Sopir bis teladan

Hari masih cukup pagi, ketika pesawat yang saya tumpangi dari Seoul mendarat di Honolulu. Saya masih harus menunggu waktu sekitar 12 jam sebelum pesawat lanjutan membawa saya ke Kaluhui di Maui, tempat konferensi yang saya ikuti diselenggarakan. Bandara Honolulu cukup kecil. Tidak banyak aktivitas yang bisa saya lakukan di sana kecuali duduk, membaca, atau tidur. Setelah melakukan observasi singkat, saya pun putuskan untuk menghirup udara segar di luar bandara. Saya lihat tanda di jalan dan bis yang melewati bandara. Transportasi publik di Hawaii tidak sebaik di negara-negara Eropa. “Waikiki beach” tulisan yang saya baca di depan beberapa bis yang melintas. “Oke, tidak ada salahnya menghabiskan beberapa jam di pantai yang cukup terkenal itu”, pikir saya.

Setelah menunggu beberapa lama, bis ke arah pantai Waikiki melintas. Saya pun antri di depan pintu. Sesampai di depan sopir, saya sodorkan uang 20 dolar. Biaya perjalanan untuk dewasa 2,5 dolar. Saya lihat di mesin pembayaran, tertulis “no change” alias tidak ada kembalian. Saya harus membayar dengan uang pas. Akhirnya dengan kecewa, saya pun turun dari bis. Sambil membuka dompet saya dan berharap ada 2,5 dolar yang saya temukan. Tidak ada. Saya hanya temukan dua lembar satu dolaran, dan beberapa pecahan yang lebih besar. “Sudahlah, mungkin bukan rejeki saya untuk mengunjungi Waikiki”, pikir saya.

Sesaat sebelum bis berangkat, si sopir memanggil saya untuk naik. Saya pun naik. Dia mengatakan, naik saja tidak perlu bayar.๐Ÿ™‚ Saya bilang, saya hanya punya pecahan 2 dolar. Akhirnya saya masukkan lembaran tersebut ke mesin pembayaran, meski saya dibolehkan naik dengan gratis. “Merry Christmas”, kata sopir yang baik hati tersebut sambil tersenyum.

Tidak banyak penumpang dalam bis yang saya tumpangi. Mungkin karena hari masih pagi. Saya tidak tahu waktu tempuh antara bandara dengan pantai Waikiki. Berapa lama pun tidak masalah. Saya mempunyai kemewahan waktu tunggu 12 jam. Jalur bis sebagian besar sejajar dengan pantai, sehingga tidak sulit melihat daun nyiur yang melambai-lambai tertepa angin yang lumayan kencang saat itu.

Sambil menikmati perjalanan, saya melihat sebuah plakat tertempel di langit-langit bis. Dalam plakat tersebut tertulis bahwa sopir bis yang saya tumpangi adalah sopir bis teladan kwartal terakhir 2012 dan mendapatkan hadiah wisata ke Las Vegas. Sopir teladan? Mungkin karena itu, dia mempersilakan saya naik meski membayar kurang? Atau?

Tidak banyak penumpang yang naik atau turun di halte yang saya lewati. Setelah berjalan akan lama, bis berhenti di sebuah halte. Sopir bis keluar. Saya tidak melihat ada penumpang yang menunggu. Tidak berapa lama, seorang penumpang dengan kursi roda masuk. Didorong oleh sopir bis tadi. Penumpang yang sebelumnya duduk di kursi bagian depan dengan sopan dimintanya untuk pindah ke belakang. Kursi dilipat dan kursi roda diposisikan dengan baik. Bagian belakang kursi roda diikat ke tiang yang ada di dekatnya supaya stabil. Penumpang tersebut bahkan tidak bisa menggerakkan kursi rodanya dengan tangan, tetapi dengan alat yang dikendalikan dengan mulutnya. “Luar biasa”, kata saya dalam hati.

Meski mungkin yang seperti ini adalah rutinitas, tetapi saya bisa melihat bahwa sopir tersebut melakukannya dengan hati. Senyum tidak pernah lepas dari bibirnya.

Tidak lama kemudian, saya menarik tali untuk memberi sinyal berhenti di pantai Waikiki. Terima kasih Pak Sopir untuk tumpangan dan pelajarannya!

Maui, 10 Januari 2012

5 comments
  1. afan said:

    syarat kota wisata :panorama, infra struktur, dan ramah penduduknya.
    seperti sopir diatas, membuat kita ingat terus dan pengin kembali lagi, meskipun transport publik tak sebagus negara eropa lain๐Ÿ™‚

    Kerja adalah perwujudan rasa cinta bila tiada sanggup bekerja dengan cinta lebih baik engkau tinggalkan pekerjaan itu untuk mencari sedekah kepada mereka yang bekerja dengan cinta – “Sang Nabi” Khalil Gibran –

    Salam.

    • Setuju Mas Afan. Sikap yang manis dibutuhkan dalam bisnis pariwisata, dan kerja harus sepenuh hati.๐Ÿ™‚ Sukses selalu Mas.

  2. teringat sebuah buku “marketing dengan cinta”, terlepas dari dasar marketing yg pasti ketulusan memang penuh berkah, salam pak Fathul๐Ÿ™‚

  3. fawaid effendi said:

    Sesuatu yang sangat langka di tempat kita…… Trima kasih pak bozz atas pelajarannya diatas

    • Fathul Wahid said:

      Sama-sama Mas Fawaid. Sukses selalu ya, dan jangan berhenti menebar kebaikan seperti sopis bis ini.๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: