Tantangan Koran di Era Digital

Saya teringat pengalaman sekitar 15 tahun lalu ketika sedang menempuh program master di Norwegia. Saat itu, salah satu situs web berita yang selalu saya kunjungi setiap hari adalah Kedaulatan Rakyat (KR) daring (online). Bahkan, saya pun mengirimkan beberapa tulisan yang dimuat dalam edisi daring. Ternyata aktivitas tersebutjuga dilakukan oleh banyak kawan lain yang berasal dari Yogyakarta. Apa yang menjadikan kami setia mengakses KR daring? Ada nilai yang tidak ditawarkan oleh koran lain.

Nilai Berita

Perspektif untuk mengukur nilai berita (‘newsworthiness’) yang dinyatakan oleh Galtung dan Ruge, pada 1965, nampaknya masih relevan ditengok kembali. Nilai berita ditentukan oleh beragam aspek, seperti dampak, audiens, dan cakupan. Dampak berita ditentiukan antara lain oleh frekuensi dan kejutan. Peristiwa yang terlalu sering muncul tidak lagi menarik, seperti halnya berita yang dapat ditebak.

Karateristik audiens juga menentukan berita yang dibacanya. Karenanya, berita perlu dibidik dari sudut yang menempatkan audiens/manusia di pusatnya. Manusia tertarik dengan berita atau cerita tentang manusia. Berita yang memotret kalangan elit sering kali lebih menarik. Tingkat keberartian juga mempengaruhi nilai. Berita yang relevan dengan audiens, seperti kedekatan kultural dan aspirasi, cenderung mendapatkan nilai lebih tinggi. Ini juga nampaknya yang menjadikan KR ‘ngangeni’ untuk pembaca yang pernah bersentuhan dengan Yogyakarta, seperti ilustrasi pembuka.

Cakupan berita ditentukan oleh beberapa faktor. Peritiswa yang sesuai nilai yang dianut oleh koran seringkali mendapatkan porsi penting, dibandingkan dengan yang berseberangan. Kontinuitas berita untuk peristiwa yang berlangsung cukup lama juga menjadikan berita lebih bernilai. Untuk menyasar audiens yang berbeda, tidak jarang, redaksi koran mengenalkan komposisi rubrik yang beragam. Komposisi ini juga menentukan nilai berita.

Jiak di era digital ini, Galtung dan Ruge mengunjungi kembali perspektif yang ditawarkan 50 tahun lalu, sangat mungkin ada aspek lain yang menentukan nilai berita. Kini, perkembangan teknologi informasi, terutama Internet, telah mengubah lanskap industri media cetak.

Dampak Internet

Perkembangan teknologi informasi, terutama Internet, telah menantang beragam asumsi awal tentang bagaimana kita memandang produksi dan penyebaran informasi. Berita adalah informasi, hasil pengolahan data. Internet telah mengakibatkan ‘perusakan kreatif’ (creative destruction) – meminjam istilah Schumpeter. ‘Kerusakan’ seperti apa yang diakibatkan oleh Internet?

Internet memungkinkan kecepatan distribusi informasi, memperluas jangkauan sebarannya, dan memfasilitasi interaksi serta kolaborasi. Koneksi Internet memungkinkan distribusi informasi dalam kecepatan yang tidak dibayangkan sebelumnya. Karenanya, nilai berita lain terkait dengan ‘kehangatan’ dapat dijamin. Selain, jika koran cetak mempunyai jangkauan yang terbatas, yang secara sederhana diindikasikan dengan oplah, tidak demikian halnya dengan koran daring. Singkatnya, Internet telah menghilangkan batas waktu dan ruang.

Selain itu, koran daring juga dapat menjadi ruang publik baru yang memungkinkan interaksi antaradudiens. Pengalaman yang sulit didapatkan dalam koran cetak. Interaksi bisa ditingkatkan dalam ranah kolaborasi, yang memungkinkan audiens berkontribusi dalam memberikan informasi. Konsep jurnalisme warga yang difasilitasi oleh beragam koran daring adalah contoh manifestasinya. Perspektif yang ditawarkan, karenanya, menjadi sangat beragam.

Tetapi, digitalisasi informasi memunculkan tantangan lain. Meski demikian, harga informasi tidak didasarkan pada biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkannya, tetapi oleh nilai yang ditawarkan. Sialnya, biaya produksi informasi bisa jadi sangat mahal, tetapi biaya reproduksinya sangat murah. Persaingan dalam industri ini semakin ketat bisa menjadikan biaya reproduksinya mendekati nol. ‘Salin-tempel’ informasi digital bukanlah sesuatu yang sulit dan mahal. Karenanya, fokus pada nilai menjadi satu-satunya pilihan pengelola koran untuk bertahan dan berkembang, untuk mencapai misinya.

Perspektif Baru?

Perspektif baru apa yang dapat ditawarkan? Pertama, saat ini, banyak audiens koran cetak, terutama kalangan muda yang melek Internet, tidak lagi tertarik dengan berita ‘basi’. Ukuran ‘basi’ menjadi semakin singkat. Berita kemarin, oleh banyak audiens sudah masuk dalam kategori ‘basi’, apalagi jika dalam 24 jam terakhir, misalnya, perkembangannya sangat cepat. Semakin ‘basi’, sebuah berita semakin tidak bernilai. Untuk mendapatkan berita mutakhir dan hangat, mereka dengan mudah mengakses situs web. Yang dicari audiens dari koran cetak tidak lagi hanya sebatas berita ‘jepretan sesaat’, tetapi analisis yang lebih mendalam. Ada perspektif yang ditawarkan. Rubrik opini, ulasan, atau tokoh bisa menjadi lebih menarik.

Kedua, hanya mengandalkan koran cetak nampaknya juga bukan keputusan bijak. Pengelola koran harus memikirkan dengan serius strategi yang ‘pas’. Koran daring tidak dapat hanya merupakan salinan dari koran cetak. Beragam strategi yang dipakai di lapangan, mulai dengan penentuan waktu pemutakhiran berita, pemberian hak akses berbayar untuk informasi atau konten tertentu, sampai dengan membundel akses daring dengan langganan koran cetak. Bundel ini juga bisa untuk mitra pemasang iklan, misalnya.

Ketiga, pengelola koran, perlu juga ‘memfasilitasi’ generasi muda yang melek Internet, para pribumi digital. Inisiatif untuk menjadikan koran daring sebagai sarana interaksi dan kolaborasi sehat antaraudiens perlu dipikirkan serius. Ini penting karena informasi adalah ‘barang pengalaman’. Fasilitasi membagi berita melalui kanal sosial media, juga perlu serius dipikirkan. Pelibatan media sosial dalam memperluas jaringan, dan meningkatkan nilai berita. Intinya, jangan hanya berfokus kepada ‘kompetitor’, tetapi berikan perhatian kepada ‘kolaborator’ dan ‘kompelementor’. Audiens dan mitra masuk ke dalam kelompok ini.

Keempat, selain itu, beberapa pengelola juga memilih mengenalkan akses multikanal. Untuk mengakses berita atau informasi, audiens diberi keleluasaan. Teknologi berbasis web konvensional bisa jadi sudah tidak menarik lagi, karena penetrasi perangkat bergerak semakin tinggi. Lagi-lagi, pengelola koran perlu memberikan layanan yang responsif, karena menampilkan informasi dalam perangat bergerak berbeda dengan di situs web. Bahkan tidak jarang, koran cetak tidak hanya dilengkapi dengan koran daring, tetapi ada kanal berita lain yang dibesut, seperti radio dan televisi. Ini adalah strategi ‘reuse’ dan ‘resale’. Jangkauan yang luas ini juga pada akhirnya mempengaruhi nilai berita.

Tantangan di atas dihadapi untuk semua koran cetak, termasuk KR yang tahun ini sudah menginjak usia 70 tahun. Akhirnya, dirgahayu untuk KR, hadirkan selalu berita yang bernilai. Tetaplah ‘ngangeni’ dan menjadi penyambung ‘suara hati nurani rakyat’ yang sensitif dengan perubahan zaman.

Bacaan Lanjutan

Galtung, J., & Ruge, M. H. (1965). The structure of foreign news: the presentation of the Congo, Cuba and Cyprus Crises in four Norwegian newspapers. Journal of Peace Research, 2(1), 64-90.

Shapiro, C., & Varian, H. R. (2013). Information Rules: A Strategic Guide to The Network Economy. Boston: Harvard Business Press.

Tulisan ini dibuat dalam rubrik Opini edisi Ulang Tahun ke-70 Kedaulatan Rakyat, 27 September 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: