Karl Popper dan Tiga Dunia

Saya baru saja membaca pidato Karl Popper yang disampaikan di University of MIchigan, pada 7 April 1978! 34 tahun yang lalu! Tidak tebal, hanya 25 halaman. Judulnya singkat: Three Worlds. Tentu ini tidak ada hubungannya dengan film ‘Tiga Hati Dua Dunia Satu Cinta’ atau ‘Negeri 5 Menara’.😉

Popper yang berasal dari Austria ini dan lebih banyak dikenal karena teori falsifikasinya (‘lawan’ teori verifikasi) itu membagi dunia menjadi tiga tingkatan:

  • ‘Dunia 1’ yang berisi dunia fisik. Batu dan bintang adalah contohnya.
  • ‘Dunia 2’ adalah dunia proses atau pengalaman. Kalau kita bicara tentang kegalauan, misalnya, itu ada di ‘dunia 2’. Baik pengalaman sadar dan tidak sadar juga masuk dalam dunia ini. Ini adalah dunia ‘pengalaman subjektif’. Semua proses berpikir yang bersifat konkret masuk ke dunia ini.
  • ‘Dunia 3’ adalah dunia yang berisi produk hasil pemikiran manusia. Contohnya: rumus matematika, teori, lagu, dan simponi. Semua konten hasil pemikiran yang bersifat abstrak masuk ke dalam dunia ini.

Lukisan adalah ‘dunia 3’ kalau dianggap sebagai konten hasil ‘pemikiran’ pelukisnya. Karenanya, Popper tidak setuju kalau lukisan dianggap sebagai ‘ekspresi diri’. Seharusnya bagi pelukis, yang lebih penting adalah lukisannya bukan dirinya.Tambah bingung? Sama!

Contoh lain. Sebuah buku, secara fisik adalah ‘dunia 1’, tetapi pemikiran yang ada di dalamnya adalah ‘dunia 3’. ‘Dunia  3’ di sini ‘diperangkap’ di ‘dunia 1’. Bisa jadi ‘dunia 3’ yang sama dapat terperangkap dalam ‘dunia 1’ yang berbeda, seperti buku dengan isi yang sama diterbitkan dalam sampul dan ukuran yang berbeda. Ketika kita membakar buku tersebut, maka ‘dunia 1’ akan musnah, tetapi ‘dunia 3’, ide yang dikandung buku masih dalam otak penulis, dan dapat berpindah ke dalam ‘dunia 2’ ketika seseorang membaca buku tersebut. Ketika seseorang membaca sebuah tulisan di sumber yang lain, mungkin akan berkomentar, “Kethoke masalah ini sudah dibahas di buku itu deh“. Ini adalah ‘dunia 2’, dunia pengalaman subjektif. Kita juga bisa berkomentar, “Buku ini lebih bagus daripada buku itu”. Kini kita masuk ke ‘dunia 3’. Tambah mumet kan?😉 Kelihatannya, saya juga.😉

Lah ngapain baca ‘ginian’? Kayak tidak punya aktivitas yang lebih menarik atau kelebihan waktu. Sama sekali tidak.

Saya ingin mancari jawaban atau lebih tepatnya inspirasi untuk menjelaskan proses sebuah ide (dunia 3) diterjemahkan ke dalam sebuah dunia fisik (dunia 1). Dalam konteks penelitian saya, misalnya, ide ‘layanan satu atap’ atau dalam bahasa Inggris ‘one-stop shop’ ternyata diterjemahkan secara berbeda-beda di banyak kabupaten/kota. Ide ini sendiri sebetulnya terkait dengan ide ‘joint-up government’ yang menjadi mantra Tony Blair ketika menjadi perdana menteri Inggris.

Dengan serta-merta mungkin beberapa sahabat menjawab: konteks berperan. Ya, salah satunya. Pertanyaannya, bukan konteks berperan atau tidak, tetapi ‘bagaimana’ proses ide tersebut dikontektualisasikan, diterjemahkan. Teori yang ada, salah satunya, ‘circulating ideas’ yang merupakan varian dari Teori Institutional bercita-rasa Scandinavia memberikan inspirasi untuk menjelaskan fenomena ini. Ada proses imitasi, penerjemahan, dan penyuntingan ide. Hanya saja, teori ini nampaknya tidak mempunyai kosa kata yang cukup untuk menjelaskan bagaimana proses penerjemahan dan penyuntingan tersebut terjadi.

Masalah ini sama ketika saya melakukan wawancara untuk mencari jawaban mengapa dampak eGovernment kok berbeda-beda. Seorang informan dengan antusias mengatakan, “Komitmen, komitmen, dan komitmen.” Itu bukan jawaban yang saya cari , meskipun bermanfaat. Pertanyaan lanjutan saya: bagaimana komitmen bupati/walikota dalam ‘menular’ ke anak buah? atau bagaimana prosesnya? Inilah menariknya.Tidak ada jawaban ‘serta-merta’ yang dapat diberikan.

‘Tiga Dunia’-nya Popper, ingin saya digunakan untuk menjelaskan fenomena ini. Karena ide tentang ‘layanan satu atap’ misalnya, sebelum diimitasi telah dilepaskan dari konteksnya. Dengan cara itulah, ide menjadi ‘terlihat’ dapat diimitasi. Dianggap bebas konteks. Baru ketika akan diimplementasikan ke dalam konteks lain, ada proses penerjemahan dan penyuntingan. Dalam proses ini akan ditemui ‘aturan penyuntingan’ yang seringkali tidak tertulis dan cenderung implisit. Contohnya: praktik sehari-hari, kapasitas institusi, kesiapan sumber daya manusia, dan institusi.

Penerjemahan ide di lapangan juga ternyata bukan ‘proses sekali jadi’. Ada banyak intrik, ada banyak negosiasi kepentingan, dan lain-lain.

Dunia ide menurut Popper masuk dalam ‘dunia 3’, dan dapat mengubah  ‘dunia 1’, tetapi harus melalui proses penerjemahan dan interpretasi subjektif dalam ‘dunia 2’. Terlihat genial ya? Mudah-mudahan.

Kristiansand, 16 Februari 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: