Doa khotib yang tidak teramini

Saya tidak tahu apakah cerita dalam entri ini akan menarik untuk dibaca. Namun, saya tetap ingin menuliskannya, siapa tahu ada beberapa sahabat yang tertarik.

Dalam beberapa kali sholat Jumat, saya menemukan sebagian besar jamaah tidak mengamini doa khotib. Tanda yang paling kentara adalah hanya sedikit yang mengankat kedua telapak tangan (tradisi di Indonesia, yang menurut beberapa sahabat mungkin dianggap tidak perlu). Baru setelah sampai pertengahan doa, jamaah mengamini doa khotib. Saya teringat pengalaman belasan tahun lalu yang bahkan lebih ekstrim. Hanya beberapa orang yang mengamini doa khotib, bahkan sampai khotib menutup khutbah. Apa yang salah? Jawabannya sederhana dan sekaligus menarik, menurut saya. Khotib lupa kalau sebagian besar jamaah tidak faham bahasa Arab.

Inilah yang saya sebut konteks sosial beragama. Sebagian besar jamaah yang tidak mempunyai pengetahuan bahasa Arab selama ini mengenali pola doa ketika khutbah Jumat. Ketika khotib membaca “Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat … “, serentak jamaah mengamini. Namun ketika khotib cukup kreatif dalam berdoa dengan meninggalkan pola umum ini, seperti menggunakan pembuka doa yang lain, maka ada risiko jamaah tidak mengamini doa. Beberapa khotib cukup sensitif karena melihat banyak jamaah yang tidak mengamini dengan menyisipkan “Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat … “, beberapa yang lain tidak demikian, seperti kasus ekstrim di atas.

Apa solusinya? Bisa dua sisi. Sisi yang satu, tidak ada salahnya, karena konteks sosial di Indonesia memang demikian, khotib mengawali doa dengan “Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat … “. Kesampingkan ‘kreativitas’ dalam menyusun doa ketika khutbah Jumat. Atau, beritahu jamaah dalam bahasa yang dapat dipahami (meski tidak semua sahabat sepakat penggunaan bahasa non Arab dalam khutbah, terutama dalam khutbah bagian kedua) kalau akan berdoa. Solusi kedua, terutama untuk generasi muda muslim, perbaiki kemampuan bahasa Arab sampai tingkat yang cukup. Solusi pertama jauh lebih mudah dibandingkan dengan yang kedua, namun solusi kedua mempunyai dampak jangka panjang yang jauh lebih permanen. Salah satunya, membuka pintu memahami agama dengan lebih baik, karena bisa langsung mengakses teks agama dalam bahasa Arab.

Dengan demikian, mudah-mudahan, salah satu episode dalam sinetron ‘Bajai Bajuri’ beberapa tahun yang lalu, tidak terjadi dalam kenyataan. Ketika itu, Bajuri mengundang kenduri dan dua orang di antara undangan berdialog dalam bahasa Arab. Yang menggelikan, semua jamaah yang lain mengamini dialog tersebut karena dipikir sedang berdoa.

Lucu, tetapi sekaligus ironis.

Yogyakarta, 5 April 2013

2 comments
  1. Mungkin doa yg dipanjatkan oleh sang khatib tidak mewakili keinginan yg ingin diminta oleh para jamaah pak🙂

    Karena kebutuhan dan keinginan setiap individu kepada Rabb nya berbeda-beda
    Setidaknya itu yg pernah saya lakui🙂

    • Bisa juga Mas Kurniawan. Misalnya, doanya “jadikanlah istriku” penyejuk hati, padahal masih jomblo.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: