AB 177 FN

Hari ini, untuk kesekian kalinya, saya sengaja menyempatkan diri untuk mengikuti Sholat Jumat di Masjid Kampus UGM. Khutbah baru akan dimulai ketika saya memasuki masjid. Saya tidak bisa melihat wajah khotib karena mendapatkan tempat pada baris pertama tetapi di sisi kiri. Namun, dari telinga saya merasa kenal dengan suara tersebut. Daripada tebakan saya salah, nama beliau tidak saya tuliskan di sini.🙂

Khutbah tersebut mengingatkan saya kepada mobil yang sudah saya jual sekitar tujuh tahun lalu.🙂 Lha kok bisa? Nomor cantik mobil tersebut adalah AB 177 FN. Tidak ada yang spesial bagi sebagian orang, tetapi bagi saya itu adalah nomor yang sangat cantik.

AB 177 adalah singkatan Albaqarah ayat 177. Untuk FN, biarlah hanya saya dan istri yang mengetahui singkatannya.🙂 Ayat inilah yang dibahas dalam khutbah. Menurut saya, ini adalah ayat yang luar biasa. Ringkas, tetapi mencakup banyak hal: iman, Islam, dan ihsan. Ujungnya ditutup dengan taqwa. Kata khotib, taqwa tidak lain adalah gabungan antara iman, Islam, dan ihsan.

Iman adalah landasan, ketetapan hati. Ini ibarat fondasi bangunan. Namun ketetapan hati tidak cukup tanpa bukti tindakan. Inilah Islam yang melengkapi iman. Ibarat tembok dan atap bangunan; struktur bangunan. Orang yang menjalankan Islam hanya sesuai dengan fiqih hanya sampai di sini. Bangunan pada tahapan ini hanya bersifat fungsional atau instrumental. Dalam konteks sosial, berislam adalah kalau kita diberi kebaikan oleh seseorang, kita membalasnya setimpal. Menjalankan sesuatu sesuai kontrak. Tidak lebih.

Untuk memberikan unsur keindahan, rumah perlu diberi ornamen dan sentuhan estetik lainnya. Islam supaya terlihat semakin indah memerlukan ihsan yang maujud dalam akhlak. Kata Alghazali, akhlak adalah tindakan yang secara otomatis dilakukan tanpa berpikir terlebih dahulu karena sudah menjadi kebiasaan. Ihsan membimbing kita memberikan kebaikan kepada orang lain melebih apa yang dia bisa berikan kepada kita. Memberikan lebih dari sekedar menggugurkan kewajiban atau memenuhi kontrak.

Ketiga komponen inilah penyusun taqwa, yang menjadi tujuan akhir puasa. Karena dalam Surat Albaqarah 183 tertulis “la’allakum tattaqun”, dalam fi’il mudlori’, maka ada unsur kontinuitas di sana. Dengan demikian, “la’allakum tattaqun” tidak hanya berarti semoga menjadi orang bertaqwa, tetapi semoga terus menerus menjadi orang yang bertaqwa.

Sudah sampai tingkat manakah kita?

Saya membayangkan, jika saja AB 177 diamalkan dengan baik oleh semua orang, nampaknya dunia akan semakin damai untuk semua penghuninya. Orang akan menggunakan waktu, energi, dan keluangannya untuk selalu berbuat baik, dan tidak habis hanya untuk saling berselisih dan bermusuhan.

Yogyakarta, 2 Agustus 2013

4 comments
  1. Biasanya plat nomor relevansinya dengan tanggal lahir Dsb, tapi yang ini kajiannya mendalam hingga surat Al Baqarah. Bagus banget pak..

  2. Endro said:

    Penuh dengan filosofi, makasih ya pak udah ngasih inspirasi baru. Jempol pak. Makasih juga penjelasan surat AB 177

  3. Kalau tidak salah Khotibnya waktu itu adalah Prof. Yunahar Ilyas ya Pak..🙂 saya juga hadir disana waktu itu, saya juga sangat terkesan dengan gaya penyampaiannya yang padat, berisi dan cepat. Sayapun sangat menikmati pembahasan kaidah tafsir yang beliau sampaikan waktu itu, tentang dua kata yang tersebut dalam satu ayat tetapi berada di tempat yang berbeda maka maknanya sama, namun jika dua kata tersebut menjadi satu, maka maknanya tidak sama dengan jika kedua kata tersebut berpisah dalam satu ayat.🙂

  4. Zeindrisaputra said:

    Kalau FN artinya Fathul Dan Nurul…cerita yang penuh makna….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: