Organisasi tanpa nilai

Seorang kawan merasa miris karena dalam organisasinya rasa tega ‘memplokoto’ yang muda atau orang lain sudah sangat kentara. Beragam kejadian senada telah berlangsung berulang kali. Meskipun masalah ini, katanya, pernah diupayakan dilempar dalam beragam ‘forum’, namun nampaknya tidak banyak yang merasa tertarik dengan topik yang jelas tidak seksi ini untuk sebagian besar orang. “Ngopo ngurusi yang tidak perlu”, kata sebagian orang dalam hati. Saya yakin, banyak yang menikmati — sadar atau tidak, sengaja atau tidak — atas kejadian ini. Tanggapan paling serius yang bisa diharapkan adalah: “kita sudah dewasa, sudah saling tahu”.

Nah, itulah masalahnya, kata saya ke seorang kolega lain yang mengeluhkan masalah serupa. Kita merasa sudah dewasa, padahal jan-jane nilai-nilai kedewasaan tidak terlihat sama sekali, atau paling banter samar-samar. Saling menghargai, bertanggungjawab, taat aturan, menjalankan kesepakatan, dan tepo seliro adalah contoh nilai yang seharusnya dipegang dan dipraktikkan oleh orang dewasa. Tetapi tidak dalam kenyataannya. Kalau semuanya sudah tambah tua, saya tidak akan membantahnya. Tetapi kalau dianggap sudah dewasa, nanti dulu. Orang yang berumur tua tidak identik dan tidak selalu berkorelasi dengan kedewasaannya dalam berpikir dan bertindak.

Pertanyaannya: mengapa bisa demikian? Ada banyak jawaban, tetapi menurut saya, salah satu yang penting adalah penanaman nilai-nilai. Organisasi yang solid tidak akan berumur panjang dan berkembang dengan baik tanpa adanya nilai yang kuat. Nilai inilah yang mengikat semua elemen organisasi. Inilah yang disebut ‘common denominator’, atau Anda suka bahasa Arab, ‘kalimatun sawa’. Tanpa nilai yang tertancap kuat dan dipraktikkan (tidak hanya tertulis dengan indah dalam dokumen resmi atau tertempel cantik di tembok kantor), upaya setiap elemen organisasi tidak akan berujung pada titik yang sama. Alih-alih, resultante yang dihasilkan justru sangat kecil, karena saling meniadakan. Ini mirip lirik lagu ‘Harus Terpisah’ yang dipopulerkan oleh Cakra Khan:

Ku berlari kau terdiam
Ku menangis kau tersenyum
Ku berduka kau bahagia
Ku pergi kau kembali

Ku coba meraih mimpi
Kau coba ‘tuk hentikan mimpi
Memang kita takkan menyatu

Jika arah lajunya sama, kecepatan perubahan pun akan ‘malu-malu maju’, karena dalam kereta dengan banyak kuda, kecepatan kereta tertinggi sama dengan larinya kuda terlemah. Jika tidak, kereta akan oleng dan rusak.

Saya termasuk orang yang percaya bahwa proses institutionalisasi organisasi, atau perubahan organisasi, adalah berbasis agensi. Harus ada aktor yang mengawalnya, lengkap dengan para pendukungnya, dan orientasi masa depan yang jelas. Meski saya juga termasuk dalam madzhab bahwa perubahan tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Tidak jarang ada duri, kerikil, atau batu yang menghalangi. Konsensus tidak mudah dicapai. Nilai yang disepakati bisa jadi hasil kompromi. Semua itu sangat wajar. Yang tidak wajar adalah kalau perubahan dianggap sebagai sesuai yang natural dan terjadi tanpa nilai, desain, dan kawalan yang jelas.

Apakah organisasi seperti ini tidak  mempunyai program? Bisa jadi malah banyak program, atau mungkin tepatnya kegiatan (yang tidak terprogram). Apakah organisasi yang seperti ini para anggotanya tidak suka. Siapa bilang? Justru banyak yang menikmati. Bayangkan Pak Lurah yang suka secara rutin mentraktir dengan menu pilihan dan mengajak plesir banyak kepala keluarga di desanya. Apakah mereka tidak senang? Mungkin hanya yang ‘bodoh’ yang demikian. Tetapi, coba tanya kepada mereka, ‘apa manfaatnya untuk keluarga mereka?’. Tidak sulit dibayangkan, bahwa mereka tidak bisa berkata-kata. Atau bahkan malah ‘ngeles’? “Lha, Pak Lurah tidak ngasih uang untuk beli oleh-oleh?”. Mengapa bisa demikian? Mereke terbiasa disuapi, tidak dididik bermental ‘tahan banting’ dan anti ‘ngeles’. Yang diproduksi, sebaliknya, adakah ‘anak mama dan papa’, yang tinggal teriak jika butuh sesuatu dan marah jika maunya tidak terpenuhi. Bisa jadi niat Pak Lurah mengenalkan nilai, namun yang diingat warganya hanya ‘makan gratis dengan menu pilihan’ dan ‘plesir’. Tidak lebih. Karena itulah yang sering juga dipahami oleh anak buah Pak Lurah ketika menyampaikannya ke warga. Banyak acara tapi minim nilai yang ditanamkan, atau paling tidak yang tertanam. Acara hanya menjadi ritual rutin minim makna dan bekas jangka panjang.

Jika Anda masuk dalam organisasi seperti ini, kelola ekspektasi, jangan terlalu tinggi. Jika Anda termasuk yang terganggu dengan cerita di atas, tidak sulit untuk menduga bahwa Anda akan kecewa. Jika sebaliknya, mungkin Anda merasa nyaman dan tertawa di atas ketulusan (meskipun dengan penderitaan) kolega. Yang menderita seringkali tidak bercerita, karena dia sudah dewasa.🙂

Inilah gambaran organisasi tanpa nilai. Akankah kolaps? Mungkin tidak, tetapi untuk maju nampaknya akan sulit.

Kotamu, 1 Juni 2013
Bertepatan dengan peringatan hari lahir Pancasila, nilai yang disepakati bersama, hasil ikhtiyar serius para pendiri bangsa.

4 comments
  1. Tika said:

    Maaf, Pak. sy msh mereka-reka arti “memplokoto”. He…

    Slh 1 PT tempat sy mengajar memiliki budaya yg lucu. Ketika 35 proposal kerja praktik yg masuk ke sy, hanya 7 yg sy mnt revisi dan sisanya harus ganti judul atau tempat karena yang mahasiswa angkat adalah tema-tema yg sudah diangkat lbh dr 5 tahun yg lalu, sy di-black list, Pak. Tidak diberi bimbingan kerja praktik atau tugas akhir pada semester berikutnya. Sy baru mengajar di PT itu. Padahal, di peraturannya tdk ada aturan tentang larangan menolak proposal.

    Lucunya lagi, besar dugaan saya proses black list itu berdasarkan status mhs yg protes di grup FB universitas yg hanya segelintir orang. Karena sy tdk pernah dipanggil “pejabat” berwenang untuk ditanyain. Di lain peristiwa, sy hanya menerima SMS yang isinya secara tidak langsung menuduh sy bersalah, tanpa proses tabayun.

    Saya memilih “menarik” diri. Berkomunikasi seperlunya dg “pejabat” tersebut, dan berfokus pada meningkatkan kualitas mahasiswa & diri sendiri saja. Dan berpikir untuk hengkang secepatnya. Bagaimana menurut Bapak?

    • Fathul Wahid said:

      Hehehe, artinya bisa macam-macam Mbak. Intinya menyerahkan tanggungjawab yang sebetulnya tidak pada tempatnya. Bisa juga diartikan ‘memperalat’, dan sebagainya.

      Dalam kasus njenengan, saya tidak bisa banyak berkomentar. Yang jelas, setiap organisasi mempunyai aturan dan kebiasaan. Yang tertulis dalam aturan hanya sebagian kecil dari yang biasa dilakukan. Mengerti kedua hal ini sangat penting. Niat baik seringkali tidak diterima seperti yang diniatkan karena kurang pas dalam mengemasnya.

      Ini persis seperti meniup peluit. Kalau hanya menggandalkan tenaga, suara yang dihasilkan bisa memekakkan teliga. Bagaimana kalau suara yang dihasilkan seperti lagu yang berirama sehingga enak didengar?

      Konflik dalam organisasi adalah hal yang wajar. Justru dalam tingkat tertentu, konflik adalah pemicu kreativitas. Yang penting konflik dikendalikan dalam tingkat yang ‘manageable’. Komunikasi menjadi kata kunci di sini.

      Mudah-mudahan ada yang jawaban yang nyambung Mbak Tika. Tetap semangat!

      • Tika said:

        Dulu sy pernah coba untuk mengkomunikasinya. Krn sy tdk dekat & tdk terlalu tahu Beliau seperti apa, maka sy lakukan percakapan pancingan, suatu kasus tentang memberi masukan kpd org, lalu meminta pendapat Blio. Apalagi Blio ini perempuan. Katanya perempuan itu banyak main perasaan, ya kan, Pak? He…

        Yg terjadi sebaliknya. Beliau secara eksplisit menilai sy yg bermasalah & bgmn jika harus memberi masukan kpd sy. He… Dan yg mbuat sy tepuk dahi adalah Blio menilai karakter sy keras, pdhal kami tdk pernah 1 forum diskusi atau tim kerja. Berbincang-bincang lamapun tdk pernah. paling2 say hello. Lg-lagi sy meyimpulkan ini berdasarkan gosip dr mhs. Soalnya terlambat 1 menit, tdk boleh masuk kelas atau tugas tdk akn sy nilai.

        Insya Alloh sy akan coba bertahan dulu Pak, dg memainkan peluit menggunakan irama. Sy coba ikuti maunya. Diantaranya sy coba banyak bersosialisasi di grup universitas. Tp jk tdk ada perubahan, akan memilih hengkang. Krn ada banyak budaya ‘tdk jls’ di sn.

      • Fathul Wahid said:

        Selamat mencoba peluit musiknya Mbak. Insya Allah dimudahkan. Saya juga pernah mengalaminya kok.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: