Archive

Ulasan

Di tengah skeptisisme publik atas program pemberantasan korupsi yang terkesan setengah hati, sebuah harapan baru kembali dimunculkan oleh Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) pada penghujung 2012. Mulai 2013, pengadaan layanan koneksi Internet sampai dengan 30 Mbps untuk lembaga pemerintah dapat membeli langsung tanpa melalui lelang. Sebanyak 27 Internet Service Provider (ISP) telah bergabung untuk inisiatif ini. Ini tentu baru langkah awal dalam pengembangan e-katalog (http://e-katalog.lkpp.go.id) dalam pengadaan barang/jasa secara online (e-procurement). Di waktu mendatang diharapkan semakin banyak barang/jasa dengan spefisikasi yang terstandardkan (seperti kendaraan bermotor, alat-alat kesehatan) yang masuk dalam e-katalog. Dalam e-katalog yang tersedia online dicantumkan spesifikasi barang/jasa dan harga yang ditawarkan oleh rekanan. Read More

Pada tahun 1968, von Bertalanffy memperkenalkan sebuah ide besar, sebuah teori yang dikenal dengan nama General System Theory (GST). GST merupakan hasil pemikirannya setelah membandingkan banyak ‘hukum’ atau ‘konsep’ dalam beragam disiplin ilmu. von Bertalanffy mengungkapkan apa yang disebutnya dengan isomorphic law, hukum yang mirip dalam beragam disiplin. Dalam bukunya, diperkenalkan juga pendekatan organik sebagai antitesis dari pendekatan mekanik dalam memandang sebuah sistem. Konsep GST saat ini telah diterapkan dalam banyak disiplin, mulai dari humaniora sampai dengan rekayasa alias teknik.

Saya tidak akan mendiskusikan GST dalam entri blog ini, tetapi proses menghubungkan antartitik (connecting the dots) yang digunakan oleh von Bertalanffy, yang menurut saya menarik. Pola pikir ini bisa kita gunakan untuk menajamkan analisis atau memperluas perspektif dalam memandang sesuatu. Read More

Firman menunggu penerbangannya dari Jakarta menuju Yogyakarta. Masih sekitar dua jam sebelum boarding. Setelah membayar ‘biaya mampir’ dengan potong poin kartu kredit, Firman masuk ke ruang tunggu. Sore itu ruang tunggu Garuda Indonesia di Bandara Soekarta Hatta, tidak seperti biasanya, cukup lengang. Ruang tunggu menyediakan suasana yang lumayan nyaman untuk mengistirahatkan badan sambil menikmati kudapan yang disediakan.

Di salah satu pojok, Firman melihat seorang ibu yang merasa dikenalnya. Si Ibu sedang membaca sebuah buku. Judulnya ‘Outlier’, karangan Malcolm Gladwell.

“Assalamu’alaikum Bu”, sapa Firman.

“Wa’alaikumussalam Mas. Silakan bergabung di sini”, jawab Ibu tersebut sambil mempersilakan Firman. Read More

Beberapa hari lalu, di kolom ini (SKH Kedaulatan Rakyat – red :-)), kolega saya menulis tentang ide pemanfaatan teknologi informasi (TI) untuk mengontrol konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Jika ide ini diimplementasikan, dengan segala tantangan yang menyertainya, pemerintah Indonesia akan menambah layanan e-government, atau penggunaan TI di sektor pemerintah. Masih banyak contoh layanan e-government yang bisa diberikan, termasuk pembayaran pajak bumi bangunan secara online atau melalui ATM bank, lelang pengadaan online, layanan perijinan terpadu satu pintu dengan bantuan TI, dan fasilitasi komplain dari masyarakat dengan beragam kanal (telepon, layanan pesan pendek (SMS), situs web).

Saat ini, semua layanan ini, sudah bisa dinikmati atau dimanfaatkan oleh masyarakat. Masyakarat memang seharusnya dijadikan penikmat utama dari implementasi e-government. Ini juga yang menjadi tema utama e-Government Survey 2012 yang dirilis oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) beberapa hari lalu. Tema besar tahun ini adalah e-Government for the People, e-government untuk masyarakat. Manfaat yang bisa dinikmat oleh masyarakat antara lain adalah peningkatan kualitas layanan publik, transparansi beragam proses pemerintah, dan terbukanya pintu partisipasi langsung. Read More

Apa yang terjadi jika Anda sedang mengurus perijinan di Pemerintah Kota/Kabupaten dan salah satu syarat berupa fotokopi Kartu Keluarga (KK) tertinggal dan Anda tidak membawa KK yang asli? Dapat dipastikan, Anda harus pulang, mengambil KK yang tertinggal, dan menfotokopinya. Read More

Beberapa hari yang lalu, baby sitter yang bekerja di rumah bercerita ketika mengikuti program kuis yang berhadiah pulsa melalui SMS di ponsel. Alih-alih mendapatkan hadiah pulsa, justru pulsa ponselnya yang terkuras. Seorang kawan juga mengeluhkan hal serupa, karena pulsa ponsel istrinya tersedot tanpa sebab yang jelas. Kasus seperti inilah yang dalam beberapa hari ini menjadi perbincangan publik; kasus “sedot pulsa”. Kasus seperti ini bukan cerita baru, melainkan praktik tidak etis yang sudah berlangsung lama. Pada tahun 2007, misalnya, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) sudah mengendus masalah ini. Pada saat itu, BRTI menengarai banyak penyedia konten (content provider) yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pemasukan besar dalam rangka meningkatkan peringkat untuk mendapatkan dukungan penuh dari operator. Berita terbaru (KR, 06/10/2011) menyebutkan bahwa 60 penyedia konten nakal dimasukkan ke dalam daftar hitam dan tidak boleh bekerjasama lagi dengan operator. Read More

Dalam beberapa minggu terakhir, rakyat disuguhi tontonan perseturuan antarlembaga negara pengawal hukum, Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK) versus Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan Kejaksaan Agung (Kejagung). Beragam skenario berkembang, berbagai macam dugaan masih mencari jawab. Rakyat nampaknya sudah mulai eneg dengan suguhan tontonan yang nampaknya masih panjang untuk menyelesaikan episode terakhir. Read More

Ketika masih mahasiswa, saya teringat, berbagai pelatihan yang saya ikuti. Beberapa pelatihan diselesaikan pada malam hari, bahkan dini hari. Malam itu kami berkumpul di sebuah lapangan di tengah kampus ITB dan acara pun dimulai. Sesi malam itu, yang berakhir sekitar jam 2 pagi, adalah sesi terakhir. Materi utamanya adalah penguatan tim. Dalam suasana hening dan gelap. Kamipun secara bersama-sama berteriak (mungkin agak sedikit bodoh, kenapa harus berteriak), untuk menjawab pertanyaan: Who is the leader? Siapa itu pemimpin? Read More

Berikut adalah salinan tulisan salah satu guru besar UII yang dimuat di Kedaulatan Rakyat 16 Oktober 2007. Menurut saya topik yang diangkat sangat memprihatinkan kita semua. Fenomena ini juga sudah menjamur di Indonesia, termasuk di Yogyakarta yang merupakan Kota Pelajar. Ini adalah “pelacuran akademik” (ops! maaf) yang nampaknya perlu kita perhatikan bersama-sama.

Iklan pembuatan skripsi atau tesis sudah dilakukan terang-terangan. Tidak sulit menemukan iklan yang berkedok membantu bimbingan skripsi atau tesis. Tidak percaya, coba buku telepon halaman kuning dilihat. Atau kalau Anda berkeliling lingkungan kampus di Yogyakarta, tidak sulit mencari spanduk atau tempelan di pohon atau tiang listrik yang menawarkan jasa tersebut. Atau kalau Anda kurang puas, misalnya, coba lihat ini http://www.skripsife.com. Kalau semua sudah seperti ini, mau dikemanakan kejujuran akademik. Tidak salah jika sarjana yang dihasilkan dengan proses ini pun bermental koruptor dan penipu.

Ini salinan tulisan lengkap Prof. Moh. Mahfud MD *).

Ancaman Lunturnya Kejujuran Ilmiah

Dulu, minimal sampai akhir tahun 1980-an, jika kita berhasil menulis buku atau artikel di jurnal ilmiah, bahkan artikel di media massa umum rasanya sangat bangga. Seorang dosen baru dianggap utuh identitas profesinya jika bisa menulis dalam jenis-jenis tulisan tersebut. Sang dosen bisa berbangga diri dengan predikat ‘ilmuwan’ yang memenuhi syarat untuk bekerja dalam dunia akademik yang menekuni aktivitas keilmuan dengan segala etikanya.

Tetapi sekarang ini keberhasilan menulis buku atau artikel ilmiah tidaklah terlalu membanggakan. Karya tulis ilmiah tidak lagi eksklusif sebagai karya yang benar-benar ilmiah karena sekarang ini sudah sangat banyak orang menulis, tetapi tulisannya tak layak dihargai sebagai karya ilmiah, bahkan banyak yang dibuat dengan melanggar etika dan kejujuran ilmiah.

Sebenarnya, kalau berjalan baik, banyaknya karya tulis harus disambut gembira karena berarti ada kemajuan dalam kegiatan keilmuan kita. Tetapi sekarang ini banyak karya tulis hasil plagiat atau karya ghost writer (penulis hantu, penulis gelap) yang dibayar oleh penulis formalnya.

Untuk Gagah-gagahan
Sekarang banyak tulisan tak bermutu yang bermunculan. Ada yang asal tulis tapi bisa terbit karena mampu membayar penerbit instant yang mau menerbitkannya asal penulisnya mau membayar mahal. Fenomena ini sangat aneh karena biasanya orang menulis mendapat bayaran (honorarium atau royalty), tetapi justeru sekarang banyak penulis yang mau membayar asal tulisannya diterbitkan. Bahkan ada yang mendirikan penerbit untuk menerbitkan bukunya sendiri yang kemudian disebar gratis tapi tak dibaca orang namun dibaca sendiri dan dikagumi sendiri.

Beberapa dosen pernah datang kepada saya untuk minta kata pengantar atas bukunya yang akan diterbitkan tetapi, katanya, dia harus membayar sekian puluh juta kepada penerbit. Untuk apa menulis buku kalau untuk penerbitannya harus membayar? Ternyata hanya untuk kredit kenaikan pangkat dan untuk gagah-gagahan bahwa dia punya buku yang diterbitkan.

Banyak juga politisi yang menulis buku atau artikel di media massa, tetapi dituliskan oleh orang lain alias ‘ghost writer’. Ada juga politisi yang suka mengomentari sesuatu di koran kemudian komentar-komentar itu disuruh tuliskan kepada seorang wartawan agar diberi landasan teori dan analisis, padahal wartawan itu tak kompeten di bidang itu.

Seorang dirjen di satu departemen pernah dengan bangga menyerahkan buku kepada saya yang berisi masalah-masalah hukum. Ternyata buku itu merupakan himpunan pidatonya yang semula dituliskan oleh stafnya untuk kemudian disuruh tulis kepada seorang wartawan menjadi buku. Karena wartawan itu hanya bagus dalam menulis berita atau artikel pop tapi jarang menulis ilmiah maka buku itu menjadi aneh dan sama sekali tidak ilmiah. Jangankan membuat situasi rujukan, menulis daftar pustaka saja tak karuan.

Karya Jiplakan
Tulisan untuk gagah-gagahan seperti itu sekarang ini bukan hanya menjadi trend politisi atau pejabat birokrasi yang ingin gengsinya naik. Tetapi juga banyak melanda kalangan akademisi, mahasiswa pasca sarjana, bahkan dosen yang ingin menaikkan jabatan akademiknya.

Ada dosen yang lebih parah daripada sekadar memaksakan menerbitkan karya tulisnya dengan membayar penerbit dari sakunya sendiri. Mereka ini bahkan ada yang menjiplak karya orang lain untuk diaku sebagai karyanya tanpa merasa malu. Mereka ini juga meminta wartawan yang bagus dalam membuat reportase untuk menuliskan artikel atau makalah atas namanya tetapi honornya diberikan kepada yang menuliskannya setelah ditambah sedikit-sedikit. Si ghost writer mendapat uang, sedangkan si dosen yang sejatinya bodoh mendapat nama sebagai penulis.

Orang seperti ini sama sekali tidak punya integritas keilmuan (kejujuran ilmiah) dan tak mungkin dapat memberi sumbangan apa pun bagi kemajuan pendidikan. Malah dosen yang seperti ini membuat mutu perguruan tinggi kita jadi berantakan. Orientasinya hanya ingin naik jabatan akademik tetapi tak mau berpikir dan bekerja secara ilmiah sehingga dia suka menyewa ghost writer atau menjiplak.

Saya pernah diminta menjadi penelaah sebuah disertasi yang menurut saya bagus, tetapi setelah diuji ternyata yang bersangkutan sama sekali tak menguasai isinya. Ternyata sebagian besar isinya menjiplak karya orang lain. Saya memrotes keras dan menyatakan bahwa demi integritas ilmiah dan menyelamatkan dunia akademik yang bersangkutan harus ‘dieksekusi’ untuk di-drop out atau harus memulai dari awal lagi yang pembimbingannya harus diawasi kalimat per kalimat.

Berdasar hasil perbincangan saya dengan banyak akademisi sekarang ini memang banyak dosen yang menggunakan ghost writer baik untuk menulis disertasi maupun untuk menulis makalah, bahkan menulis kolom-kolom di koran. Untuk naik pangkat tak jarang ada dosen yang mencuri karya temannya bahkan ada yang mencuri data dan analisis karya mahasiswa yang dibimbingnya yang kemudian diklaim sebagai karyanya sendiri.

Kucilkan dan Sumbat
Menurut saya orang-orang yang seperti ini sama saja dengan maling harta yang dari sudut agama adalah dosa. Oleh sebab itu orang yang seperti ini harus dihukum dan dikucilkan dalam proses-proses akademis serta tak perlu diberi promosi apa pun bahkan jalur promosinya sebaiknya disumbat. Mengapa? Karena orang-orang yang suka melanggar etika dan moral akademis seperti ini sangatlah berbahaya bagi kemajuan dunia pendidikan. Kalau orang sudah berani melakukan hal seperti itu maka jika diberi kepercayaan dan tanggung jawab dia dapat berkhianat pada kepercayaan dan tanggung jawab yang dipikulnya.

Orang yang tak punya integritas keilmuan dengan mengaku-aku dan mencuri karya orang lain pasti tidak akan jujur kepada masyarakat. Kalau ada peluang korupsi orang yang seperti ini akan korupsi juga terhadap hak-hak masyarakat. Malahan kalau tak ada peluang dia akan mencari-cari dan membuat peluang untuk korupsi.

Maka, demi menyelamatkan dunia pendidikan kita, setiap perguruan tinggi harus bertindak tegas terhadap orang yang seperti ini. Depdiknas pun tak boleh memble melihat keadaan seperti ini, melainkan harus memberi sanksi disiplin yang keras baik kepada orangnya maupun kepada perguruan tinggi yang mentolerirnya. Kalau tidak begitu, lunturnya kejujuran ilmiah akan terus terjadi tanpa bisa dibendung.

*) Prof Dr Moh Mahfud MD, Guru Besar pada Fakultas Hukum UII dan Pengajar Pascasarjana di lebih dari 10 universitas.

Tulisan ini mudah-mudahan menjadi awal sebuah refleksi jangka panjang terkait dengan perkembangan kampus.

Hari ini (29/09/2007), kebutulan saya menjadi salah satu pembicara dalam Konferensi Pembelajaran 2007 yang dihelat oleh Pusat Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional (P3AI) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Konferensi ini digelar dalam rangkaian pelaksanaan program-program TPSDP P3AI. Pembicara lain yang hadir adalah pakar di bidang ini, termasuk Prof. Bambang dari UPN, Dr. Sunarto dari UNY, dan Drs. Djoko, M.Hum. dari UGM. Meskipun saya sebagai salah satu pembicara, saya belajar banyak dari forum ini.

Dalam Konferensi ini saya mempresentasikan pengalaman Universitas Islam Indonesia dalam implementasi e-learning. Alhamdulillah sambutan cukup menarik. Salah satu yang menarik, dalam sesi tanya jawab muncul uneg-uneg salah satu peserta tentang dosen luar biasa, sebutan halus untuk dosen yang biasa di luar sehingga meninggalkan tanggungjawab pokoknya, ketika membahas tentang e-learning.

Ternyata setelah ditelusur, ini adalah masalah umum. Alasan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih menjanjikan banyak dijadikan pembenaran. Saya yakin siapapun tidak ada yang menampik arti penting uang dalam kehidupan. Tetapi kalau uang didapatkan dengan cara yang kurang patut apa yang akan terjadi. Apalagi diikuti dengan pengabaian tanggungjawab dan menelantarkan mahasiswa. Sebuah blog mahasiswa yang sempat saya baca bahkan mengeluhkan masalah ini. Mahasiswa tersebut seakan-akan kehabisan kata-kata untuk menuliskan kejengkelannya ketika dosen sangat jarang masuk dengan alasan yang jelas. Atau, dengan alasan yang jelas tetapi tidak masuk akal. Sama saja.

Saya pribadi pun, sebagai pemegang amanah, pernah menegur beberapa dosen. Beberapa menyambut baik. Mengucapkan terima kasih telah diingatkan, meskipun perubahan yang dilakukan masih dalam urutan 27. Namun ada juga yang kebakaran jenggot, meskipun dosen tersebut tidak punya jenggot sedikitpun. 🙂 Ah, yang penting saya telah melaksanakan salah satu tugas. Menyampaikan pesan kebaikan. Bukankah tugas manusia, termasuk nabi, hanya sebagai penyampai pesan kebenaran.

Sekilas alasan ini memang final. Tetapi kalau ditelisik lebih jauh, ada yang mesti diperhatikan. Bukankah Allah menyuruh kita untuk khawatir akan musibah yang ditimpakan kepada sebagian dari kita yang berbuat aniaya. Kita yang tidak berbuat aniaya pun tidak akan luput dari musibah tersebut. Hilangnya kepercayaan mahasiswa terhadap dosen dan lembaga adalah salah satu musibah tersebut. Jika masalah ini berlanjut, tidaklah mengherankan jika animo calon mahasiswa juga menurun karena di luar sana lulusan kita lebih senang menceritakan kekecewaan daripada kepuasan. Diakui atau tidak, black campaign tanpa sengaja ini akan berdampak jangka panjang.

Ekspertis dan in business

Solusinya? Dosen harus kembali kepada khittahnya. Komitmen dan ghiroh harus selalu dipelihara dan dipupuk. Tanpa ini nampaknya yang ditampilkan adalah pengkhiatan atas sebuah amanah. Catur Dharma (pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian pada masyarakat, dan dakwah islamiyah) haruslah menjadi pedoman nyata dalam aktivitas keseharian.

Memang tidak ada yang menyangkal kalau mengandalkan penghasilan dari ngedosen seringkali dirasa tidak cukup. Sebetulnya tidak ada yang melarang dosen beraktivitas di luar. Yang menjadi masalah bukannya aktivitas tersebut, tetapi pengabaian amanah. Saya termasuk yang percaya banyak aktivitas yang bisa dilakukan untuk menambah penghasilan tanpa meninggalkan amanah. Kalau dosen sadar bahwa keunggulannya adalah pada ekspertis yang dipunyai dan menyadari kita bisa on business dan tidak terjebak in business, nampaknya masalah yang terjadi bisa teratasi. Sebagian besar dosen “luar biasa” tidak mengandalkan ekspertis dalam beraktivitas di luar, dan sebagian lain terjebak in business, mengurusi bisnis dari dekat dan terjerembab di dalamnya.

Menjadi peneliti, konsultan, menulis buku, atau menjalankan bisnis dengan prinsip on business merupakan beberapa tawaran yang dapat menyeimbangkan hidup sebagai dosen dengan tetap menjaga amanah tanpa menutup diri dari kemungkinan mendapatkan penghasilan tambahan untuk keluarga. Saya sering katakan, “orang yang ingin kaya dengan menjadi dosen adalah orang yang bodoh”.

%d bloggers like this: