How to Read a Person Like a Book

Anda percaya kalau pose lelaki penelepon no. 1 adalah (mungkin) salesman yang menganggap orang di ujung telepon lainnya sangat berarti bagi dia. Penelepon kedua adalah mungkin seorang suami yang terlihat jemu mendengar pembicaraan membosankan dengan istrinya, meskipun dia terlihat nyaman seperti tercermin dalam posenya yang santai. Kalau Anda dekati, mungkin Anda akan mendengarkan kata-kata, “Ya… ya…”. Bisa jadi dia juga sedang berbicara dengan kawan lama yang sangat antusiastik.

Yang ketiga mungkin orang yang sedang jatuh cinta dan tidak ingin diketahui orang lain. Dia bahkan memperlakukan gagang telepon seakan-akan memeluknya. Kalau Anda tidak percaya, jangan baca buku ini.

Buku yang berjudul How to Read a Person Like a Book ini ditulis sebelum saya lahir, tahun 1971 dan sudah naik cetak sebanyak 39 kali. Buku ini adalah tentang bagaimana membaca bahasa yang tidak mungkin dipalsukan. Mulut bisa dusta, tetapi bahasa tubuh sulit. Ada kendali bawah sadar yang tidak bisa kita kendalikan. Jabat tangan seorang yang tulus dengan yang tidak tulus pun akan terasa berbeda. Lihat pada gambar seorang perempuan yang menunjukkan simpati terdalamnya dengan jabat tangan politisi. Terasa berbeda.

Tentu saja pengetahuan seperti ini tidak serta merta menjadikan kita sebagai hakim tanpa cela. Bahasa tubuh bagaimana pun juga bisa multi-interprestasi. Seorang yang kelihatan murung di depan Anda bisa jadi penyebabnya bukan Anda, tetapi nun jauh di sana. Tetapi dengan mengetahui bahasa tubuh, yang di buku ini dihasilkan dari ribuan kasus, akan membantu kita bersikap dengan lebih baik.

Kalau Anda sebagai negosiator, Anda dapat memanfaatkannya untuk mengarahkan negosiasi. Kalau Anda salesman, Anda bisa melihat respon calon konsumen Anda. Anda tidak perlu menghabiskan waktu yang banyak untuk konsumen yang sudah jelas tidak akan mengikuti rayuan Anda. Anda seorang penceramah atau dosen, Anda akan tahu kapan harus melibatkan audien dalam dialog, kapan harus berhenti bicara.

5 comments
  1. Wahyu said:

    interaksi mempelajari bahasa tubuh ya pak

  2. fathulwahid said:

    Betul mas. Bahasa tubuh adalah yang paling jujur. Mempelajari bahasa tubuh = mempelajari kejujuran. Asal tidak asal su’udhon (berburuk sangka – red) terus.πŸ™‚

  3. soekartawi said:

    You wrote: ‘…Anda percaya kalau pose lelaki penelepon no. 1 adalah (mungkin) salesman yang….’

    ….Masak sih salesman pakai jas dan dasi dan bawa buku?. Saya kira kok Pak Fathul keburu-buru mau presentasi makalahnya di suatu seminar, karena HPnya ketinggalan di rumah..makanya ia pakai telp umum….!

  4. iIpitunichio said:

    dah lama saya cari buku ini, ada gak yg versi bhs lndonesia. dmn belinya?tlg minta infonya dong ke email saya. thans!

  5. fathulwahid said:

    @Prof. Soekartawi bisa saja. Tapi bisa jadi ya.πŸ™‚

    @ iLpitunichio, Sayang saya tidak menemukan yang berbahasa Indonesia. Yang versi Inggris mudah ditemukan di toko buku Periplus yang biasanya punya outlet di bandara-bandara di Indonesia. Bukunya kecil dan cukup tipis. Cuma butuh beberapa jam untuk membacanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: