Masalah kemewahan

Seorang kawan bercerita, dia jadi rebutan koleganya dalam membentuk tim. Kolega lamanya masih menginginkan dia dalam timnya, karena merasa nyaman dan cocok. Sementara kolega yang lain menginginkannya masuk dalam tim yang baru. Kawan saya sadar bahwa dia mempunyai masalah kemewahan (luxury problem). Tidak banyak orang yang menjadi rebutan. Diinginkan oleh banyak orang adalah sebuah kemewahan. Kemewahan yang tentu tidak datang dengan sendirinya, tetapi merupakan dampak dari proses yang dijalani sepenuh hati. Berbuat baik dengan orang lain tidak muncul tanpa sadar, meski rutinitas dalam berbuat baik akan menjadikannya otomatis. Ini yang  Al-Ghazali sebut sebagai akhlak. Bourdieu, sosiolog Perancis, menyebutnya habitus.

Masalah kemewahan muncul dalam banyak bentuk dan ragam. Sebagai contoh, seorang kawan yang berada merasa kesulitan memilihkan sekolah untuk anaknya. Ada banyak pilihan sekolah terbaik, baik di dalam maupun di luar negeri. Secara finansial tidak ada masalah. Jika ada keterbatasan finansial, bisa jadi pilihan yang ada sangat terbatas, atau bahkan tidak ada pilihan, kecuali menerima yang ada. Raibnya masalah finansial seringkali memunculkan masalah kemewahan ini. Bingung memilih rumah, tujuan berlibur, atau bahkan membeli produk untuk keperluan harian di supermarket. 

Masalah kemewahan ini erat kaitannya dengan paradoks pilihan (the paradox of choice). Ketika kecil dulu, saya hanya mempunyai satu pilihan kanal televisi dan beberapa pilihan stasiun radio. Internet belum menampakkan batang hidunya di Indonesia. Tidak ada masalah kemewahan waktu itu. TVRI adalah satu-satunya pilihan kanal televisi. Acara radio yang bagus tidak banyak. Salah satunya adalah drama radio Saur Sepuh dengan Brama Kumbara dan Mantili sebagai tokohnya. Drama radio inilah yang menjadi aktivitas sepulang sekolah atau berkumpul dengan teman sepermainan. Kini, belasan atau bahkan puluhan kanal televisi di depan mata dan Internet memberikan beragam layanan baru, mulai dari akses informasi, komunikasi, sampai dengan hiburan. Radio nampaknya untuk sebagian orang sudah tidak masuk daftar pilihan. Memilih program atau tayangan terbaik atau informasi terakurat tidak lagi mudah.

Semakin banyaknya pilihan, atau masalah kemewahan, bukannya tanpa masalah. Pertama, hal ini bisa memunculkan paralisis, kondisi di mana orang tidak mengambil keputusan karena bingung. Bayangkan Anda datang ke supermarket dan ingin membeli yoghurt untuk pencuci mulut setelah makan. Pada rak terdapat puluhan merek yoghurt. Bisa jadi, Anda pulang tanpa membeli satupun karena merasa bingung memilih. Kedua, banyaknya pilihan sering menyebabkan kualitas pengambilan keputusan yang rendah. Bayangkan banyaknya pilihan koneksi Internet dengan fitur yang beragam dari para penyedia jasa telekomunikasi. Atau, organisasi Anda kelebihan uang dan ingin memilih program atau aktivitas. Kondisi ini menyulitkan pilihan tanpa adanya kriteria acuan yang jelas. Ketiga, banyaknya pilihan dapat memicu ketidakpuasan. Bagaimana Anda yakin bahwa pilihan yang telah dibuat adalah yang terbaik dari 200 pilihan yang tersedia, misalnya.

Apa solusinya? Tentukan kriteria yang jelas sebelum memilih. Berangkatlah dari nilai yang diyakini sebelum memutuskan memilih tim baru Anda. Tentukan kriteria sekolah untuk anak Anda sebelum dipilih. Siapkan daftar belanja sebelum ke supermarket atau ke pasar. Jika sudah, dan Anda masih bertemu dengan masalah kemewahan ini dalam hidup, bersyukurlah!

Kotamu, 24 Juni 2013

2 comments
  1. lisa mnp said:

    tulisan yang menarik,… kalo pengambilan keputusan karena motif bingung, mungkin masih bisa diterima, tetapi bagaimana jika motif riya yang melandasinya? bersyukur dengan ‘kemewahan’..
    salam buat keluarga

    • Terima kasih Mbak Lisa sudah mampir dan untuk komentarnya. Kalau riya, entah karena kemewahan atau kekurangan sama saja Mbak, hanya saja yang tahu kan yang berbuat.🙂 Dulu, guru ngaji saya kalau sholat malam dibuat agak keras suaranya, bukan karena riya tetapi karena supaya santrinya bangun dan ikut sholat. Sulit kan?

      Salam juga untuk keluarga ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: