Pekerja media yang sembrono

Anda boleh menganggap tulisan ini penting atau tidak. Hanya saja saya merasa miris dengan pekerja media yang sembrono. Kisah pemboikatan pekerja media sebah stasiun televisi swasta nasional sewaktu sembrono menyampaikan berita Merapi beberapa waktu yang lalu adalah satu satu saja. Dalam keseharian kalau Anda meluangkan waktu sedikit mengikuti berita di televisi, mungkin Anda akan temukan kesembronoan yang lain. Kemarin (02/05/2011) sebuah stasiun televisi swasta menuliskan teks yang mengiringi berita “Merayakan Kematian Obama” (menggunakan “b” dan bukan “s”). Setelah itu saya amati banyak tata bahasa Indonesia yang digunakan dalam teks di layar kaca yang dilanggar dengan sembrono.

Kesembronoan ini bisa jadi karena ketidakpedulian atau memang kemampuan bahasa pekerja media yang perlu ditingkatkan. Bagi sebagian orang mungkin dianggap sepele, tetapi kalau kita sadar bahwa pengaruh medi sangat luar biasa dan tidak jarang menjadi rujukan, maka kesalahan yang sepelu bisa berakibat jangka panjang. Beberapa contoh kesembronoan berbahasa yang muncul dalam layar kaca misalnya, tidak bisa membedakan antara “ditegakan” dan “ditegakkan”, “Lemhannas” (dengan “n” dua — ini yang benar) dan “Lembanas” (dengan satu “n”). Sewaktu Adji Mas’aid meninggal, tulisan yang muncul bukan “Selamat jalan …” melainkan “Selamat tinggal …”. Awalan “di” dan kata depan “di” juga sering disamakan dengan brutal. Masih banyak contoh lain yang bisa Anda temukan, jika Anda sedikit peduli mengamati baik sengaja maupun tidak.

Nampaknya kepedulian (dan kehati-hatian dan atau kemampuan berbahasa) pekerja media yang mengawal masalah ini perlu ditingkatkan. Jika tidak, alih-alih berperan dalam mendidik masyarakat dalam berbahasa Indonesia yang benar, media justru akan memberi contoh yang salah.

4 comments
  1. Afif said:

    kayaknya bukan melulu permasalahan bahasa aja, Pak. persfektif aktual serampangan yang menjadi masalah juga. mereka ingin menjadi nomor satu dalam mengbarkan berita, tapi sayang menabrak rambu tata bahasa dan keakuratan berita.

  2. Alam said:

    kenyataannya memang seperti itu.. mungkin tata bahasa yang amburadul itu juga dipengaruhi penggunaan SMS ya pak, hehehe.. 5m5 4L4y..

  3. karena meninggal maka ucapannya selamat tinggal? (lol)

    dan satu lagi, sangat mengganggu sekali,
    “Pembohongan Publik” dan “Kebohongan Publik”.
    yang sering dipakai adalah, yang terakhir. (doh)

    • Fathul Wahid said:

      setuju mas. memang dalam bahasa, di manapun, pasti ada pengecualian. cuma kalau semua pengecualian, ya bisa ‘berabe’.😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: