Archive

Riset

Di Indonesia, ojek telah menjadi salah satu layanan transportasi publik informal sejak beberapa dekade lalu, mulai sekitar awal 1970an. Yang dulunya, ojek dilayani menggunakan sepeda, akhirnya beralih ke sepeda motor. Ojek telah memberikan alternatif menyenangkan ketika layanan transportasi publik formal yang cukup dan handal tidak tersedia. Layanan serupa ojek juga dapat ditemukan di beberapa negara Asia lain, seperti Thailand dan Vietnam.

Mulai sekitar lima tahun lalu, layanan ojek di Indonesia, mendapatkan warna baru, dengan hadirnya layanan ojek berbantuan aplikasi bergerak. Di awal kemunculannya, beberapa gejolak penolakan terekam dalam media cetak dan digital. Namun, saat ini berita serupa sudah tidak banyak ‘terdengar’. Read More

Advertisements

Mungkin bermanfaat untuk sebagian sahabat. Tulisan, dengan judul seperti pada entri blog ini, yang lebih dari setahun lalu saya presentasikan di The 11th International Conference on Social Implications of Computers in Developing Countries, di Kathmandu, Nepal pada Mei 2011. Tulisan yang menghubungkan antara peran organisasi keagamaan dalam konteks information and communication technology for development (ICT4D) ini saya buat bersama dengan guru saya. Berikut adalah salinan abstraknya:

Intermediaries play a vital role as actors who help provide access to the vast majority of population in developing countries. The literature has identified several types and categories of such intermediaries and conceptualized their roles, characteristics and sustainability criteria. In this paper, we identify an unlikely actor in the specific context of Indonesia, namely, religious organizations (ROs). Our examination indicates that there are several factors that make these organizations
sustainable and successful intermediaries. Moreover, they have wide reach and are trusted by the populace they serve. At the same time, they also can be potentially dangerous because of the threat of religious extremism. Read More

Saya baru saja membaca pidato Karl Popper yang disampaikan di University of MIchigan, pada 7 April 1978! 34 tahun yang lalu! Tidak tebal, hanya 25 halaman. Judulnya singkat: Three Worlds. Tentu ini tidak ada hubungannya dengan film ‘Tiga Hati Dua Dunia Satu Cinta’ atau ‘Negeri 5 Menara’. 😉

Popper yang berasal dari Austria ini dan lebih banyak dikenal karena teori falsifikasinya (‘lawan’ teori verifikasi) itu membagi dunia menjadi tiga tingkatan: Read More

Apa yang terjadi jika Anda sedang mengurus perijinan di Pemerintah Kota/Kabupaten dan salah satu syarat berupa fotokopi Kartu Keluarga (KK) tertinggal dan Anda tidak membawa KK yang asli? Dapat dipastikan, Anda harus pulang, mengambil KK yang tertinggal, dan menfotokopinya. Read More

Sudah sejak lama, korupsi dipercaya sebagai penghambat utama pembangunan bangsa. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bahkan memberikan predikat kejahatan luar biasa (extraordinary crime) untuk korupsi. Sumber korupsi sangat beragam, namun bidang pengadaan barang dan jasa merupakan ‘penyumbang’ terbesar. Sebanyak 70% kasus korupsi yang ditangani KPK terkait dengan pengadaan barang atau jasa. Untuk memerangi korupsi yang sudah pada level njelehi ini, sejak 2008, Pemerintah Indonesia secara bertahap telah mengadopsi e-procurement atau Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) dengan bantuan teknologi informasi. LPSE hadir untuk menutup celah korupsi dalam proses pengadaan dengan menghadirkan transparansi proses pengadaan yang selama ini masih menjadi ‘barang mewah’ di Indonesia. Read More

Ilmu pengetahuan dapat berkembang dengan berbagai cara. Salah satunya adalah melalui publikasi yang berkualitas, sebagai salah satu indikator penelitian yang berkualitas. Dalam tradisi akademik Amerika, dikenal sebuah adagium ‘publish or perish’, melakukan publikasi atau binasa/hancur. Kalangan akademik dituntut untuk produktif dalam menghasilkan publikasi berkualitas. Tuntutan ini juga yang nampaknya menjadikan akademisi Amerika selalu menjadi yang terproduktif dalam publikasi. Read More

Pada tahun 1945, Kurt Lewin, cendekiawan yang dikenal dengan bapak psikologi sosial menuliskan dalam salah satu bukunya “There is nothing more practical than a good theory.” Hal yang kontras saya temukan pada sebuah seminar yang saya ikuti beberapa hari yang lalu yang menyatakan “teori dianggap sebagai omong kosong”. Mana yang benar?

Jawabannya tergantung pada apa yang kita maksud dengan teori. Pemahaman bagaimana teori dikembangkan tentu akan menghadirkan perspektif yang berbeda. Pemahaman akademisi sangat mungkin berbeda dengan pemahaman orang awam terkait dengan makna teori. Dalam penggunaan keseharian, kata teori mempunyai makna peyoratif yang cenderung negatif. Namun, seharusnya tidak demikian halnya di kalangan akademisi. Read More

%d bloggers like this: