Archive

Buku

nathaniel's nutmegKetika beragam komoditas bumbu, terutama bawang putih dan bawang merah, menjadi mahal dalam beberapa pekan terakhir, saya teringat sebuah buku yang menarik. Di beberapa daerah harga bawang sudah menembus angka Rp 70.000. Harga yang sangat tidak wajar. Beberapa analis mengatakan masalah ini muncul karena ‘konflik’ antarkementerian. Yang jelas, menurut statistik, sebanyak 90% bawang putih di Indonesia adalah hasil impor. Berikut kisahnya.

Dalam sebuah acara makan malam bersama dengan kolega dan pembimbing, dengan atmosfer yang sangat informal, kami mendiskusikan banyak hal. Ada yang substansial, tidak jarang hal trivial untuk menjaga komunikasi sosial. Salah satu pembicaraan terkait dengan sejarah, salah satunya menyinggung sejarah Indonesia. Sampailah pada cerita perburuan pala di kawasan timur Indonesia pada masa lampau. Guru, demikian saya sering menyebut pembimbing saya, dalama bahasa Sansekerta yang diserap ke dalam bahasa Indonesia, menceritakan sebuah buku yang pernah dibacanya. Judulnya: Nathaniel’s Nutmeg, Palanya Nathaniel. Cerita tentang pala, buah pala, dan bukan kepala. 🙂   Read More

Anda pernah mendengar istilah emotional intelligence? Saya yakin, banyak yang sudah mendengar dan bahkan sering menggunakan istilah tersebut. Pernahkan Anda membaca buku awal yang membahasnya? Mungkin semakin sedikit yang pernah. Masih ingatkan siapa nama penulisnya? Saya yakin semakin sedikit lagi.

Untuk penyegaran saja, penulis buku pertama yang membahas dan memperkenalkan istilah emotional intelligence adalah Daniel Goleman, seorang penulis, jurnalis ilmiah, dan psikolog lulusan Harvard University. Buku yang ditulis pada tahun 1996 tersebut telah mengubah pola pikir banyak orang dalam memandang kecerdasan.

Selang 11 tahun sejak buku tersebut terbit (banyak buku yang ditulis Goleman di antara waktu ini), pada tahun 2007, alias lima tahun lalu, Goleman menerbitkan buku dengan judul ‘Social Intelligence: The New Science of Human Relationship“. Istilah ini nampaknya tidak semoncer dan semasyhur emotional intelligence, pendahulunya. Ada banyak fakta menarik yang dikupas dalam buku ini. Seperti halnya buku Goleman yang lain, banyak ilustrasi ilmiah yang diberikan untuk memperkaya jawaban dan memperkuat argumen. Read More

“People spend a fortune on their appearance — cosmetics, plastic surgery, diets — everyone is trying to be more attractive. But there’s an easier way to become a beautiful person. No matter how you look, if you have a mind that’s fascinating, creative, exciting — if you’re a good thinker — you can be beautiful.”

Demikian, kalimat pembuka buku teranyar berjudul How to Have a Beautiful Mind dari Edward de Bono, ahli creative thinking yang tersohor itu. Buku yang saya beli di Bandara Ngurah Rai Denpasar ini dikemas dalam bahasa yang sederhana dan renyah. Ilustrasi yang diberikan memudahkan pembaca untuk mengikuti alur logika yang disampaikan. Read More

Alhamdulillah, blogbook — buku dalam bentuk blog, mudah-mudahan belum ada yang pernah menggunakan istilah ini 😉 — yang sudah cukup lama dipersiapkan sudah dapat daring. Blogbook ini berisi beragam tulisan ringan terkait dengan bagaimana menjadi dosen menurut seorang dosen dengan pengalaman yang masih terbatas. Jika yang diinginkan adalah tulisan berat yang sangat canggih dengan beragam teori pendukung, Anda tidak akan menemukannya.

Karenanya kritik dan saran akan sangat dihargai untuk penyempurnaan blogbook ini. Untuk menengok blogbook, sila kunjungi di http://menjadidosen.wordpress.com 

guanxiIni buku agak lama. Terbit pada 2006, dan saya membelinya pada awal tahun 2007 di sebuah toko buku di Makati, Filipina ketika mengikuti konferensi dengan biaya sepenuhnya dari IDRC Kanada.

Buku setebal 300 halaman ini berturut tentang guanxi, seni menjalin hubungan resiprokal dalam budaya China. Kasus utamanya adalah bagaimana Microsoft membangung hubungan bisnis di China mulai tahun 1984 yang dimotori oleh Bill Gates yang ketika itu baru berumur 39 tahun. Read More

what the dog sawBeruntung beberapa hari yang lalu masih bisa menyempatkan diri ke toko buku sepulang kerja. Ada buku titipan istri yang saya cari tetapi tidak ditemukan di toko tersebut. Dalam rak yangsaya lihat, saya temukan buku kolega saya, Revianto Budi Santosa, dalam bahasa Inggris tentang kehidupan di Kotagede berjudul “Life between Walls” terbitan Gramedia. Tidak ada kaitannya dengan es krim. 🙂 Kebetulan sampul plastik sudah terbuka. Saya baca sekilas. Menarik sekali. Read More

Seorang kawan, sewaktu saya masih di bangku kuliah S1, mempunyai komitmen untuk meluangkan waktu minimal 30 menit per hari untuk membaca buku. Dia merasa berdosa kalau komitmen ini tidak tertunaikan. Luar biasa! Saya tahu betul kawan tersebut memang menjaga komitmen. Sudah lama saya tidak kontak dengan dia sejak kepindahan saya dari Bandung tahun 1997. Kabar terakhir yang saya dengar, dia sekarang menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung. Read More

wisdomofcrowdsTernyata ungkapan di atas tidak selamanya benar. Dalam buku The Wisdom of Crowds, James Surowiecki menyatakan bahwa pertanyaan tersebut benar jika empat kondisi terpenuhi: (a) adanya opini yang beragam (diversity of opinion) – setiap orang harus mempunyai informasi privat, meskipun hanya merupakan interpretasi lain atas fakta yang ada, (b) independen – opini orang tidak ditentukan oleh opini orang-orang sekitarnya, (c) desentralisasi – orang dapat memanfaatkan pengetahuan lokal, dan (d) agregasi – adanya mekanisme yang menggabungkan informasi privat ke dalam keputusan kolektif. Read More

diffusionIni adalah kolekasi buku kedua saya dengan judul yang sama. Buku ini harus dipesan lewat Amazon.com karena tidak dijual di Indonesia. Banyak cerita yang menyertai buku dengan judul Diffusion of Innovation karya Everett M. Rogers ini. Buku pertama, saya beli tahun 2002 ketika sedang sekolah di Norwegia. Buku setebal 550 halaman ini nampaknya sudah saya baca berkali-kali. Ada sesuatu yang luar biasa di sana. Betapa tidak, edisi pertama buku ini terbit tahun 1962 dan selalu direvisi dengan tambahan kasus-kasus modern sampai tahun 2003; 41 tahun.

Pada tahun 2003, seorang mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran, Bandung kirim e-mail ke saya. Niatnya sederhana: pinjam buku untuk difotokopi. Dia sengaja datang dari Bandung dan bertamu ke rumah saya untuk meminjam beberapa jam buku tersebut untuk dikopi. Malam harinya pun dia kembali ke Bandung. Luar biasa perjuangan mahasiswi ini untuk mendapatkan beberapa bab dalam buku ini. Dia tahu saya mempunyai buku tersebut karena membaca salah satu tulisan saya yang bisa diakses di Internet dan salah satu pustakanya adalah buku ini. Read More

Tak terasa sudah satu bulan saya tidak posting satu pun di blog ini. Banyak sebenarnya yang ingin ditulis, tetapi energi dan waktu kadang berkata lain. Halah .. alasan saja. 🙂 Di sela-sela aktivitas harian, alhamdulillah masih ada sebagian waktu yang tersisih untuk membaca. Buku karya Ram Charan, seorang konsultan manajemen kelas jagat, yang berjudul “Know How: The 8 Skills That Separate People Who Perform from Those Who Don’t”, menarik perhatian saya ketika berjalan-jalan di toko buku.

Berbekal analisis terhadap pengalamannya yang berwarna dan kaya, Ram Charan, menyimpulkan 8 know how yang harus dimiliki oleh pemimpin perusahaan untuk bisa menjadi pemimpin dan memenangkan persaingan yang semakin ketat dengan konstelasi yang terus berubah dengan sangat cepat. Apa saja 8 kemampuan tersebut? Read More

%d bloggers like this: