Archive

Uneg-uneg

Sebuah email yang masuk siang itu membuat saya dan beberapa kawan tersenyum kecut dan sekaligus merasa kasihan. Seorang lulusan meminta penggatian berkas digital skripsi yang diunggah di repositori. Apa pasal? Calon pasangannya mempunyai sebuah permintaan kepadanya untuk menghapus nama seseorang yang termaktub dalam daftar ucapan terima kasih skripsinya. Tentu, permintaan tersebut tidak kami kabulkan. Skripsi adalah dokumen akademik resmi.

Moral apa yang kita bisa petik? Kawan saya mengatakan, “jejak digital itu sangat kejam.” Saya sepakat. Terlalu banyak kisah di media daring, khususnya media sosial, yang memperkuat pendapat ini . Ketika seseorang ‘berulah’ dan memancing kemarahan banyak orang, tidak jarang dia ‘ditelanjangi’ dengan bukti dari jejak digital lampaunya. Bahkan, Pemerintah Amerika Serikat, menggunakan jejak digital di media sosial lima tahun terakhir sebagai salah satu dasar penerbitan visa pengunjung. Read More

Advertisements

Sudah hampir enam tahun, Fulan tidak lagi menggunakan perantara agen perjalanan konvensional ketika merencanakan perjalanannya. “Semuanya bisa saya lakukan secara daring (online) dan dalam waktu singkat. Saya pun bisa membandingkan harga beragam maskapai,” Fulan menyebut alasannya. Jika semakin banyak orang seperti Fulan, kira-kira bagaimana nasib agen perjalanan? Diskusi bersama pelaku industri pariwisata ini, yang tergabung dalam Asita (Association of the Indonesian Tours & Travel Agencies) Daerah Istimewa Yogyakarta, memunculkan banyak hal menarik. Read More

Setiap teknologi hadir dengan dua sisi: positif dan negatif. Internet, dan lebih khusus media sosial, tidak terlepas dari ‘hukum alam’ ini. Kecepatan propagasi konten melalui Internet melebihi kecepatan perambatan cahaya. Yang yang diketik di Indonesia saat ini di media sosial, dapat terbaca di belahan bumi lain hanya dalam hitungan detik. Ketika yang terlepas adalah hoax, konten palsu atau berita bohong yang dipabrikasi, sampai saat ini, belum ada cara efektif untuk menghentikannya. Di Indonesia, isu penyebaran hoax ini pun harus direspons oleh Presiden Jokowi. Menkominfo menimpali dengan informasi bahwa terdapat sekitar 800,000 situs web penyebar hoax di Internet. Pesan yang tersampaikan sangat kuat: penyebaran hoax telah sampai pada taraf yang mengkhawatirkan. Read More

Namanya Wael Ghonim. Dia adalah pegiat Internet di Mesir dan insinyur komputer Google. Revolusi Mesir yang menurunkan Presiden Hosni Mubarak pada 2011 tidak dapat dilepaskan darinya. Ghonimlah yang mengelola halaman Facebook yang memulai protes karena seorang pemuda bernama Khaled Saeed dibunuh oleh dua orang polisi di Kairo. “We are all Khaled Saeed”, slogan yang diusungnya yang kemudian menjadi viral. Saat itu, media sosial dapat menyatukan rakyat Mesir untuk melawan penguasa yang dianggapnya zalim. Ketika ‘musuh tunggal’ terdefinisi dengan jelas, rakyat Internet (netizen) bersatu. Kini, netizen Mesir terbelah, terlebih setelah Presiden Mohamed Morsi digantikan oleh Abdel Fattah al-Sisi melalui proses yang tidak biasa. Dua kelompok netizen tersebut dilabeli dengan ‘Secularist’ dan ‘Islamist’. Media sosial yang sama, yang dulu menyatukan bangsa Mesir, kini telah mencerai-beraikan mereka. Read More

Di Indonesia, ojek telah menjadi salah satu layanan transportasi publik informal sejak beberapa dekade lalu, mulai sekitar awal 1970an. Yang dulunya, ojek dilayani menggunakan sepeda, akhirnya beralih ke sepeda motor. Ojek telah memberikan alternatif menyenangkan ketika layanan transportasi publik formal yang cukup dan handal tidak tersedia. Layanan serupa ojek juga dapat ditemukan di beberapa negara Asia lain, seperti Thailand dan Vietnam.

Mulai sekitar lima tahun lalu, layanan ojek di Indonesia, mendapatkan warna baru, dengan hadirnya layanan ojek berbantuan aplikasi bergerak. Di awal kemunculannya, beberapa gejolak penolakan terekam dalam media cetak dan digital. Namun, saat ini berita serupa sudah tidak banyak ‘terdengar’. Read More

Saeni (Bu Eni) adalah orang biasa yang banyak menghiasi media massa dan media sosial pekan lalu, bahkan sampai hari ini. Bu Eni adalah penjual Warteg di Serang yang ditertibkan oleh Satpol PP. Yang menjadikan ‘heboh’ adalah ketika barang dagangan Bu Eni disita. Beragam kalangan berkomentar, mulai masyarakat online (netizen), tokoh agama, sampai dengan tokoh politik. Bahkan, Buya Ahmad Syafii Maarif menyebut tindakan tersebut sadis. Banyak simpati mengalir dari beragam kalangan. Read More

Pekan lalu, pada 27 Mei 2016, Presiden Jokowi kembali membuka satu kanal media sosial baru. Kali ini adalah kanal khusus pada Youtube (www.youtube.com/c/jokowi). Sebelumnya, Jokowi telah ‘eksis’ di media sosial lain, Facebook, Twitter, dan Instagram. Sampai 2 Juni 2016, halaman Facebook Sang Presiden telah disukai oleh lebih dari 6 juta orang, akun Twitter dan Instagramnya telah diikuti oleh lebih dari 5 juta dan 740 ribu orang. Kanal Youtube yang baru berumur beberapa hari tersebut telah dilanggani lebih dari 12.000 orang.

Entah merupakan sebuah kebetulan atau tidak, beberapa hari yang lalu, Twiplomacy (twiplomacy.com), sebuah lembaga internasional, merilis hasil surveinya yang menempatkan Jokowi (@Jokowi) pada peringkat sembilan pada daftar The 50 Most Influential World Leaders in 2016 yang dihitung berdasar cacah cuit terusan (retweet) per cuit (tweet). Setiap cuit Jokowi, rata-rata mendapatkan 1.224 cuit terusan. Akun resmi Presiden Amerika Serikat (@POTUS, President of the United States) memempati urutan pertama dengan 12.350 cuit terusan per cuit. Urutan kedua ditempati oleh Raja Salman dari Saudi Arabia, yang setiap cuitnya diteruskan oleh hampir 10.000 cuit. Read More

%d bloggers like this: