Sebab musibah

Betul, musibah bisa muncul atau diturunkan dengan beragam ‘alasan’. Sebagian menyebut untuk menguji (karena kita orang baik), sebagian lain menyatakan sebagai azab (karena kita kebablasan), sebagian lainnya menghubungkan dengan teguran (karena kita lalai). Bagaimana menentukan kategorisasi ini untuk sebuah musibah? Siapa yang berhak menentukan? Bagimana menentukan bahwa kita adalah orang baik (meski banyak orang ge-er dan terlalu pe-de dalam hal ini), kita kebablasan (adakah yang berani tunjuk jari?), atau kita lalai (hmm, siapa ya yang mau mengakui secara terbuka)? Ini adalah instrumen untuk evaluasi diri, dan bukan instrumen untuk menghujat orang lain.

Terus terang saya miris, dalam beberapa hari ini, dengan banyaknya orang yang merasa punya kapasitas dan kewenangan ketuhanan ini. Padahal mereka menulis huruf alif saja mungkin masih bengkok, sudah merasa menjadi ‘tuhan’. Mereka menentukan dengan sangat lantang kalau musibah ini adalah azab karena a, b, dan c; diikuti dengan hujatan kepada personal, secara terbuka lagi. Kita masih ingin menghujat seseorang karena yang dilakukan tidak kita senangi? Apakah kita yakin semua orang juga senang dengan apa yang kita lakukan? Apakah agama memang menganjurkan untuk menghujat orang? Apakah memang boleh mengkafirkan orang lain? Kalau toh berbeda agama, apakah memang kita dianjurkan untuk menghujat agama lain? Apakah agama menganjurkan untuk mengabaikan akal sehat dalam mengambil kesimpulan? Atau, bisa jadi saya kelewatan pengajian yang menyuruh orang untuk menghujat orang lain, menebar kebencian, dan mengabaikan penggunaan akal sehat. Bisa jadi.

Bagaimana kalau salah satu anggota keluarga Anda terkena musibah, kemudian orang lain mengatakan kalau keluarga Anda jarang bersedekah dengan nada kebencian di depan publik? Apakah patut, mengatakan kepada sepasang orangtua yang anaknya terkena musibah, bahwa orangtuanya brengsek? Siapakah yang berhak mengatakan seseorang kurang bersedekah dan brengsek? Kalau pun memang ya, biarlah mereka sendiri yang menyadari bahwa mereka perlu lebih banyak bersedekah dan memperbaiki diri untuk tidak brengsek. Tidak perlu diumumkan kepada publik, apalagi jika dugaan tersebut tidak benar.

Benar, mengajak kepada kebaikan memang dianjurkan. Tetapi menebar kebencian dan menghujat adalah hal lain. Tentu kita tidak ingin seperti ustadz yang dengan lantang mengatakan, “Kita jangan sudah membicarakan orang lain, jangan suka melakukah ghibah. Jangan seperti si Fulan itu yang suka membicarakan si Asep kalau ada rapat RT.” Melarang tetapi memberi contoh cara melakukannya. Hebat bukan?

Berhati-hatilah dalam bersikap, apalagi menebar kebencian dan hujatan. Kebencian dan hujatan Anda bisa jadi menjadi musibah yang lebih dahsyat dibandingkan musibah awalnya.

Wallahu a’lam bisshowab.

1 comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: