadap sesuatu atau seseorang. Jangan membuat ekspektasi terlalu tinggi, karena kalau ‘jatuh’ akan menyakitkan.

Bagaimana kalau ekspektasi sudah diset rendah, dan masih mendapatkan yang lebih rendah? Sesuaikan tingkat penerimaan, tingkat qona’ah, sehingga kita mudah dan ringan dalam bersyukur atas sekecil apapun nikmat yang kita terima. Tidak ada kebahagiaan tanpa rasa syukur.

Sekali lagi, kelola ekspektasi dan atur tingkat penerimaan. Nampaknya resep ini tidak hanya untuk pernikahan, tetapi untuk banyak hal.

Bener gak ya?

Kotamu, 5 Desember 2012

2 comments
  1. WidyAP said:

    Coba berkomentar ya pak Fatul😀 Saya pernah mendapat nasehat pas ijab qabul pernikahan : ‘kamu hidup dengan seseorang wanita, yang perasaannya lembut, sifatnya berbeda. Ketika menemukan kondisi di mana tidak sesuai harapanmu, bicarakan baik-baik dengannya. Buat kesepakatan antara kalian berdua, mana yang bisa diubah dan mana yang bisa diterima. Dan selesaikan masalah kalian berdua dan jangan bawa-bawa masalah tersebut “keluar kamar”‘

    • Fathul Wahid said:

      Terima kasih Mas sudah berbagi tips. Semoga bahagia selalu.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: