Polarisasi [Media] Sosial

Namanya Wael Ghonim. Dia adalah pegiat Internet di Mesir dan insinyur komputer Google. Revolusi Mesir yang menurunkan Presiden Hosni Mubarak pada 2011 tidak dapat dilepaskan darinya. Ghonimlah yang mengelola halaman Facebook yang memulai protes karena seorang pemuda bernama Khaled Saeed dibunuh oleh dua orang polisi di Kairo. “We are all Khaled Saeed”, slogan yang diusungnya yang kemudian menjadi viral. Saat itu, media sosial dapat menyatukan rakyat Mesir untuk melawan penguasa yang dianggapnya zalim. Ketika ‘musuh tunggal’ terdefinisi dengan jelas, rakyat Internet (netizen) bersatu. Kini, netizen Mesir terbelah, terlebih setelah Presiden Mohamed Morsi digantikan oleh Abdel Fattah al-Sisi melalui proses yang tidak biasa. Dua kelompok netizen tersebut dilabeli dengan ‘Secularist’ dan ‘Islamist’. Media sosial yang sama, yang dulu menyatukan bangsa Mesir, kini telah mencerai-beraikan mereka.

Bagaimana dengan Indonesia? Sejarah mencatat, media sosial telah digunakan untuk mobilisasi opini netizen guna memberi tekanan moral. Sebut misalnya, kasus ‘Cicak versus Buaya’ ketika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersitegang dengan Kepolisian Republik Indonesia, yang kemudian berlanjut dengan kasus ‘Bebaskan Bibit Chandra’, dua petinggi KPK yang dikriminalisasi. Masih banyak kasus yang mengusik rasa keadilan yang ‘dilawan’ melalui media sosial.

Polarisasi Netizen

Namun, kondisi sangat berbeda akhir-akhir ini dengan mudah dapat ditemukan. Netizen saling serang dan saling merundung. Polarisasi netizen paska pemilihan presiden adalah contoh yang paling kentara. Kampanye hitam dan berita bohong yang berkeliaran dengan mudah selama musim kampante punya andil di sini. Kasus dugaan penistaaan agama yang dilakukan oleh Ahok, yang memicu demonstrasi besar 4 November 2016 adalah contoh lainnya. Ada dua kelompok netizen yang berseberangan. Polarisasi ini semakin runcing ketika netizen yang tidak teridentifikasi dengan kepentingan tertentu menungganggi momentum ini. Seperti halnya di Mesir, media sosial, tidak lagi mendekatkan netizen, tetapi justru membawanya ke dalam jurang polarisasi yang dalam.

Jika hal ini tidak terkendali, apa akibatnya? Pertama, yang paling kentara adalah disharmoni sosial. Netizen terbelah. Energi positif terkuras tanpa manfaat. Netizen bukanlah orang yang berbeda dengan rakyak biasa dalam dunia nyata. Ketika kedewasaan dalam berbeda pendapat belum matang, risiko ini sangat besar. Pengalaman demokrasi dan kebebasan berpendapat Indonesia baru seumur jagung. Kurva pembelajaran rakyat dalam hal ini masih tumpul, belum terasah. Kedua, akibatnya, peluang panen manfaat dari media sosial tertutup. Ketika diskusi sehat dan santun tidak mendapatkan ruang, maka kehadiran media sosial tidak akan membuka wawasan. Ketika media sosial mempertontonkan konflik verbal penuh sarkarme secara telanjang, maka netizen akan dengan mudah menjadi masokis sosial terlatih yang tuna empati. Sisi positif media sosial secara pelan tapi pasti tertutup awan pekat penuh prasangka dan kebencian.

Sayangnya, kanal media sosial yang baru seperti WhatsApp dan Telegram, yang semakin banyak digunakan oleh netizen untuk membentuk kelompok diskusi, tidak membantu mencegah polarisasi. Sebaliknya, kanal-kanal ini semakin memperkuat echo chamber dan confirmation bias. Mereka cenderung berkumpul dengan anggota yang memiliki pandangan yang sama.

Harmoni Sosial

Apakah media sosial bisa didesain khusus untuk meningkatkan harmoni sosial dan mencerahkan? Setelah Revolusi Mesir terjadi, Ghonim ‘menghilang’ beberapa saat dan akhirnya hadir kembali dengan Parlio (parlio.com), sebuat media sosial yang didesain untuk diskusi secara serius dan beradab. Media sosial populer, seperti Twitter atau Facebook, tidak didesain secara khusus untuk kepentingan ini. Tiadanya verifikasi keanggotaan dapat membuka banyak pintu aktivitas jahat dengan identitas palsu atau menggunakan ‘robot’ yang didesain untuk itu. Sila kunjungi beberapa topik diskusi di Parlio. Identitas anggota sangat jelas. Perbedaan pendapat ada di banyak diskusi, namun semuanya dilakukan dengan santun. Poin-poin menarik dan menginspirasi diberikan oleh anggota dengan legitimasi tinggi.

Berbeda pendapat sangat lumrah, tidak haram. Etikalah yang membedakan: apakah perbedaan pendapat menjadikan sekat baru atau justru memperkaya perspektif untuk hidup dengan semangat koeksistensi. Saling memahami adalah masalah berada pada tangga nada yang sama dan tidak mengharuskan keterampilan memainkan instrumen musik yang sama. Dalam kehidupan sosial, adakah yang lebih indah dibandingkan hidup berdampingan dalam damai?

polarisasi-media-sosial-gambar

Contoh polarisasi netizen dalam menyikapi aksi demonstrasi 4 November 2016 yang lalu.

 Ditulis bersama dengan Ismail Fahmi, Ph.D. Tulisan telah dimuat di Rubrik Opini SKH Kedaulatan Rakyat, 3 Desember 2016.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: