Peringkat 4ICU/Webometrics: Kosmetik vs perubahan budaya

Ketika peringkat perguruan tinggi (PT) versi 4ICU (4 International Colleges and Universities, http://www.4icu.org) atau Webometrics (http://www.webometrics.info) ramai diberitakan di media massa, seorang kawan berkomentar, “Kok peringkat PT cepat sekali berubah ya? Kok seperti balap mobil, urutannya bisa cepat sekali berubah-ubah.” Kegelisahan seperti ini sangat wajar, karena didukung kesan dari fakta di lapangan. Jawabannya bisa benar, bisa salah.

Kedua pemeringkatan ini menggunakan kualitas situs web sebagai indikator utamanya. Pemeringkatan 4ICU menekankan pada tingkat pemanfaatan situs web PT oleh pihak internal dan ekternal, sedangkan Webometrics berfokus pada tingkat popularitas situs web, kualitas konten dan keterbukaan penelitian/karya ilmiah. Pada edisi terakhir Webometrics, yang baru saja diliris beberapa hari lalu (02/02/2012), komponen baru diperkenalkan. Salah satu indikator, yaitu scholar, tidak hanya dilihat dari Google Scholar (2007-2011) yang masih bisa “dimainkan”, tetapi juga dengan memasukkan jumlah publikasi yang terdaftar di SCImago Lab. (www.scimagojr.com) dalam tujuh tahun terakhir (2003-2010). Bobot indikator ini pun dinaikkan menjadi 30%. Sebagai informasi, SCImago menggunakan data Scopus yang mengindeks lebih dari 17.000 judul publikasi. Indikator ini sangat sulit “dimainkan” dalam waktu pendek. Inilah satu-satunya indikator yang “murni” akademik dari Webometrics.

Potret PT Indonesia

Pada pemeringkatan terakhir yang dilansir pada awal Januari 2012, 4ICU memasukkan 11.000 PT dari 200 negara. Sebanyak 318 PT Indonesia masuk dalam peringkat 4ICU, 20 di antaranya dari Yogyakarta. Dari 100 PT terbaik Asia hanya ada tiga PT di sana, yaitu ITB (peringkat 16), UI (28), dan UGM (45). Dalam liga 200 PT terbaik, hanya ITB yang masuk di dalamnya, bertengger pada urutan ke 138.

Webometrics edisi Januari 2012 memberikan potret yang berbeda. Pada edisi ini, Webometrics mengklaim melakukan pemeringkatan terhadap 20.300 situs web PT (plus melihat jumlah publikasi dalam SCIMago), tetapi hanya 12.000 teratas yang ditampilkan. Dari 352 PT Indonesia yang dievaluasi, hanya 162 PT yang masuk dalam daftar 12.000. Senada dengan 4ICU, hanya tiga PT di Indonesia yang masuk liga 100 terbaik Asia, yaitu ITB (43), UGM (44), dan UI (63).

Seperti diduga sebelumnya, masuknya data SCImago dalam indikator, telah mengubah posisi PT Indonesia dalam posisi global. Hanya tiga PT tersebut di atas (ITB, UGM, dan UI) yang posisinya meroket dibandingkan dengan posisi pada edisi Juli 2011, tetapi sisanya anjlok cukup drastis. Dalam rentang 2003-2010, publikasi ITB yang  terindeks Scopus (http://www.scopus.com) sebanyak 1.143, UI 866, dan UGM 673. Dipastikan, PT yang dosennya tidak banyak mempunyai publikasi internasional terindeks di Scopus akan terkena degradasi. PT besar dengan dosen yang rajin publikasi akan sangat beruntung, karena sistem di Webometrics tidak mengenal publikasi per dosen, tetapi publikasi oleh PT secara keseluruhan.

Komestik vs Perubahan Budaya

Karena peringkat dijadikan tujuan, di lapangan, seringkali banyak praktik buruk, tidak etis, dan bahkan ilegal yang “dimainkan”. Hanya satu komponen indikator di Webometrics yang tidak bisa “dimainkan”, yaitu data dari SCImago.

Tidak sulit mendeteksi bahwa banyak PT yang menggunakan energinya untuk tujuan kosmetik, jangka pendek. Praktik buruk yang “dimainkan” sangat beragam, mulai dari pelanggaran hak cipta, melakukan link farm, membayar back links, duplikasi konten, sampai praktik yang “menyerempet” plagiarisme. Singkatnya, semuanya dilakukan untuk tujuan kosmetik jangka pendek: membuat sebuah situs web terkesan berkualitas.

Energi yang ada seharusnya digunakan untuk perubahan budaya. Budaya yang harus diubah termasuk budaya penelitian, menulis dan publikasi ilmiah, berbagi informasi, dan dokumentasi/pengarsipan. Budaya ini pun harus didukung secara teknis dengan peningkatan keterbukaan dokumen untuk edukasi masyarakat luas melalui kemudahan pencarian di mesin pencari. Struktur situs web PT harus memudahkan masyarakat menemukan dokumen dan karenanya perlu disesuaikan dengan “tabiat” mesin pencari.

Saran untuk Pemimpin PT

Mencermati terabaikannya proses yang benar, beberapa saran perbaikan ke depan bisa disampaikan untuk para pemimpin PT.

Pertama, jadikan peringkat 4ICU/Webometrics sebagai dampak proses yang benar, dan bukan tujuan akhir jangka pendek. Dengan kesadaran ini, maka PT harusnya memperhatikan kebijakan dalam pengelolaan web, termasuk peningkatan kuantitas dan kualitas publikasi elektroniknya. Pengelolaan situs web adalah proses terus menerus yang istiqomah. Jika PT tersebut membentuk tim percepatan pemeringkatan, maka dapat dipastikan dengan menjadikan peringkat sebagai tujuan, akan menjadikan tim menjadi tertekan. Apa akibatnya? Praktik-praktik yang kurang mengindahkan etika akan sangat mungkin dilakukan demi mengejar peringkat.

Kedua, kuantitas dan kualitas publikasi tidak mungkin dapat terpenuhi, jika para dosen tidak melakukan penelitian dan melakukan publikasi yang berkualitas. Karenanya, jika kegelisahan yang menyatakan bahwa peringkat 4ICU/Webometrics tidak ada hubungannya dengan kualitas PT ingin dibuktikan salah, maka tidak ada jalan lain, pimpinan PT harus mendorong semua dosennya untuk lebih produktif menghasilkan karya ilmiah. Hal ini menjadi semakin penting ketika data dari SCImago dimasukkan sebagai salah satu komponen indikator.

Ketiga, budayakan kesadaran berbagi informasi untuk semua unit di PT dan semua sivitas akademika, dan bahkan karyawan dan alumni. Dengan kesadaran ini, maka akan semakin banyak informasi bermanfaat yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Untuk itu, perlu penguatan otoritas fakultas, badan dan unit dalam pengelolaan situs web. Mereka harus mampu mengoptimalkan kualitas situs web masing-masing sesuai dengan standar internasional yang ada dan tidak hanya terjebak untuk melakukan upaya yang sekedar mempercantik tampilan situs web. Mahasiswa, karyawan, dosen dan alumni pun seharusnya berpartisipasi dalam membangun situs web personal yang terintegrasi dengan situs web PT. Budaya berbagi informasi ini pun dapat menjadi sarana pengendalian kualitas oleh masyarakat yang akan memberikan kritik dan saran dengan jujur guna perbaikan PT ke depan.

Jika ini dilakukan, kegelisahan beberapa kalangan terhadap peringkat 4ICU/Webometrics akan hilang dengan sendirinya, dan klaim bahwa ada hubungan antara peringkat 4ICU/Webometrics dan kualitas PT menemukan bukti baru. Jika ini yang terjadi, nampaknya sebuah PT yang masuk pemeringkatan 4ICU/Webometrics akan semakin percaya diri, karena ranking tersebut adalah bukti kualitas riil dan bukan kualitas semu. Peringkat ini pun dapat dijadikan alat ukur secara nasional dan internasional dalam upaya pengembangan pelayanan kampus dan masyarakat luas secara online, karena 4ICU dan Webometrics memberikan penilaian kuantitatif PT lintas negara dan benua. Dengan demikian, pemeringkatan bukan lagi kosmetik pemanis wajah, tetapi disertai dengan perubahan budaya yang permanen.

Kristiansand dan Yogyakarta, 14 Februari 2012

Catatan:

1. Tulisan ini saya kembangkan bersama dengan Mas Ipan Pranashakti. Kami kirimkan ke rubrik ‘opini’ dua buah surat kabar (setelah yang pertama tidak memuatnya), namun nampaknya karena sesuatu sebab (tidak untuk konsumsi publik, ide tidak baru, pengemasan tidak menarik, dan sejenisnya), tulisan ini akhirnya tidak dimuat.

2. Ini adalah tulisan lama, sekitar setahun lalu, dan data yang ditampilkan di atas adalah data pada saat tersebut. Namun demikian, analisis yang disajikan nampaknya masih relevan untuk konteks sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: