Hoax

Setiap teknologi hadir dengan dua sisi: positif dan negatif. Internet, dan lebih khusus media sosial, tidak terlepas dari ‘hukum alam’ ini. Kecepatan propagasi konten melalui Internet melebihi kecepatan perambatan cahaya. Yang yang diketik di Indonesia saat ini di media sosial, dapat terbaca di belahan bumi lain hanya dalam hitungan detik. Ketika yang terlepas adalah hoax, konten palsu atau berita bohong yang dipabrikasi, sampai saat ini, belum ada cara efektif untuk menghentikannya. Di Indonesia, isu penyebaran hoax ini pun harus direspons oleh Presiden Jokowi. Menkominfo menimpali dengan informasi bahwa terdapat sekitar 800,000 situs web penyebar hoax di Internet. Pesan yang tersampaikan sangat kuat: penyebaran hoax telah sampai pada taraf yang mengkhawatirkan.

Beberapa bulan lalu, Facebook dan Google berencana mengembangkan teknologi untuk menghalau hoax ini menjadi trending topic. Baru sebatas itu. Keefektifan teknologi tersebut pun belum terbukti. Modus operandi pelaku kejahatan, biasanya melampaui pengetahuan yang sudah dimiliki penegak hukum. Tidak jarang, mereka berada beberapa langkah di depan!

Alasan orang memproduksi hoax bisa jadi jangan beragam, mulai dari sekedar iseng sampai dengan motivasi finansial dan politis. Media sosial adalah ladang penyebangan hoax yang subur. Ketika kita terbiasa membagi berita tanpa proses pemeriksaan yang seksama (tabayyun), kita dapat menjadi (calon) pelaku penyebaran hoax. Ketika kita dapat menjadi pelaku dengan mudah, kita pun bisa dengan gampang juga menjadi korban.

Dampak penyebaran hoax bisa sangat luar biasa. Konflik sosial dapat terpicu. Konflik horizontal antarkelompok warganet (netizen) tidak jarang dipicu dan bereskalasi karena hoax. Konflik dunia maya ini pun akhirnya mewujud menjadi konflik di dunia nyata. Konflik warisan dari pemilihan presiden yang terakhir, sebagai contoh, sampai hari ini masih dengan mudah kita temukan di media sosial. Akibat lanjutannya dapat lebih mengkhawatirkan? Saat ini, kita akan lebih mudah percaya dengan hoax yang terus-menerus dan membabi-buta membombardir kita, dibandingkan dengan berita benar yang jarang diakses.

Saat ini, masalah terkait dengan informasi berbeda dengan beberapa dekade lalu. Dulu, masalah yang muncul adalah mencari informasi. Saat ini, masalahnya adalah menyaring informasi. Hoax jelas harus masuk ke keranjang sampah dalam proses penyaringan ini.

Di sini, kearifan level tinggi perlu disemai. Tanpanya, ekses negatif hoax dapat mencapai tingkat yang semakin tidak terkendali. Jika ini terjadi, jangan kaget jika warganet semakin lama akan menganggap penyebaran hoax menjadi wajar, merundung menjadi gaya hidup, dan ujungnya, akan menjadi warganet yang tuna empati dan mementingkan diri sendiri.

Karenanya, mulai sekarang, ada baiknya gunakan tiga saringan berikut sebelum menyebar sebuah konten: apakah konten benar, apakah konten mengandung kebaikan, apakah konten mengandung manfaat. Jika salah satu jawaban pertanyaan adalah tidak, ada baiknya konten tersebut tidak perlu disebar lebih lanjut.

Jika Anda belum mempunyai resolusi personal untuk 2017, jika boleh, di hari terakhir kalaneder 2016, penulis menitipkan sebuah pesan. Jadikan 2017, tahun yang bebas dari hoax, tahun yang penuh kedamaian dan cinta! Jadilah bagian di dalamnya!

Tulisan ini telah dimuat dalam Kolom Analisis SKH Kedaulatan Rakyat, 31 Desember 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: