PTS dan PTN, sama?

Jawabannya: tergantung. Tergantung di mana Anda berdiri, kepentingan apa yang Anda wakili, dan seberapa dalam pengalaman Anda dalam manajemen perguruan tinggi.

Jika Anda berdiri di perguruan tinggi negeri (PTN), dalam ruang publik, jawaban yang Anda dapatkan cukup menyejukkan hati: sama, tidak ada perbedaan. Tetapi, dalam obrolan privat di belakang, jawaban yang berbeda Anda dapatkan. Jika Anda berdiri di perguruan tinggi swasta (PTS)  tetapi cukup naif dalam berpikir, Anda mungkin berhalusinasi bahwa tidak ada perbedaan antara PTN dan PTS. Sekali lagi, ini adalah jawaban naif, alias polos. Jika Anda masuk dalam kelompok ini, tidak jarang kebijakan atau program yang Anda buat tidak berangkat dari konteks, tetapi ‘asal nyonto’ (atau dipaksa ‘nyonto’). Tetapi, ketika Anda tahu peta, bisa jadi Anda mempunyai jawaban yang sangat berbeda.

Kepentingan juga mempengaruhi jawaban. Apakah untuk mendapatkan simpati, dukungan, atau legitimasi? Atau, apakah Anda berupaya menjadi akademisi atau pengambil kebijakan yang independen, kritis, dan tidak terbutakan kepentingan kelompok? Dalam dokumen dan forum resmi, PTN dan PTS sering disamakan. Ini keputusan dan ‘dokumen’ politik. Fakta di lapangan memberikan cerita lain.

Jika Anda minim pengalaman dalam mengelola PTN atau PTS, atau abai alias ‘ignorant’ dengan proses, bisa jadi Anda akan menangkap kulit tanpa pernah menyentuh ruh. Tidak heran jika Anda melihat PTN dan PTS dari sisi kulit, penampakan, yang terlihat sama. Namun, jika Anda pernah berkutat dengan masalah dan mencoba mencari solusi atas masalah tersebut, perspektif Anda sangat mungkin bertambah kaya karena Anda akan menyentuh ruh. Ruh sangat berbeda dengan kulit.

Tidak ada kebijakan publik yang steril dari politik dan kepentingan. Tidak ada yang perlu disesali ataupun ditangisi. Jika Anda masih suka ‘mengumpat’ atau ‘ngedumel’, bacalah beragam literatur untuk memahami konteks ini. Banyak teori sosial yang bisa menjelaskan dan membuat Anda ‘sumeleh’ untuk ‘move on’.

Terutama bagi PTS, ingatlah bahwa PTS itu berbeda dengan PTN. Jangan percaya kepada siapapun atau dokumen apapun yang menganggapnya sama. Karenanya, berpikirlah sebagai PTS. Jika tidak, Anda akan sangat mungkin salah mengambil kebijakan yang lepas dari konteks.

Saya beruntung mendapatkan banyak perspektif seperti di atas, karena sering disalah-sangka berasal dari PTN dan diajak ‘ngomongin’ atau mendengar orang lain ‘ngomongin’ PTS di belakang🙂

Kristiansand, 10 September 2013
Uneg-uneg yang tiba-tiba muncul. Jangan ditanya alasannya apa, karena saya pun tidak tahu.🙂 Tentu, saya sangat senang kalau ada perspektif lain dari kolega, sahabat, kawan di baris-baris komentar di bawah ini. Jika ada, komentar tersebut akan membuka diskusi yang segar dan mudah-mudahan mencerahkan. 

1 comment
  1. pada dasarnya sebagian besar calon mahasiswa masuk PTS karena memang tidak lolos dalam seleksi PTN, namun pada kasus saya saya mmg waktu itu tidak ada hasrat untuk masuk PTN sama sekali, yang ada dalam otak saya hanya , saya ingin kuliah di UII krn mmg dekat dgn rumah saya,dan kedua kakak saya juga kuliah disana…sangat simpel sekali pemikiran saya

    sepakat sekali dgn pendapat bapak, bahwa sememangnya PTS dan PTN tidak dapat disamakan, bentuk pendidikan dan kurikulum mungkin bisa sama tapi orientasi dari pihak masing-masing kampus tidaklah sama, mau dibawa kemana dan hendak dimenghasikan lulusan macam apa

    mungkin PTS lebih membuat mahasiswa nya lebih struggle selepas masa perkuliahan, dibandingkan dgn PTN yang kerap membimbing alumni nya untuk terjun kemana didunia kerja

    just 2 my cent sir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: