Musa, Khidzir, dan Ospek

Kisah Nabi Musa dan Khidzir adalah salah satu favorit saya. Saya masih ingat betul, guru ngaji saya di kampung membahas cerita Musa dan Khidzir dalam dua pertemuan ketika sedang mengkaji Tafsir Jalalain. Kisah tersebut bagi saya sangat relevan untuk dijadikan acuan dalam membedah beragam fenomena yang ada. Musa adalah simbol pemikiran syari’at, kata guru ngaji saya. Musa melihat yang tampak, tetapi di sisi lain, Musa juga kritis ketika menanyakan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan yang diyakininya.

Sebaliknya, Khidzir, yang namanya tidak masuk dalam 25 nabi populer, mewakili kaum ma’rifat. Khidzir, dengan ijin Allah, dapat melihat makna di balik setiap kejadian. Tidak jarang, seperti dikisahkan dalam Alqur’an, kedua titik tolak yang berbeda (syari’at dan ma’rifat) ini menimbulkan banyak konflik. Apakah berpikir dengan kacamata syari’at salah? Jelas tidak. Tetapi berpikir HANYA dengan kacamata ini dapat menyebabkan banyak masalah. Itulah sebabnya dalam mengkaji teks Alquran, kita diminta untuk melihat konteks, asbabun nuzul, sebab diturunkannya ayat. Dalam mengkaji teks Hadist, juga lebih baik jika mengetahui asbabul wurud, situasi sosial, kultural, dan psikologis ketika itu. Memahami teks dengan memasukkan konteks, bagi saya sudah melompati batas antara kacamata syariat dan ma’rifat.

Ketika seseorang menunjuk bulan dengan jari telunjuknya, apa yang kita lihat? Orang syari’at mungkin akan fokus ke jari telunjuk, tetapi bagi orang ma’rifat yang dilihatnya adalah bulan. Bukan penunjuknya, tetapi yang ditunjuk. Dalam kamus Husserl, filsuf Eropa yang dikenal dengan diskursus fenomenologi, syari’at cenderung melihat sesuatu yang immanen (‘immanence‘) dari sebuah fenomena, dan tidak bisa (berusaha) menjangkau yang transenden (‘transcendence‘)). Keindahan dalam warna-warni bunga, deburan ombak, arak-arakan awan, kicauan burung, aurora kutub utara, sebagai contoh, yang terlihat adalah sesuatu yang immanen, sedang pemikiran transenden akan membimbing kita kepada Sang Pencipta yang Mahaindah. Memahami keindahan yang immanen — meminjam bahasanya Bourdieu, filsuf asal Perancis — tidak membutuhkan refleksivitas yang tinggi. Tidak memerlukan kontemplasi. Untuk mencapai sesuatu yang transenden, perlu refleksivitas yang cukup, untuk menangkap makna di balik setiap fenomena.

Lah, apa hubungannya dengan Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus, atau apapun namanya)? Kalau kegiatan ini dilihat HANYA sebagai pelestarian tradisi tanpa makna, didominasi dengan teriakan dan bentakan, tugas-tugas yang aneh; artinya kita terjebak dalam kacamata syari’at. Ospek bagi saya adalah alat, dan perlu diinfus makna ke dalamnya. Dengan demikian, kegiatan seaneh apapun, seberat apapun, akan dilihat secara berbeda; karena kacamata ma’rifat yang digunakan. Ospek yang berhasil seharusnya memfasilitasi mahasiswa menjadi generasi lebih mandiri, pejuang, dan tahan banting; dan tidak menjadikan mahasiswa generasi yang ‘mbok-mboken’, gampang mengeluh, dan suka ‘ngeles’. Tentu Ospek hanya rintisan awal, dan mengandalkan semuanya terjadi hanya karena Ospek juga pemikiran yang tidak masuk akal. Hei, Nabi Muhammad saja perlu 20 tahun, sejak mendapatkan SK Kenabian, untuk membangun masyarakat Mekkah dan Madinah menjadi beradab.

Yang menjadi masalah untuk Ospek bagi saya bukan kegiatannya yang aneh atau berat, tetapi justru bagaimana makna dan tujuan didefinisikan di awal dan dipahami oleh semua panitia (dan juga peserta, meski ini agak berat, terutama dari generasi yang belum mandiri dalam berpikir). Kalau kita rujuk kisah Musa (peserta Ospek?) dan Khidzir (panitia?), bukankah melobangi perahu dan membunuh anah kecil juga tindakan yang ‘aneh’. Dalam banyak pelatihan dan workshop, juga banyak tindakan aneh (‘silly‘) yang saya temukan dan lakukan.

Untuk para kritikus, tidakkah kegiatan yang terlihat aneh dan berat itu hanya sebagai penampakan immanen yang perlu dimaknai? Atau memang kita sudah terjebak pada tradisi immanen yang cenderung melihat segala sesuatu dari kulitnya saja. Tentu saja, beragam teknik dapat diperdebatkan. Tentu saja, saya bukan pemuja kekerasan, meski terminologi ‘kekerasan’ sendiri perlu didefinsikan kembali. Kontak fisik sudah pasti kekerasan; tetapi apakah teriak itu sebuah kekerasan, misalnya? Teknik mana yang paling efektif, nampaknya ada satupun jawaban yang dapat memuaskan semuanya.

Untuk panitia perlu diingat, bahwa Ospek adalah sebuah ‘rekayasa sosial’ dalam sebuah skenario yang disepakati. Ketika ‘sutradara’ meneriakkan ‘cut!‘, maka kemarahan dan semua emosi yang muncul sebelumnya harus segera hilang. Mau tidak mau, kalau panitia ingin diberi predikat ‘aktor’ yang hebat, harus dapat melakukannya. Kalau tidak? Jangan salahkan yang menilai dan para kritikus.

*Tulisan ini adalah respon pribadi atas sebuah diskusi hangat di sebuah tembok grup Facebook yang saya ikuti.

Kristiansand, 29 September 2012

2 comments
  1. Assalamualaikum,

    ada point yang menurut saya cukup menarik pak

    “Untuk para kritikus, tidakkah kegiatan yang terlihat aneh dan berat itu hanya sebagai penampakan immanen yang perlu dimaknai? Atau memang kita sudah terjebak pada tradisi immanen yang cenderung melihat segala sesuatu dari kulitnya saja. Tentu saja, beragam teknik dapat diperdebatkan. Tentu saja, saya bukan pemuja kekerasan, meski terminologi ‘kekerasan’ sendiri perlu didefinsikan kembali. Kontak fisik sudah pasti kekerasan; tetapi apakah teriak itu sebuah kekerasan, misalnya? Teknik mana yang paling efektif, nampaknya ada satupun jawaban yang dapat memuaskan semuanya.”

    ospek dalam tiap kampus dan jurusan berbeda-beda kadarnya pak, kadang banyak yang mengkritik bahwa tradisi ospek penuh dengan kekerasan. mungkin jika dalam forum sebuah Almamater kampus maka tolak ukurnya adalah ospek dalam kampus dan jurusan tersebut.

    pada ospek FTI UII ini sepengetahuan saya tidak ada yang namanya kontak fisik jika sebuah bentakan dianggap kekerasan maka saya rasa banyak pemimpin perusahaan bisa diadukan ke ranah hukum. namun kenyataannya tidak kan?. saya juga ingin tahu bagaimana caranya mengatur manusia yang jumlahnya sampai ratusan dengan mental dan prilaku yang berbeda-beda dengan tanpa bentakan.

    yang sangat saya sesalkan banyak sekali kritikan namun sang pengritik justru tidak pernah terlibat langsung dalam kegiatan kemahasiswaan, jadi terulang lagi seperti apa yang bapak tuliskan diatas [“Atau memang kita sudah terjebak pada tradisi immanen yang cenderung melihat segala sesuatu dari kulitnya saja”] dan bahkan ada yang mengkritik padahal dia bahkan bukan merupakan produk dari Almamater tersebut.

    bagi saya pribadi, dalam sebongkah kotoran sapi pun ada manfaat yang bisa kita ambil jika kita mau melihat sisi positifnya.
    dalam ospek pun ada nilai-nilai yang bisa mahasiswa baru dapatkan. dan setahu saya itulah fungsi dari kakak “pemandu” untuk memberi penjelasan atas apa saja kegiatan yang tengah terjadi dalam acara ospek.

    mohon maaf jika ada salah dalam bertutur🙂

    • Fathul Wahid said:

      Wa’alaikumussalam Mas Kurnia Iriawan(?),

      Terima kasih telah mampir dan untuk komentarnya yang super. Setuju dengan sebagian besar item dalam komentar njenengan Mas. Pengalaman pribadi setiap orang nampaknya berpengaruh dalam membentuk pola pikir Mas. Termasuk contoh yang njenengan berikan di atas. Karenanya, sebelum mengkritik, akan sangat baik jika kita coba dahulu ‘sepatu orang yang akan dikritik’.

      Lagi pula, bagi saya, masa mahasiswa adalah ‘masa untuk melakukan banyak eksperimen, termasuk eksperimen sosial’. Bagi saya, asal mahasiswa mempunyai argumen yang kuat untuk melakukan sesuatu, lakukan. Kalau salah, orang akan berkomentar, “maklum masih mahasiswa”.🙂 Kalau benar, “hebat ya, masih mahasiswa sudah seperti itu”. Hal yang sama sulit kita dapatkan di luar kampus, termasuk di dunia kerja yang ‘keras’.🙂

      Met wiken Mas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: