Awal dan akhir yang baik

Good starting point, awal yang baik sangat penting sebagai momentum memulai banyak hal. Tanpanya, banyak waktu dan energi yang terbuang. Sebagai ilustrasi, bandingkan aktivitas harian akan terasa ketika senyum menghiasi bibir kita pada saat bangun tidur dan sebaliknya, ketika amarah menguasai kita.

Namun awal yang baik ternyata tidak selalu menjamin akhir yang baik, ketika kita tidak dapat menjaga kebaikan yang sudah ada dengan serius. Akhir yang baik, happy ending, atau husnul khotimah, inilah yang akan terkenang. Kita boleh jadi dalam bagian episode kehidupan menjadi bajingan (maaf), tetapi kalai kita mati sebagai orang alim, orang akan mengenang yang terakhir. Persis ketika naik pesawat, bisa jadi ada turbulensi di angkasa, tapi senyum dan perasaan lega akan segera muncul ketika pilot berhasil melakukan soft landing, pendaratan yang mulus. Sebaliknya, seorang kyai kalau pada akhir hayatnya menjadi koruptor, akan dikenang sebagai penilep uang rakyat. Panas setahun dihapus oleh hujan sehari, begitu kata pepatah. Karena itulah, dalam tradisi kawan-kawan NU, yang diperingati dalam haul adalah hari kematian kyai. Berbeda dengan Nabi Muhammad, yang diperingati oleh sebagian kawan kita adalah hari lahirnya, karena Nabi adalah ma’shum, terjaga dari berbuat dosa sejak lahir.

Setiap ada kolega yang akan pensiun dengan normal, saya hampir selalu mengucapkan selamat karena mengakhiri amanah dengan baik, tidak dipecat atau diberhentikan karena sebuah kesalahan atau pelanggaran fatal. Saya selalu minta doanya supaya mendapatkan akhir serupa. Begitu juga ketika ada kolega yang mendapatkan amanah, saya hampir selalu mendoakan supaya mendapatkan husnul khotimah.

Awal dan akhir yang baik sangat penting untuk semua urusan. Karenanya, kita diajari berdoa untuk itu, seperti terekam dalam Surat Al Isra’ ayat 80. Mari kita selalu berdoa mendapatkan awal yang baik (mudkhola sidqin) sehingga urusan terselesaikan secara efektif, dan selalu menjaganya sampai akhir (mukhroja sidqin). Dan, jangan pernah kita sombong dan merasa sanggup mencapai keduanya tanpa kekuatan penolong (sulthonan nashiran) dari Allah. Sangat mudah bagi Allah membalikkan kemuliaan seseorang atau sebuah lembaga menjadi kehinaan. Sekali lagi, mari selalu berdoa, semoga Allah senantiasa memudahkan kita menjaga amanah yang diberikan kepada kita.

Timoho menjelang dhuhur, 31 Maret 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: