Kekuatan Senyuman

Hampir 30 tahun lalu, guru ngaji saya mengajari sebuah hadits: “Tabassumuka ala wajhi akhika shadaqah“. Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah. Pada saat itu, saya tidak tahu makna yang terkandung dalam hadits tersebut, kecuali kalau kita mau sedekah tanpa mengeluarkan uang, tersenyumlah. Tidak lebih.

Sekitar dua pekan lalu saya mengikuti pengajian yang diisi oleh seorang ustadz yang juga dokter. Ada pernyataannya yang menurut saya menarik. Perasaan bahagia mempunyai dampak yang baik ke orangnya dalam beberapa jam (enam jam?) sesudahnya. Sebaliknya, perasaan marah mempunyai dampak buruk kepada orangnya lebih lama (12 jam?). Dia menyitir hasil sebuah studi yang saya tidak ingat sumbernya. Ketika mendengar uraian ustadz ini, saya teringat hadits di atas.

Saya pun iseng mencari referensi ilmiah lain. Aha, ternyata manfaat dari tersenyum sangat luar biasa. Pantaslah kalau Nabi dalam hadist tersebut menyamakannya dengan sedekah.

Orang yang suka tersenyum sebagai tanda perasaan bahagia ternyata lebih panjang umurnya selama tujuh tahun dibandingkan dengan mereka yang suka marah (Abel & Kruger, 2010). Ini temuan penelitan dan tidak perlu protes: umur yang menentukan Allah. Saya sudah tahu itu.🙂 Anda mau berumur panjang? Tersenyumlah.

Studi lain menemukan bahwa wajah yang tersenyum juga lebih lama diingat dibandingkan dengan yang marah. Kalau melihat orang marah, kita akan bertanya: mengapa dia marah ke saya? Tetapi, kalau melihat orang tersenyum, pertanyaan kita adalah: siapa dia? (Shimamura et al., 2006). Anda mau diingat oleh orang lain lebih lama dan dengan perasaan bahagia? Tersenyumlah.

Senyum ternyata juga dapat meningkatkan kepercayaan orang lain. Studi yang dilakukan oleh Scharlemann et al. (2001) menemukan bahwa senyuman dapat meningkatkan kepercayaan sebanyak 10%. Jangan tanya saya bagaimana mengukurnya, silakan baca artikelnya🙂 Ssst, jangan-jangan banyak politisi sudah belajar ini sejak lama.🙂 Mau lebih dipercaya orang lain? Tersenyumlah.

Ternyata, selain memberikan perasaan bahagia, senyum juga bisa membuat orang meningkatkan kemampuan berpikir secara holistik (Johnson et al., 2010). Mungkin ini juga yang menjadikan Lionel Messi yang selalu tersenyum, tahu betul arah bola akan ditendang🙂 Orang yang tersenyum akan melihat konteks secara lebih utuh dibandingkan yang tidak. Kata Johnson et al. (2010), senyum memudahkan orang melihat hutan dan tidak hanya pohon. Mau berperspektif luas dan holistik? Tersenyumlah.

Senyum kita akan memicu senyum orang lain. Senyum persis dengan menguap. Dua-duanya menular dengan mudah.

Hadits Nabi yang singkat tersebut, kalau ditelusur lebih jauh, mempunyai makna yang luar biasa.

Sudah tersenyumkah kita hari ini?

Referensi

Abel, E. L., & Kruger, M. L. (2010). Smile intensity in photographs predicts longevity. Psychological Science, 21(4), 542-544.

Johnson, K. J., Waugh, C. E., & Fredrickson, B. L. (2010). Smile to see the forest: Facially expressed positive emotions broaden cognition. Cognition and Emotion, 24(2), 299-321.

Scharlemann, J. P., Eckel, C. C., Kacelnik, A., & Wilson, R. K. (2001). The value of a smile: Game theory with a human face. Journal of Economic Psychology, 22(5), 617-640.

Shimamura, A. P., Ross, J. G., & Bennett, H. D. (2006). Memory for facial expressions: The power of a smile. Psychonomic Bulletin & Review, 13(2), 217-222.

Kaliurang, 24 Maret 2014

2 comments
  1. Amri said:

    Mantap

  2. m muhsin said:

    membuka pencerahan untuk bersenyum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: