Archive

Manajemen Perguruan Tinggi

Jawabannya: tergantung. Tergantung di mana Anda berdiri, kepentingan apa yang Anda wakili, dan seberapa dalam pengalaman Anda dalam manajemen perguruan tinggi.

Jika Anda berdiri di perguruan tinggi negeri (PTN), dalam ruang publik, jawaban yang Anda dapatkan cukup menyejukkan hati: sama, tidak ada perbedaan. Tetapi, dalam obrolan privat di belakang, jawaban yang berbeda Anda dapatkan. Jika Anda berdiri di perguruan tinggi swasta (PTS)  tetapi cukup naif dalam berpikir, Anda mungkin berhalusinasi bahwa tidak ada perbedaan antara PTN dan PTS. Sekali lagi, ini adalah jawaban naif, alias polos. Jika Anda masuk dalam kelompok ini, tidak jarang kebijakan atau program yang Anda buat tidak berangkat dari konteks, tetapi ‘asal nyonto’ (atau dipaksa ‘nyonto’). Tetapi, ketika Anda tahu peta, bisa jadi Anda mempunyai jawaban yang sangat berbeda. Read More

Ketika peringkat perguruan tinggi (PT) versi 4ICU (4 International Colleges and Universities, http://www.4icu.org) atau Webometrics (http://www.webometrics.info) ramai diberitakan di media massa, seorang kawan berkomentar, “Kok peringkat PT cepat sekali berubah ya? Kok seperti balap mobil, urutannya bisa cepat sekali berubah-ubah.” Kegelisahan seperti ini sangat wajar, karena didukung kesan dari fakta di lapangan. Jawabannya bisa benar, bisa salah.

Kedua pemeringkatan ini menggunakan kualitas situs web sebagai indikator utamanya. Pemeringkatan 4ICU menekankan pada tingkat pemanfaatan situs web PT oleh pihak internal dan ekternal, sedangkan Webometrics berfokus pada tingkat popularitas situs web, kualitas konten dan keterbukaan penelitian/karya ilmiah. Pada edisi terakhir Webometrics, yang baru saja diliris beberapa hari lalu (02/02/2012), komponen baru diperkenalkan. Salah satu indikator, yaitu scholar, tidak hanya dilihat dari Google Scholar (2007-2011) yang masih bisa “dimainkan”, tetapi juga dengan memasukkan jumlah publikasi yang terdaftar di SCImago Lab. (www.scimagojr.com) dalam tujuh tahun terakhir (2003-2010). Bobot indikator ini pun dinaikkan menjadi 30%. Sebagai informasi, SCImago menggunakan data Scopus yang mengindeks lebih dari 17.000 judul publikasi. Indikator ini sangat sulit “dimainkan” dalam waktu pendek. Inilah satu-satunya indikator yang “murni” akademik dari Webometrics. Read More

Kisah Nabi Musa dan Khidzir adalah salah satu favorit saya. Saya masih ingat betul, guru ngaji saya di kampung membahas cerita Musa dan Khidzir dalam dua pertemuan ketika sedang mengkaji Tafsir Jalalain. Kisah tersebut bagi saya sangat relevan untuk dijadikan acuan dalam membedah beragam fenomena yang ada. Musa adalah simbol pemikiran syari’at, kata guru ngaji saya. Musa melihat yang tampak, tetapi di sisi lain, Musa juga kritis ketika menanyakan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan yang diyakininya.

Sebaliknya, Khidzir, yang namanya tidak masuk dalam 25 nabi populer, mewakili kaum ma’rifat. Khidzir, dengan ijin Allah, dapat melihat makna di balik setiap kejadian. Tidak jarang, seperti dikisahkan dalam Alqur’an, kedua titik tolak yang berbeda (syari’at dan ma’rifat) ini menimbulkan banyak konflik. Apakah berpikir dengan kacamata syari’at salah? Jelas tidak. Tetapi berpikir HANYA dengan kacamata ini dapat menyebabkan banyak masalah. Itulah sebabnya dalam mengkaji teks Alquran, kita diminta untuk melihat konteks, asbabun nuzul, sebab diturunkannya ayat. Dalam mengkaji teks Hadist, juga lebih baik jika mengetahui asbabul wurud, situasi sosial, kultural, dan psikologis ketika itu. Memahami teks dengan memasukkan konteks, bagi saya sudah melompati batas antara kacamata syariat dan ma’rifat. Read More

Firman menunggu penerbangannya dari Jakarta menuju Yogyakarta. Masih sekitar dua jam sebelum boarding. Setelah membayar ‘biaya mampir’ dengan potong poin kartu kredit, Firman masuk ke ruang tunggu. Sore itu ruang tunggu Garuda Indonesia di Bandara Soekarta Hatta, tidak seperti biasanya, cukup lengang. Ruang tunggu menyediakan suasana yang lumayan nyaman untuk mengistirahatkan badan sambil menikmati kudapan yang disediakan.

Di salah satu pojok, Firman melihat seorang ibu yang merasa dikenalnya. Si Ibu sedang membaca sebuah buku. Judulnya ‘Outlier’, karangan Malcolm Gladwell.

“Assalamu’alaikum Bu”, sapa Firman.

“Wa’alaikumussalam Mas. Silakan bergabung di sini”, jawab Ibu tersebut sambil mempersilakan Firman. Read More

Catatan ini terinspirasi status tembok Facebook seorang sahabat berikut (setelah saya samarkan konteksnya):

“Walah, masalah A belum beres, masalah B masih rumit, malah para ‘pegawai’ menuntut gaji yang layak. Piye nih? Cari inspirasi dulu ah, lagunya apa ya? Hiikkksss”

Api masalah berada di mana-mana. Api tersebut bisa muncul karena banyak hal, termasuk manajemen yang tidak efektif, perencanaan yang lemah, kegagalan mencari sumber api. Read More

Apa yang membuat seseorang mempunyai legitimasi akademik, dianggap merasa berhak berbicara tentang sesuatu hal dari kacamata akademik? Jenjang pendidikan, kepakaran dalam bidang tertentu karena penelitian yang dilakukan, kedekatan dengan birokrasi, pengalamannya, lembaga tempat afiliasinya, atau kepandaiannya dalam membangun citra? Anda bisa menambahkan alternatif jawaban.

Pertanyaan lanjutannya? Apakah ada rumus atau norma umum yang berlaku di semua negara, di semua disiplin, ataukah sangat spesifik dan kontekstual?  Read More

Ilmu pengetahuan dapat berkembang dengan berbagai cara. Salah satunya adalah melalui publikasi yang berkualitas, sebagai salah satu indikator penelitian yang berkualitas. Dalam tradisi akademik Amerika, dikenal sebuah adagium ‘publish or perish’, melakukan publikasi atau binasa/hancur. Kalangan akademik dituntut untuk produktif dalam menghasilkan publikasi berkualitas. Tuntutan ini juga yang nampaknya menjadikan akademisi Amerika selalu menjadi yang terproduktif dalam publikasi. Read More

%d bloggers like this: