Media Sosial Sang Presiden

Pekan lalu, pada 27 Mei 2016, Presiden Jokowi kembali membuka satu kanal media sosial baru. Kali ini adalah kanal khusus pada Youtube (www.youtube.com/c/jokowi). Sebelumnya, Jokowi telah ‘eksis’ di media sosial lain, Facebook, Twitter, dan Instagram. Sampai 2 Juni 2016, halaman Facebook Sang Presiden telah disukai oleh lebih dari 6 juta orang, akun Twitter dan Instagramnya telah diikuti oleh lebih dari 5 juta dan 740 ribu orang. Kanal Youtube yang baru berumur beberapa hari tersebut telah dilanggani lebih dari 12.000 orang.

Entah merupakan sebuah kebetulan atau tidak, beberapa hari yang lalu, Twiplomacy (twiplomacy.com), sebuah lembaga internasional, merilis hasil surveinya yang menempatkan Jokowi (@Jokowi) pada peringkat sembilan pada daftar The 50 Most Influential World Leaders in 2016 yang dihitung berdasar cacah cuit terusan (retweet) per cuit (tweet). Setiap cuit Jokowi, rata-rata mendapatkan 1.224 cuit terusan. Akun resmi Presiden Amerika Serikat (@POTUS, President of the United States) memempati urutan pertama dengan 12.350 cuit terusan per cuit. Urutan kedua ditempati oleh Raja Salman dari Saudi Arabia, yang setiap cuitnya diteruskan oleh hampir 10.000 cuit.

Jokowi juga ditempatkan pada urutan 12 dalam daftar The 50 Most Followed World Leaders in 2016 berdasar cacah pengikut Twitter. Barack Obama (@BarackObama) bertengger di nomor satu dengan lebih dari 74 juta pengikut.

Apa yang menarik dari fenomena ini? Pertama, media sosial telah dikelola secara serius di sektor pemerintahan. Tidak jarang, terdapat tim khusus yang menangani komunikasi resmi menggunakan media baru ini, seperti yang dipunyai oleh Jokowi. Hal ini menjadi penting, ketika Indonesia termasuk salah satu negara dengan pengguna sosial media teraktif sejagad. Nampaknya Jokowi dan timnya sadar betul akan hal ini.

Kedua, penggunaan media sosial sudah seharusnya tidak hanya marak ketika masa kampanye saja, tetapi dikelola secara lestari sebagai media dialog dengan masyarakat. Studi yang dilakukan oleh Twiplomacy menunjukkan banyak akun dorman, tidak menunjukkan aktivitas, ketika musim kampanye usai.

Ketiga, media sosial dapat menampilkan sisi kemanusiaan pemimpin yang kadang luput dari perhatian. Pesan dan gambar yang ditampilkan, selain untuk komunikasi resmi guna mengedukasi masyarakat, juga dapat mengirimkan pesan “Presiden juga manusia”. Keempat, media sosial memfasilitasi komunikasi yang lebih aktual, karena pesan atau gambar yang ditayangkan seringkali merupakan ‘laporan pandangan mata’. Tidak jarang ‘laporan’ ini mempunyai muatan hiburan, karena dikemas dengan ringan. Interaksi seketika dengan masyarakat juga terfasilitasi dengan mudah.

Adakah sisi gelapnya? Pertama, pesan media sosial dapat dengan mudah dimanipulasi. Anomimitas dan kemudahan membuat akun seringkali digunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab menyaru sebagai akun resmi. Lho, kan sudah ada yang jelas resmi? Tidak semua masyarakat mengingat dan sadar dengan isu ini. Kedua, jika sasaran komunikasi Sang Presiden hanya masyakarat kelas menengah ke atas, nampaknya tidak banyak masalah, karena mereka adalah para penikmat media sosial. Namun, di Indonesia, masih banyak masyarakat yang tidak tersentuh media sosial. Mereka perlu disentuh dengan kanal lain.

Karenanya, penggunaan media sosial oleh Sang Presiden dan hasil survei Twiplomacy perlu disikapi dengan bijak. Hasil survei ini tentu tidak memberikan gambaran komprehensif, tapi paling tidak, menampilkan potret komparatif dibandingkan dengan pemimpin bangsa lain!

Tulisan ini telah dimuat dalam Kolom Analisis Harian Kedaulatan Rakyat pada 4 Juni 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: