Homo Luden

Dalam beberapa minggu terakhir, di kampus, dalam rangka memeriahkan milad, diadakan beberapa acara. Mulai yang bersifat akademik, sampai pertandingan olahraga untuk keakraban. Banyak hal menarik yang saya amati, khususnya dalam pertandingan olahraga. Saya kebetulan ikut berpartisipasi dalam beberapa cabang dengan niat untuk keakraban. Pada sebuah pertandingan sepakbola antar fakultas, tidak jarang, atau malah diharapkan, dijadikan forum “ledek-meledek” tanpa motivasi melecehkan, seperti kata Tukul Arwana. Jika suasana seperti yang terjadi, yang ada hanya kebahagiaan. Menang-kalah urutan nomor 27, alias tidak menjadi prioritas.

Namun ada saatnya, saya temukan, seorang kawan yang cukup tegang jika timnya tidak menang. Bahkan tersenyum pun sulit. Seakan-akan pertandingan sepakbola adalah pertandingan hidup dan mati. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Saya teringat sewaktu mendapatkan matakuliah Olahraga di kampus sewaktu saya kuliah S1. Salah satu materi yang dibahas, selain praktek atletik dan permainan, adalah filsafat olahraga. Yang masih teringat dengan baik sampai saat ini adalah ungkapan John Huizinga dalam memandang manusia. Huizinga mengatakan bahwa manusia adalah homo luden, makluk bermain. Padanan istilah ini sebetulnya sudah ada dalam Al-Quran sewaktu Allah mengatakan dalam QS Al’An’am, bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Tidak kekal.

Pertanyaannya adalah, apakah lantas kemudian manusia menghadapi kehidupan dunia dengan sembrono dan tidak serius? Tentu saja jawabannya, tidak. Demikian juga dengan pertandingan olahraga. Serius adalah keharusan. Sportivitas adalah wajib. Tetapi semuanya tidak lantas menafikan kebersamaan dan persahabatan. Jika yang ini diabaikan, maka yang menang akan sombong dan yang kalah atau “keloro-loro”, sakit hati.

Semangat inilah nampaknya yang harus mewarnai dalam setiap tindakan kita. Serius. Usahakan sebaik kita mampu. Hasil akhir ada di tangan Allah. Seperti kata Nabi Syu’aib dalah QS Hud ayat 88, “Saya hanya mengharapkan kebaikan semampu saya. Dan kesuksesan hanya karena Allah”. Jadi jadilah pemain dengan sepenuh hati.

2 comments
  1. dimas said:

    hehehe.. saya kasian sama orang yang terlalu serius menghadapi sesuatu yang seharusnya di buat senang.. orang tertawa dia berfikir keras..

  2. rayyan said:

    “Kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Tidak kekal”

    Memang benar. Agaknya kita terlalu banyak bergurau dan bermain – main.
    Mudah – mudahan Allah mengampuni.. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: