Nathaniel’s Nutmeg

nathaniel's nutmegKetika beragam komoditas bumbu, terutama bawang putih dan bawang merah, menjadi mahal dalam beberapa pekan terakhir, saya teringat sebuah buku yang menarik. Di beberapa daerah harga bawang sudah menembus angka Rp 70.000. Harga yang sangat tidak wajar. Beberapa analis mengatakan masalah ini muncul karena ‘konflik’ antarkementerian. Yang jelas, menurut statistik, sebanyak 90% bawang putih di Indonesia adalah hasil impor. Berikut kisahnya.

Dalam sebuah acara makan malam bersama dengan kolega dan pembimbing, dengan atmosfer yang sangat informal, kami mendiskusikan banyak hal. Ada yang substansial, tidak jarang hal trivial untuk menjaga komunikasi sosial. Salah satu pembicaraan terkait dengan sejarah, salah satunya menyinggung sejarah Indonesia. Sampailah pada cerita perburuan pala di kawasan timur Indonesia pada masa lampau. Guru, demikian saya sering menyebut pembimbing saya, dalama bahasa Sansekerta yang diserap ke dalam bahasa Indonesia, menceritakan sebuah buku yang pernah dibacanya. Judulnya: Nathaniel’s Nutmeg, Palanya Nathaniel. Cerita tentang pala, buah pala, dan bukan kepala.πŸ™‚ Β 

Keesokan harinya, buku tersebut sudah berada dalam loker surat saya di kantor. Kertas post-it warna kuning pucat menempel di atasnya, “Hope you like it“. Bisa bayangkan hubungan macam apa yang saya kembangkan dengan pembimbing saya.πŸ™‚

Nathaniel’s Nutmeg adalah buku sejarah dengan kemasan ‘novel’. Cerita dinarasikan dengan detil oleh penulisnya, Giles Milton, yang nampaknya melakukan riset dengan sangat baik untuk buku ini. Buku ini bercerita tentang bagaimana pada masa renaisans di Eropa sekitar abad 17, perdagangan rempah-rempah (termasuk pala sebagai ‘pahlawannya’) telah memunculkan konflik internasional, antara Belanda dan Inggris, dua negara yang pernah menjajah Indonesia, dengan lama dan intensitas yang berbeda. Tokoh utama buku ini adalah Nathaniel Courthope ‘petualang’ Inggris yang dipercaya oleh the East India Company.

Pada saat itu, pala adalah komoditas yang berharga sangat mahal karena manfaatnya. Pala dipercaya sangat efektif untuk melawan wabah yang menjangkiti Eropa saat itu yang telah merenggut banyak nyawa. Keinginan untuk menguasai perdagangan rempah-rempah (bumbu) yang sangat mahal inilah yang memunculkan konflik. Nathaniel akhirnya terbunuh karena dianggap dianggap melakukan pengkhianatan. Sebagai ganti kematian Nathaniel, Inggris mengambil alih jajahan Belanda di Amerika Utara, yaitu Manhattan.

Masalah ini pula yang kita saksikan dalam beberapa pekan belakangan ini. Bumbu telah memunculkan konflik. Entah siapa aktornya, yang jelas, rakyat menjadi korbannya. Mudah-mudahan tidak ada yang ‘terbunuh’ dalam konflik ini sebagaimana Nathaniel. Tetapi yang jelas, konflik ini telah ‘membunuh’ nafsu makan sebagian orang, karena tidak ada aroma bawang yang memang mengundang itu.πŸ™‚

Ingin membaca kisah lengkap Nathaniel, silakan cari dan nikmati bukunya.πŸ™‚

Yogyakarta, 19 Maret 2013

1 comment
  1. gogo said:

    i like it man

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: